bernasnews – Penulis sejati adalah penulis yang konsisten berkarya tulis. Mau dan mampu merawat “jalan kreativitas kepenulisan”. Menyampaikan pandangan, kesan, refleksi kehidupan, imajinasi sampai harapan secara tertulis. Khusus untuk karya puisi, yang penulisnya dinamakan penyair, memiliki ciri khas tersendiri. Dia hadir dibutuhkan atau tidak dibutuhkan oleh masyarakat, toh tetap dapat diciptakan, dibukukan dan dibacakan dalam suasana romantis.
Suasana seperti itu mengemuka dalam acara peluncuran antologi puisi puisi bertajuk “Jalan Puisi” karya 14 penyair Yogyakarta kelahiran 1950-an oleh komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) di halaman Museum Sandi, Jalan Faridan M. Noto No 21, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (17/6/2023). Selain peluncuran buku, acara juga diisi dengan pembacaan beberapa karya puisi oleh penulisnya sendiri maupun pembaca tamu, dan hiburan lagu dengan organ tunggal. Hadir dan memberikan sambutan Kepala Museum Sandi Setya Budi, Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY Dwi Pratiwi, dan Koordinator SBP Ons Untoro.
Seniman Emha Ainun Nadjib yang hadir pada acara ini mengemukakan, karya puisi lahir dari proses pemaknaan yang tidak mudah dari diri penulis maupun lingkungan kehidupannya. Memang tidak semua orang suka dan paham puisi. Maka bagi mereka yang masih suka menulis puisi, kemungkinannya tiga hal yakni : manusia gila, manusia kesepian dan manusia sejati.
Sastra Malioboro
Buku Antologi Puisi Penyair Kelahiran 1950-an “Jalan Puisi” terbitan Tonggak Pustaka bekerjasama dengan Sanggar Ragam (2023) memuat karya puisi 14 penyair dengan pengantar Ashadi Siregar, refleksi penyair Mustofa W. Hasyim dan Fauzi Absal, editor Ons Untoro dan Indro Suprobo, serta desain sampul oleh Vincensius Dwimawan.
Ke-14 penyair itu adalah Fauzi Absal, Landung Simatupang, Sutirman Eka Ardhana, Jabrohim, Emha Ainun Nadjib, Marjuddin Suaeb, Mustofa W Hasyim, Simon Hate, Darwis Khudori, Wadie Maharif, Suminto A. Sayuti, Krishna Mihardja, Enes Pribadi, dan Ons Untoro.
Ashadi Siregar dalam pengantar mengemukakan ada suasana nostalgia yang melingkupi pengumpulan puisi ini. Kata kunci dari sentimentalitas masa lalu itu adalah interaksi dalam kompetisi dan persahabatan antarcalon penyair sepanjang Malioboro.
“Selama pergaulan dengan Umbu Landu Paranggi dalam kaitan dengan para remaja yang dibinanya, kesan yang kuat saya tangkap, bahwa dia berusaha menjaga agar para calon penyair itu tidak terkontaminasi oleh politik. Boleh dikata, Umbu berhasil menjaga mandala Malioboro bagi calon penyair agar tetap steril, jauh dari sikap anti Soeharto khususnya dan anti Orde Baru umumnya,” tulisnya. (mar)












