News  

Wishnubroto Widarso : Purna Tugas Tidak Berarti Berhenti Bermakna

Wishnubroto Widarso di antara koleksi buku-buku. (Foto : Dokumentasi)

bernasnews – Setiap ada awal pasti ada akhir. Demikian pula dalam proses menjadi karyawan, pegawai atau profesi tertentu. Patokan pensiun atau purna tugas dapat bermacam-macam. Dapat secara alamiah, pensiun dini, atau sebab lain. Tidak semua purna tugas dapat mensyukuri dan tetap bersemangat untuk melakukan sesuatu yang bermakna di saat tidak aktif bekerja resmi lagi. Satu diantara sosok yang tidak mau “berhenti berkarya” setelah purna tugas sebagai dosen bahasa Inggris itu adalah Wishnubroto Widarso (66).

“Saya pensiun tahun 2016, setelah tiga puluh (30) tahun mengajar di Akademi Bahasa Asing Santo Pignatelli, Solo. Apakah pengajaran saya bermakna bagi mahasiswaku? Saya tidak tahu persis. Namun seperti perumpamaan tentang menebar benih, tentu ada juga yang jatuh di lahan yang subur dan tumbuh. Demikian setidaknya saya menghibur diri sendiri. 

Saya juga ingat kata-kata Emily Dickinson, penyair wanita Amerika abad ke-19, Hidupmu tidaklah sia-sia bila jasamu hanyalah mengembalikan lagi anak burung yang jatuh dari sarangnya ke dalam kehangatan induknya di dalam sarang,” kata Wishnuboto Widarso kepada bernasnews, saat berkunjung di kediaman putri sulung di Bekasi, Senin (4/9/2023).

Menulis buku-buku kecil

Wishnu yang pendidik dan penulis produktif ini mengaku termasuk dosen yang out of the box dengan arti yang khas miliknya. Dia sering berada di luar “kotak” kampus, bukan dalam artian yang kasat mata, tapi yang tan kasat mata. Dia hampir tidak pernah melakukan penelitian yang selumrahnya dituntut dari dosen. Namun dia menulis buku-buku kecil tipis yang membantu kawula muda agar hidupnya termotivasi secara positif. Buku-buku semacam ini di penerbit Kanisius, Yogyakarta disebut “pengembangan diri”. 

Selama rentang waktu tiga windu (1989-2013) buku-buku kecilnya ada 16 judul diterbitkan dan dipasarkan oleh penerbit itu. Dia menyatakan bahagia karena dapat mewujudkan apa yang semula hanya berproses di dalam benak. Lebih dari itu dia bahagia karena tahu bahwa dia berguna bagi sesama. 

“Apakah ini claim yang jemawa? Tidak saya kira. Claim saya sama dengan claim abang becak yang sudah mengantar seseorang dari tempat yang jauh ke tempat yang ingin dituju. Tentu ada imbalannya. Tapi jasanya itulah yang menjadikan si abang becak bermakna. Imbalan bagi penulis buku disebut ‘royalti’. What matters most is not the money but the service you give to young people. Yang paling penting bukanlah uangnya tetapi pelayananmu pada kawula muda, yaitu membantu mereka memperoleh pencerahan,” kata lansia muda dua cucu ini.

Wishnu mengemukakan, memasuki abad ke-21, terutama dasawarsa kedua, buku kertas mulai susah dipasarkan karena Internet mulai menjadi daya tarik baru. Apalagi, waktu itu, si BB (Blackberry) mulai merebak. Penerbit besar pun cukup berat menghadapi hempasan badai Internet dan BB. 

“Buku-buku saya yang mulai habis tidak dicetak ulang. Royaltinya hanya diharapkan dari buku-buku yang masih tersisa di toko. Ya, sudah, tidak apa-apa. Semuanya memang ada musimnya. Musim semi tak selamanya ada. Akan datang musim gugur. Tapi bagi orang yang optimis atau yang memahami bahwa apapun akan berubah, saya pun tahu: there will be another Spring. Akan ada musim semi yang baru,” kata dia.

Menurut penuis buku Thanks Giving dari Menit ke Menit (2008) ini, musim semi yang baru bukanlah untuknya, tetapi lebih untuk anak-anaknya. Yang sulung (Keshia dan suaminya, Swandaru) sudah memberi dua cucu, satu perempuan (Nadia) dan satu laki-laki (Joshua).

Yang bungsu (Jessy) sudah mapan bekerja. Musim semi adalah milik mereka. Peran dia sekarang berganti : bukan lagi dosen yang menuntun mahasiswa meraih cita-cita, tetapi eyang kakung yang angon atau mengikuti, mengawasi cucu-cucunya.

Apakah eyang kakung atau opa atau grandpa lalu berhenti menulis buku? Ya tidak. Tak akan pernah! Never! Hanya sekarang yang dia tulis bukan lagi buku-buku pengembangan diri yang laku dijual, tapi buku-buku reflektif (penuh permenungan). Kalau perlu, pencetakannya dibiayai sendiri dan dibagikan kepada komunitas terbatas saja. Jikapun ada satu atau dua sobat yang mau menikmati hasil permenungannya, itu sudah cukup baginya. 

“Saya ingat lagi kata-kata Emily Dickinson. Saya sekarang banyak menulis buku-buku semacam itu. Memasuki usia 60 tahun saya menuliskan kembali apa-apa yang pernah saya alami dari masa kecil sampai tua dan berkesan dalam hidup sehingga patut dicatat. Buku itu saya beri judul Kronikel Asal, dirancang dan dicetak oleh Rosemata. Memasuki usia 64 tahun atau tumbuk ageng, saya menuliskan komentar atas buku-buku yang pernah saya baca dan ikut memberi pencerahan di waktu lalu maupun sekarang. Bukunya saya beri judul: Toemboek Ageng – Obrolan tentang Buku,” kata dia.

Doakan hidup bahagia

Ditanya dari mana dana untuk membuat buku-buku indie atau yang dirancang dan dibiayai sendiri itu? Wishnu menjawab sambil tertawa, dari Istrinya yakni Melania Lulut Mariani dan anak-anak yang menyokong. Selain itu. juga ada mantan mahasiswi Rosy Juliati yang ingin berbuat baik pada mantan dosennya. Kebetulan dia punya percetakan besar di Jakarta. Dia berkali-kali dengan ikhlas membantu Wishnu mencetakkan buku-buku indienya. 

Sebelum Kronikel Asal, Rosy sudah mencetakkan Sailing Overseas on A Cruise Ship (2015); Milestone (2016); Kelakar Kapal Pesiar (2017) Kronikel Asal (2018); Yang Terlewat dari Kisah Tempo Doeloe (2019); Doa Bapa Kami Menurut Pemahaman Seorang Awam (2022); 77 Tahun Proklamasi dan 495 Tahun Jakarta? (2023). 

“Semoga semua orang yang pernah berbuat baik pada saya hidup berbahagia!” kata Wishnubroto Widarso mengakhiri perbincangan. (mar)