News  

Tetap Berdarah Wartawan Meski Telah Jadi Dubes RI di Vatikan

Dubes LBBP RI untuk Takhta Suci Vatikan Michael Trias Kuncahyono (nomor empat dari kiri) foto bersama dengan sesama rekan wartawan di masa lalu seusai Misa Syukur di Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, Yogyakarta, Senin (17/7/2023) petang. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sekali menjadi penulis, jangan berhenti menulis, demikian kata Katherine Graham yang pernah berkarya di Washington Post sebagai chairman selama tiga puluh tahun. Komitmen ini kiranya juga melekat pada diri Michael Trias Kuncahyono (65), Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia di Takhta Suci Vatikan. Bahkan meski telah menjadi diplomat karier, dia mengaku masih berdarah wartawan, sebuah profesi yang dia geluti di masa sebelumnya selama puluhan tahun.

“Ya, saya masih berdarah wartawan. Lebih dari empat puluh tahun saya menekuni profesi ini. Kaget juga ketika dipercaya dan mendapat penugasan Presiden Joko Widodo menjadi Dubes RI di Vatikan. Saya mohon doa restu kepada Monsinyur, para romo, bapak ibu dan saudara yang hadir pada misa syukur petang ini.

Saya pernah menjadi putera altar dan aktif di Gereja Gamping saat masa remaja. Banyak kenangan indah yang membantu saya menjalani kehidupan selanjutnya. Terima kasih kepada para romo satu angkatan saat di seminari menengah Mertoyudan dalam misa ini. 

Saya juga harus berterima kasih kepada adik-adik saya yang mempersiapkan acara ini. Saya sendiri tinggal hadir, merekalah yang menyiapkan segala sesuatunya,” kata Trias Kuncahyono saat memberi sambutan singkat seusai Misa Ekaristi Syukur atas penugasannya sebagai Dubes RI di Takhta Suci Vatikan. Misa syukur dipimpin Romo Floribertus Hasto Rosariyanto, SJ di Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, Yogyakarta, Senin (17/7/2023) petang.

Wakil Dewan Paroki C. Luppi Satesti dalam sambutannya menyatakan bahwa penugasan Trias Kuncahyono sebagai Dubes RI di Vatikan juga merupakan kebanggaan bagi umat Paroki Gamping. Trias kemudian menambahkan ucapan terima kasih atas perayaan misa syukur tersebut untuk disampaikan kepada Pastor Paroki Gamping Romo Y. Nugroho Tri Sumartono, Pr yang tidak dapat hadir karena ada tugas ke Keuskupan Agung Semarang. 

Selesai misa syukur, kemudian diadakan pertemuan ramah tamah di halaman utara gereja. Trias dengan ramah melayani ucapan selamat dan foto bersama dengan beberapa kelompok atau individu umat yang hadir. Pertemuan malam itu ibaratnya menjadi sarana kangen-kangenan berbagai komunitas, mulai dari rekan seminari, WKRI, rekan kuliah, umat paroki, sampai sesame rekan wartawan.        

Liputan jurnalistik

Menurut biodata di beberapa bukunya, Trias Kuncahyono pernah meliput berbagai peristiwa internasional. Misalnya, Revolusi People’s Power di Filipina (1986); tiga kali pemilihan presiden Filipina; Pemilu Parlemen (1993) dan Presiden Rusia (1996); KTT Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Presiden Rusia Boris Yeltsin di Helsinki. Finlandia; Pemilihan Raya di Malaysia, dan berbagai pertemuan di ASEAN, konferensi internasional misalnya di Cile dan Perancis.

Kemudian dia juga pernah melakukan perjalanan jurnalistik ke beberapa negara Eropa Timur, beberapa Negara Timur Tengah, India, Afrika Selatan, dan dua kali mengunjungi Irak, meliput pemilu di Pakistan (2008), dan sebagainya.

Buku-buku yang pernah dia tulis antara lain, Dari Damascus ke Baghdad, Catatan Perjalanan Jurnalistik; Bulan Sabit di Atas Baghdad; Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish; Paus Yohanes Paulus II, Musafir dari Polandia; Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir; Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis; Jerusalem 33, Imperium Romanum, Kota Para Nabi dan Tragedi di Tanah Suci; Musim Semi Suriah, Anak-anak Sekolah Penyulut Revolusi, dan lain-lain. 

Kumpulan tulisan beragam isu internasional di kolom Kredensial sebuah harian nasional juga telah dibukukan bertajuk Kredensial : Refleksi 130 Kisah tentang Manusia dan Peradaban. Kolom itu berusaha melakukan refleksi atas berbagai konflik dan krisis internasional dengan situasi terkini di tanah air.

“Buku ini berisi cerita-cerita tentang masa lalu yang melaluinya kita dapat memahami konteks masa kini dan masa depan,” kata Trias saat diskusi buku di Fisipol UGM Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu. (mar)