News  

Diskusi Bulanan Satupena : Pantun Tersingkir Oleh Kaum Terdidik  

Ketua Satupena DIY Sutirman Eka Ardhana (berdiri depan nomor lima dari kiri) dan peserta diskusi bulanan Satupena DIY di Griya Adbhipraya Yogyakarta, Minggu (20/8/2023).(Foto : Humas Satupena DIY)

bernasnews – Tersingkirnya pantun sebagai bagian penting dari Sastra Indonesia atau Nusantara tidak lepas dari peran kaum terdidik yang mendapatkan wawasan sastra Barat, yang disebut sebagai sastra dunia, dalam artian bobot, bukan sebagai keragaman. Sajak-sajak Chairil Anwar dianggap sesuai dengan ‘bobot’ tersebut. Pantun lalu disimpan sebagai ‘barang’ budaya, bukan lagi sebagai daya budi.

Demikian pendapat sastrawan Simon HT dalam diskusi bulanan Persatuan Penulis Indonesia Satupena DIY bertajuk Satupena Berpantun di Griya Abhipraya Purbonegoro, Jalan Pangurakan 01, Gondomanan, Yogyakarta, Minggu (20/8/2023).

Tampil sebagai pembicara pada kesempatan ini Ketua Satupena DIY Sutirman Eka Ardhana yang menulis buku Pantun Mat-Matan (Agustus 2023) dan membagikannya kepada peserta yang hadir. Sebagai moderator adalah Japhen Wisnu Djati dan pembawa acara Ana Ratri. Hadir pimpinan Griya Abhipraya Dandi dan 12 orang anggota Satupena.

Menurut Eka Ardhana, pantun itu juga puisi. Karena puisi itu masuk sebagai karya sastra, maka pantun jelas juga masuk dalam karya sastra. Ini pasti, tidak dapat diganggu gugat. Bahkan hingga kini di kawasan masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Melayu pantun masih tetap terjaga dan mendapat tempat yang terhormat.

“Saya lahir dan setengah dibesarkan di Bengkalis Riau. Sejak kecil, saya sudah merasakan denyut pantun itu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, denyut dan degup pantun itu tidak pernah hilang. Jadi saya selalu rindu pantun,” kata kakek beberapa cucu yang menulis sejak SMP ini. 

Salah satu karya pantun Sutirman Eka Ardhana berikut ini : 

Dari Sentolo ke Kalibawang/ Singgah sebentar di warung makan/ Di Malioboro banyak yang dikenang/ Kisah menggoda dan cinta tersisa.

Ke Sentolo berburu merpati/Buat dibawa ke Purwodadi/ Malioboro dulu sungguh berarti/ Tempat mencari cinta dan puisi.  

Pantun sangat dikenal masyarakat

Pada bagian lain, Simon HT melihat bahwa ketika pantun disingkirkan dari sastra yang ‘hidup’, sesungguhnya pantun telah mencapai tingkat kerumitan yang canggih. Lihat saja sebagai contoh, hubungan sampiran dengan isi, lalu jumlah suku kata pada tiap baris, dan juga irama pembacaan atau  pendendangan yang monoton sangat cocok dengan durasi panjang hikayat atau kisah sehingga pendengar dapat khusuk sebagaimana zikir. 

“Tidak kalah pentingnya, pantun sangat dikenal masyarakat. Semua orang bisa bikin pantun, bisa mengapresiasi, dengan begitu mudah pula digunakan sebagai alat ungkap keresahan sosial,” kata dia dengan senyum khasnya. (mar)