bernasnews – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Kulon Progo menjadi tuan rumah pertemuan Forum Komunikasi (Forkom) Perpustakaan dan Kearsipan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di pondok makan Mbeji, Jalan Tentara Pelajar Beji, Wates, Kulon Progo, Senin (19/6/2023).
“Sebagai tuan rumah, kami akan menyajikan materi dialog bertema Mengasah Kemampuan Manulis bagi Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dengan narasumber seorang praktisi media.
Ingin rasanya punya pustakawan dan arsiparis yang mampu menulis dengan baik. Membawa pikiran berimajinasi, serasa sedang berada di Perpusda. Pembaca yang belum pernah ke Perpusda tentu jadi ingin datang ke Perpusda,” kata Kepala DPK Kulon Progo Drs. Duana Heru Supriyanta, M.M. kepada bernasnews, Kamis (15/6).
Tembang dolanan bocah
Secara terpisah diperoleh keterangan, DPK Kulon Progo cukup sering menerima kunjungan wisata buku sebagai bagian dari layanan institusi ini dan diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada perpustakaan dan kearsipan.
Dolanan-dolanan aja padha tukaran/ Sing gedhe ngemong sing cilik sing cilik manut sing gedhe.
Tembang dolanan bocah yang pada suatu zaman pernah hits ini kembali bertalun pada even Wisata Buku di DPK Kabupatan Kulon Progo, Jalan Sugiman, Margosari, Pengasih, Kulon Progo, belum lama ini.
Liriknya yang unik, sederhana, dan penuh makna mampu memikat siswa-siswi peserta wisata buku dari Sekolah Dasar Negeri Demen yang berjumlah 18 siswa dan tiga guru pendamping ini. Dengan tiga kali latihan, mereka pun sudah hafal dan berani tampil.
Tembang dolanan Jawa sengaja dipilih menjadi tema Wisata Buku kali ini oleh tim pemandu wisata, Nurul Fahmayanti, SIP dan Y. Indarto.
“Kami sengaja memilih tema budaya Jawa khususnya tembang dolanan agar anak-anak mengenal dan bangga dengan kekayaan budayanya,” kata Kak May, sapaan akrab Nurul Fahmayanti, SIP.
Tembang lain yang sempat dibawakan pada kesempatan ini ialah Siji Loro Telu : Siji loro telu, astane sedheku/ Mirengake Bu Guru manawa didangu/ Papat nuli lima, lenggahe sing tata/ Ora pareng sembrana mundhak ora bisa.
Gema lantunan tembang-tembang bocah membangkitkan gariah, setelah menit-menit awal berlangsung datar oleh paparan pengenalan seputar perpustakaan. Usai perkenalan dan basa-basi penyambutan, tiba-tiba Kak May nimbrung ke depan menemani Yua. Cuap-cuap berdua layaknya talk show mampu mencipta suasana. Langkah cerdas Kak May berhasil. Peserta wisata buku terpancing masuk pada obrolan pemandu dan larut.
Mereka yang tadinya diam-pasif, menjadi berani dan aktif. Lontaran pertanyaan seputar perpustakaan berhasil merangsang daya nalar mereka yang polos dan spontan, lugas, lucu, serta menggelitik. Membantu merefresh ingatan tentang apa yang mereka lihat ketika memasuki gedung, pemandu memperlihatkan gambar locker dan lemari katalog.
Pada saat yang sama, pemandu menanyakan kepada mereka apa nama gambar itu. Dengan antusias, mereka berebut menjawab. Geli melihat mereka asal jawab dan berceloteh, namun bangga setidaknya sudah berani tampil. Setelah tahu nama, berikutnya ditanyakan lagi apa fungsi lemari tersebut. Kembali mereka berebut menjawab. Suasana sungguh hidup.
Sukses menghafal tembang dolanan, anak-anak diminta menerjemahkan tembang tersebut dalam Bahasa Indonesia. Banyak yang mencoba, beberapa berhasil, sebagian besar masih salah.
Langkah ini menjadi cara efektif menyelamatkan budaya yang semakin terasing dari pemangkunya. Anak-anak gembira nembang sembari mendapat banyak pengalaman dan hal baru.
Inilah wisata buku DPK Kabupaten Kulon Progo. Target pemandu sederhana yakni para siswa mampu melantunkan satu saja tembang dolanan yang penuh makna itu ketika sudah di rumah. (*/mar)












