bernasnews – Dalam kehidupan setiap insan di dunia ini, siapa yang tidak suka dan tidak mau sehat? Jawaban umumnya tentu suka dan mau sehat. Namun dalam kenyataan, tidak semua orang dapat selalu sehat, tidak peduli muda atau tua, lelaki atau perempuan, memiliki pekerjaan atau tidak, dan sebagainya.
“Karena orang tidak selalu sehat dan kualitas kesehatan setisp orang berbeda, maka kita perlu mengenal dan memaknai hal itu sejak awal. Sebab sehat itu pada dasarnya adalah menyenangkan, dan senang itu menyehatkan. Dengan memahami sehat secara jelas dan detil, kita akan mengetahui bahwa sehat dan sakit pada setiap orang itu memiliki kondisi yang berbeda-beda,” kata Pimpinan Klinik INTAN Yogyakarta dr. Asdi Yudiono kepada bernasnews, di kantornya Jalan Masjid No. 3 Pakuakualaman, Yogyakarta, Selasa (15/8/2023).
Menurut dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta ini, ada delapan hal yang mendukung pengertian sehat yang perlu kita perhatikan. Pertama, genetik dasar yang kita miliki itu tidak sama satu dengan lainnya. Dua, pekerjaan dengan penjabarannya yang berbeda-beda. Tiga, perlunya istirahat yang seimbang. Empat, stress jiwa dan fisik. Lima, olahraga yang baik sesuai kebutuhan. Enam, pola makan yang empat sehat dan lima sempurna. Tujuh, lingkungan hidup yang kita tinggali. Delapan, keberuntungan yang tidak dapat diprediksi.
Dalam kehidupan saat ini, lanjut ayah lima putra putri dan seorang cucu ini, perlu pengawasan secara dini anak-anak di era milenial yang berdampak terhadap kesehatan. Diantaranya makanan tidak sehat, gadget, lahan olahraga yang sempit, social responsibility atau kepekaan sosial yang kurang karena individualisme kompetisi dan bukan kolaborasi yang positif. Dampak lainnya adalah karena beban pelajaran yang memaksa anak-anak tidak berkesempatan rileks.
Genetik dasar berbeda
Asdi Yudiono mengatakan, bila seseorang memiliki genetik dasar yang lemah, maka akan berdampak atau memiliki risiko terhadap komponen-komponen lainnya. Bila memiliki konsep genetik dasar yang baik, meski yang bersangkutan kurang mampu menjaga kesehatan dengan baik, dia dapat jarang sakit. Sebaliknya, mereka yang menjalani kehidupan sehat dengan baik, namun karena genetik dasarnya lemah maka yang bersangkutan dapat sering sakit. Ini karena genetik dasar setiap insan berbeda.
“Oleh karena itu, setiap orang harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi dan aktivitas masing-masing untuk memiliki derajat kesehatan yang terbaik. Inilah makanya, setiap orang dapat memiliki umur yang berbeda, dapat sehat dan dan sakit yang berbeda. Itu semua terkait dengan delapan hal tadi,” kata alumnus SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun 1986 ini.
Dengan demikian, mengetahui atau memperhatikan kondisi kesehatan diri sejak awal akan dapat mendukung kehidupan yang menyenangkan. Segala sesuatu dalam kehidupan memang harus diawali dengan kegiatan yang baik sehingga akan mendukung kehidupan yang lebih baik pula.
Kembali ke konsep bahwa sehat itu menyenangkan dan senang itu menyehatkan maka kita harus dapat mengisi kehidupan sehat secara jasmani, rohani dan sosial kemasyarakatan. Setidak-tidaknya, dengan mengenal dan memaknai sejak awal akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Demikian dr. Asdi Yudiono yang lembaganya Klinik INTAN bermitra dengan bernasnews Digital Academy (bDA). (mar)











