bernasnews – Kasus pembunuhan berencana dan mutilasi yang menimpa diduga korban R (20) asal kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung masih terus didalami oleh pihak kepolisian DIY.
Terbaru, Dirreskrimum Polda DIY Kombes FX Endriadi mengungkap motif berdasarkan hasil pemeriksaan sementara kepada kedua pelaku mutilasi. Endri menyebut antara kedua pelaku dan korban disebut telah saling mengenal sejak 3-4 bulan belakangan melalui sebuah grup Facebook.
Meski tak menjelaskan secara gamblang grup apa yang mempertemukan ketiganya, Endri menyebut ada aktivitas tak wajar yang terjadi.
“Yang pertama antara korban dengan terduga pelaku dua orang ini, saling kenal. Mereka kenal melalui media sosial dan tergabung dalam media sosial Facebook,” kata Dirreskrimum Polda DIY Kombes FX Endriadi, Selasa (18/7/2023).
“Terkait dengan sementara bahasa kami adalah kegiatan tidak wajar. Untuk lebih tepatnya nanti kami akan melakukan pemeriksaan terhadap psikologi atau kejiwaan terhadap yang bersangkutan,” bebernya.
Endri menceritakan dari perkenalan di Facebook itu pelaku W mengundang RD untuk datang ke Jogja. Mereka menemui korban dan mengajak ke kos pelaku W di Krapyak, Triharjo, Sleman, pada Selasa (11/7) atau yang menjadi lokasi mutilasi korban R.
“Kemudian karena mereka ini tergabung dalam sebuah komunitas yang mempunyai aktivitas tidak wajar mereka melakukan kegiatan berupa kekerasan satu sama lain dan terjadi berlebihan. Sehingga mengakibatkan korban tersebut meninggal dunia,” ucapnya.
Karena panik korban meninggal dunia, kedua pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan cara melakukan mutilasi. W dan RD sengaja membuang potongan tubuh korban ke sejumlah tempat agar tidak ditemukan, termasuk berusaha menghilangkan sidik jari korban yang sudah terpotong.
Terkait potongan tubuh korban mutilasi, Endri mengungkap kedua pelaku menyebarkannya di sejumlah titik. Hingga saat ini, baru ditemukan di lima titik termasuk di lokasi pertama penemuan tangan dan kaki di Sungai Bedog, Turi, Sleman, pada Rabu 12 Juli 2023 petang lalu.
“Lokasi lain yakni di Kali Nyamplung, Tempel, di lokasi ini ditemukan daging dan organ dalam serta pakaian dan sandal milik korban. Kemudian selanjutnya di Sungai Nglinting, Sedogan ini ditemukan potongan daging,” ungkapnya.
Dari temuan-temuan potongan-potongan itu , Endri mengatakan akan memeriksakan ke DNA untuk memastikan bahwa potongan itu berasal dari tubuh korban R.
Wadirreskrimum Polda DIY AKBP Tri Panungko menambahkan saat ini polisi tengah melakukan digital forensik terhadap ponsel para pelaku untuk menelusuri aktivitas di grup WA, Facebook dan media sosial lainnya yang digunakan untuk berkomunikasi antara pelaku dan korban.
“Saat ini kami sudah membentuk tim satgas siber untuk monitoring terkait digital forensik yang kami sedang lakukan supaya apa isi dari pembicaraan dari grup-grup itu (terungkap),” pungkasnya. (lan)












