bernasnews — Upaya pencegahan pernikahan dini bagi remaja harus dilakukan secara masif, selain berdampak pada kesehatan reproduksi pernikahan dini juga menyebabkan persoalan sosial kemasyarakatan terutama terkait dengan tumbuh kembangnya kualitas generasi penerus (SDM).
Edukasi pencegahan pernikahan dini tentu akan lebih mengena apabila media yang dipakai merupakan sebuah perangkat yang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari remaja kekinian yaitu teknologi informasi berupa gawai (gadget), smartphone salah satunya.
Adalah sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri Farah Nabila Nur Afifah dan Anggi Anggreini prodi Teknologi Pendidikan, Dinda Rahmawati prodi Bimbingan dan Konseling serta Nandini Rohmi prodi Pendidikan Matematika. Mereka ini mengembangkan media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan risiko dan upaya pencegahan pernikahan dini bagi remaja usia awal, dinamai Fun Augmented Reality Early-Age Merried berbasis Augmented Reality yang disingkat Funarri.
Karya ini berhasil meraih pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang PKMRSH tahun 2023.
Farah Nabila Nur Afifah mengemukakan, bahwa pernikahan dini ber dampak negatif dari aspek kesehatan, psikologis, ekonomi, hingga sosial yang disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang menjadikan para remaja tidak mengetahui berbagai dampak negatif dari pernikahan anak.
Menurut Farah, penting untuk mempromosikan pendidikan, kesadaran, dan aksesibilitas terhadap sumber daya yang mendukung pernikahan yang sehat dan dilakukan dengan pertimbangan matang. “Media yang tepat untuk remaja usia awal adalah media yang berhubungan dengan gadget seperti berbasis Augmented Reality lantaran dapat merangsang pola pikir dalam berpikiran kritis terhadap sesuatu masalah dan kejadian yang ada pada keseharian,” ungkap dia, saat ditemui di Kampus UNY.
“Funarri diharapkan dapat merubah pola pikir remaja awal sehingga dapat mengubah keadaan perasaan, pikiran, dan tingkah laku untuk menghindari tindakan yang berpotensi terjadinya pernikahan dini,” lanjut Farah.
Anggi Anggreini menambahkan, pop up book Funarri berisi 6 materi yaitu pengertian pernikahan dini, faktor penyebab pernikahan dini, berbagai dampaknya seperti dampak pada kesehatan, dampak psikologis, dampak pendidikan serta dampak keberlangsungan rumah tangga. Selain itu, juga ada materi solusi agar tidak menikah dini, pacaran tidak sehat/perilaku beresiko, mitos fakta pernikahan dini dan pergaulan remaja.
“Harapannya Funarri dapat memberikan pengetahuan risiko pernikahan dini sehingga dapat dilakukan pencegahan sekaligus dapat memberikan informasi edukatif dalam upaya pencegahan pernikahan dini di Masyarakat,” beber Anggi.
Sementara Dinda Rahmawati menjelaskan, pengembangan Funarri menggunakan model Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery and Evaluations (ADDIE) dimana merupakan model yang melibatkan tahap-tahap pengembangan dengan lima langkah/ fase pengembangan. “Tahap analisis data dilakukan untuk mencari data yang sesuai untuk bahan materi dan model media yang akan diberikan kepada remaja awal mengenai risiko pernikahan dini,” ujar Dinda.
Dikatakan, analisis data dilakukan dengan pengambilan data jumlah pernikahan dini DIY di Kemenag. Kemudian melakukan analisis kebutuhan materi dengan melakukan wawancara pada bagian Latbang di BKKBN DIY, serta melakukan wawancara pada guru BK dan mata pelajaran untuk mengambil data media yang diperlukan siswa serta melalukan analisis kebutuhan siswa dengan menyebarkan angket kepada siswa.
“Desain pop up book cetak Funarri terdiri dari desain cover, nama tim penyusun, petunjuk penggunaan, isi materi, daftar pustaka dan penutup. Setelah semua desain selesai dilanjutkan dengan validasi ahli media terlebih dahulu baru dicetak menjadi buku,” terang Dinda. (*/ ted)












