Djoko Pekik Bersuara untuk Politik Kerakyatan, Kini Telah Tiada

Djoko Pekik. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Maestro lukis Djoko Pekik (85) meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, Sabtu Kliwon (12/8/2023 pukul 08.19 WIB. Misa requiem dilaksanakan di rumah duka Sembungan,Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (12/8) pukul 19.00 WIB oleh Romo Sukendar, Romo Sindhunata, Romo Martosudjito, Romo Budi Subanar, dan Romo Kirjito. 

Keluarga yang ditinggalkan almarhum adalah isteri Christina Tini Purwaningsih, kemudian  Petrus Gogor Bangsa dan Bernadeta Agus Indri Astuti (anak/menantu), Paulus Loko Nusa dan Alberta Kris Indrarti Lastyarini (anak/menantu), Bernadeta Inten Lugut Lateng dan Nur Setiawan (anak/mantu), FX. Nihil Pakuril (anak), Elizabeth Ori Kemarung dan AY Laksamana S. (anak/menantu), Antonius Sengat Cantang dan Christina Rully Perwitasari (anak/menantu), Fransisca Layung Sore dan Yunizar Giovani Hasibuan (anak/menantu), Parang Wungu (anak), beserta cucu dan buyut.

Romo Gregorius Budi Subanar kepada bernasnews mengartakan, Djoko Pekik adalah seorang pelukis tiga zaman yakni orde lama Soekarno, orde baru Soeharto, dan era reformasi. Pada masing-masing periode dia bersuara untuk politik kerakyatan dalam karyanya.

“Pada pameran terakhir pasca pandemi Covid 19, kebetulan saya menulis untuk katalognya. Pertama, Pak Djoko Pekik tetap berkarya dan ikut pameran selama pandemi. Kedua, dia mampu bertahan dan menyayangkan orang-orang muda yang tidak tahan terhadap pandemi. Ketiga, pameran setelah pandemi, politiknya bukan lagi politik kekuasaan tetapi pengalaman eksistensial,” kata rohaniwan yang budayawan ini.

Berburu Celeng

Maestro Djoko Pekik kelahiran Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, 2 Januari 1937. Pendidikannya eks Akademi Seni Rupa Indonesia (1957-1962). Karya lukisnya yang fenomental adalah Berburu Celeng pada tahun 1998 yang menggambarkan keadaan para pemimpin Indonesia pada masa Orde Baru. Dari karya itu, dia dikenal sebagai pelukis satu milyar.

Dalam wawancara dengan media nasional yang disiarkan melalui youtube, Djoko Pekik mengatakan bahwa karya lukisnya harus tercipta indah dan sekaligus mampu bersuara kepada publik. Karya lukisnya adalah alat perjuangan.

Selama hidupnya, dia bersyukur telah melampaui dua peristiwa besar. Yakni selamat dari masa lalu pasca 1965 dan selamat dari pandemi Covid 19. Maka setelah selamat dari pandemi, dia berkomitmen terus melukis seolah esok harinya akan meninggal. (mar)