News  

Dubes RI untuk Vatikan Trias Kuncahyono : “Ini aku, utuslah aku”

Trias Kuncahyono saat dilantik sebagai Dubes LBBP untuk Takhta Suci Vatikan, Senin (26/6/2023). (Foto : Istimewa)

bernasnews – Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Takhta Suci Vatikan Trias Kuncahyono (65) diminta Presiden Joko Widodo untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Dubes LBPP adalah Pejabat Negara Eksekutif yang diangkat Presiden yang mewakili Negara dan Kepala Negara Republik Indonesia di suatu negara tertentu atau lebih atau pada organisasi internasional.

Mantan wartawan media nasional itu dilantik Presiden di Jakarta, Senin (26/6/2023) bersama 11 Dubes baru lainnya dengan arahan umum penguatan ekonomi menjadi fokus tugas mereka. Atas penugasan istimewa ini, Trias – demikian panggilan sehari-harinya – bersama keluarga besarnya mengucapkan syukur melalui Misa Ekaristi di Gereja Katholik Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (17/7/2023) pukul 17.00 WIB. Tema yang diangkat adalah “Ini aku, utuslah aku” (Yeyasa 6 : 8).

Sekretariat Jenderal DPR Indra Iskandar sebagaimana dikutip media nasional, Senin (12/12/2022) menyatakan, “Sebenarnya prosesnya (pengajuan nama calon Dubes baru ke DPR) sudah lama, tetapi harus dilengkapi persyaratannya terlebih dulu sebelum diajukan ke DPR. Selain proses di Kementerian Luar Negeri, juga administrasi di Sekretariat Negara sebelum diajukan ke Presiden dan selanjutnya ke DPR.”

Meski sudah pensiun di media nasional dengan jabatan terakhir Wakil Pemimpin Redaksi, Trias masih tetap aktif menulis di berbagai media nasional dan media sosial. Dia menyebut dirinya sebagai peminat masalah-masalah internasional dari Middle East Institut karena banyak bertugas di Timur Tengah.

Salah satu buku karya Trias Kuncahyono adalah Tahrir Square – Jantung Revolusi Mesir (2013). Pengamat politik Timur Tengah dan Dunia Islam Hasibullah Satrawi mengemukakan, Mesis dikenal sebagai Ibu Dunia. Banyak sejarah tercipta di dan dari sana, mulai dari kisah cinta hingga kuasa, mulai dari kisah ilmu pengetahuan hingga peradaban kemanusiaan. Mesir adalah negeri 1.000 kisah bagi ribuan atau mungkin jutaan orang di dunia. Buku ini sangat menarik.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Broto Wardoyo mengatakan, “Buku yang ‘Trias banget’ ini mampu menjadi catatan perjalanan dengan bobot akademik yang baik. Kekuatan akademiknya ditunjukkan dari catatan-catatan kritis penulis terhadap kajian-kajian dati pakar kajian Timur Tengah mengenai apa yang terjadi di Mesir.  

Salah satu penugasan Ttias Kuncahyono saat masih aktif sebagai petinggi di medianya adalah ikut membidani Harian Bernas Yogyakarta, selain media lokal di bebarapa kota lainnya. Dia alumni Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Yogyakarta. Sebelumnya, dia menyelesaikan sekolah menengah di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. (mar)