bernasnews – Kepergian seseorang menghadap Sang Pencipta tidak selalu dihadapi dengan kesedihan saja, namun juga dapat dengan suka cita berpengharapan atas kehidupan penuh damai di surga. Hal itu juga dilakukan oleh keluarga besar Djoko Pekik (85). Maestro lukis itu meninggal Sabtu (12/3/2023) dan dimakamkan di makam seniman Girisapto Bantul, DIY, Minggu (13/8). Sebelum pemberangkatan jenazah, diadakan acara penghormatan seniman kepada almarhum.
Pinjam istilah pelawak Jawa Timur Kirun yang tampil bersama pelawak Marwoto pada acara itu, seniman Yogyakarta dan luar kota “tumplek bleg” melepas kepergian Djoko Pekik. Mereka tampil berkarya sesuai dengan talenta masing-masing sebelum pemberangkatan jenazah di rumah duka Tamantirto, Kasihan, Bantul, Minggu (13/8) pagi hingga siang hari.
Hadir pada kesempatan itu antara lain seniman Kartika Afandi, Romo GP Sindhunata, SJ., Butet Kartaredjasa, Untung Basuki, Didik Nini Thowok, Tulus Warsito, Nanang Wijaya, Prof Dwi Marianto, MFA, PhD, Suwarno Wisetrotomo, Hari Budiono, dan lain-lain.
Sebagian besar seniman melukis bersama, pantomim, atraksi badut, baca puisi, pentas musik, dan sebagainya. Suasana kompleks rumah almarhum yang rimbun dengan aneka pohon sungguh penuh dengan aktivitas seni, ungkapan bela sungkawa dan sekaligus suka cita keselamatan abadi, temu kangen para seniman dan pelayat umum.
Diperoleh keterangan, hasil melukis bersama on the spot itu akan dipamerkan dalam sebuah acara peringatan mengenang Djoko Pekik. Selain itu, menurut seniman Kirun juga akan tampil berekspresi seni pada kesempatan itu.
Seniman tari humor Didik Nini Towok kepada bernasnews mengatakan punya kenangan khusus dengan Djoko Pekik ketika dia tampil menari pada acara pameran masestro lukis itu di Jakarta. Selain itu, mereka sering bertemu saat beli jenang gempol di Pasar Patuk Yogyakarta.
“Ya, dia seniman luar biasa yang tampil sederhana. Orangnya ramah, mudah bergaul dengan sesama seniman dan siapa saja,” kata Didik yang ramah meladeni banyak pelayat untuk foto bersama.
Perupa Hari Budiono yang melukis batu hitam atau watu ireng (bhs Jawa) mengatakan bahwa seperti itulah penggambaran tentang Djoko Pekik. Batu hitam beda dengan batu apung yang tidak mudah hanyut oleh arus air. “Dalam kehidupan, kita memang sebaiknya seperti itu. Tidak asal ngeli, ikut arus. Tapi harus punya prinsip, tapi tetap luwes,” kata Redaksi Majalah BASIS yang khusus menggarap cover majalah budaya itu.
Akademisi ISI Prof Dwi Marianto, MFA, PhD. asyik melukis Memanah Matahari karya patung Djoko Pekik yang dipasang di atas rumah lukisan almarhum. Dia ingin membuat momen saat dengan sesuatu yang bermakna, soal hasilnya nomor dua. 
Perjalanan hidup yang berbeda
Pelukis kaligrafi Ashadi mengatakan, perjalanan maestro lukis Djoko Pekik memang sangat beda dengan pelukis generasi kini. Zaman almarhum Djoko Pekik, Affandi, Batara Lubis, Sudjojono, Basuki Abdullah dan sebayanya itu tampil jauh berbeda. Mereka melukis masih bernuansa perjuangan dan minim dana untuk mengadakan pameran. Para pelukis itu sangat jarang untuk memamerkan karya lukisannya.
Djoko Pekik sekitar tahun 1970-an sempat jualan lurik dan buka penjahit di sebelah timur simpang empat Wirobrajan, Yogyakarta. Dengan mata pecaharian yang sangat beda jauh dengan profesinya itu, almarhum seakan mempuyai kebebasan dalam berkarya. Maka sebagian besar karyanya mengambil tema yang sederhana. Misalnya penari dan tukang kendang. Karya dia yang berjudul “Mesin Tua” menggambarkan seekor kerbau besar dengan warna-warna tertier atau warna berat menjadi khas lukisan dia.
“Djoko Pekik melukisnya dengan warna-warna yang mencolok, seperti merah dijejerkan dengan hijau jadi warna dua koplementer. Kalau saya menilai lukisannya memang sederhana, seperti tampilannya sehari hari. Tapi temanya membuat orang geleng-geleng kepala. Dia mengangkat temanya kebanyakan kehidupan di desa. Kemungkinan tema itu dijadikan lukisan dari kehidupan almarhum sehari-hari yang lahir di Purwodadi.
Seperti ketika beliau melukis Berburu Celeng, pelukis lain tak sampai berpikiran mencari tema seperti itu. Berburu Celeng cukup membuat pelukis-pelukis lainnya takjub karena harganya yang mencapai satu miliar rupiah itu,” kata Ashadi kepada bernasnews.
Menurut anggota Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta ini, perjalanan Djoko Pekik memang termasuk unik, karena pernah dibuang ke Pulau Buru. Zaman sekarang tidak ada pelukis yang diasingkan yang notabene tidak dapat berkarya karena memang mau dibunuh secara pelan-pelan pada rezim Orde Baru. Semoga almarhum ditempatkan yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Sosok yang lengkap
Djoko Pekik di mata Dosen Jurusan tari FSP ISI Yogyakarta Dra Daruni, M.Hum. adalah sosok yang lengkap. Menurut Daruni, pertama, sebagai seniman yang mengubah derita menjadi karya yang berharga, bernilai sejarah. Amarah yang disalurkan disulap menjadi enerji kasih yang mengampuni.
Kedua, sebagai suami, dia selalu tahu cara memelihara cinta kasih kepada istrinya yang setia dalam suka dan duka. Antara laion terbukti selalu mencuri waktu berduaan jajan di resto favorit. Itu bukti cinta terpelihara kepada pasangan hidupnya.
Ketiga, sebagai ayah, dia selalu penuh perhatian, berusaha tidak merepotkan, sedapat mungkin melakukannya sendiri. Misalnya, sering jumpa belanja di warung beli pepaya, tomat atau wedang tomat wajib menurut Pak Pekik, dan lain-lain.
“Pak Pekik seorang tokoh berjiwa besar, rendah hati, penuh welas asih,. Sregep srawung, ora wegahan, njagong maupun melayat. Sugeng tindak, Swarga langgeng tentrem ndherek Gusti,” kata Daruni, penulis buku Menjadi Penari Humor ala Didik Ninik Thowok, kepada bernasnews saat ikut Misa Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Djoko Pekik di kediaman almarhum, Sabtu (12/8) malam. (mar)












