News  

Pj Walikota : Warga Yogyakarta Diharapkan Sukses dan Sejahtera

Proses pembersihan Tombak Kyai Wijaya Mukti yang dilakukan di Balai Walikota Kota Yogyakarta, Selasa (6/6/2023). (Foto: Ricardo Marino)

bernasnews – Pemerintah Kota kembali melakukan Jamasan Tombak Pusaka Kyai Wijaya Mukti di Ruangan Nakula Balai Kota Walikota Yogyakarta, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (6/6/2023).

Pj Walikota Yogyakarta Singgih Raharjo, S.H, M.Ed. mengatakan, Pusaka Tombak Wijaya Mukti ini merupakan pemberian dari Sultan Hamengku Buwono X ke Kota Yogyakarta dan dilakukan jamasan karena pada tanggal 7 Juni 2023 adalah Hari Ulang Tahun pemerintah Kota Yogyakarta. Sehingga pada tanggal 6 Juni 2023 dilakukan pembersihan atau jamasan Tombak Wijaya Mukti yang dikeluarkan saat upacara HUT.

“Semoga sesuai dengan namanya Wijaya itu jaya, Mukti itu sejahtera, sehingga masyarakat Kota Yogyakarta akan sukses dan sejahtera. Itu merupakan doa yang kami upayakan, dan sebagai Pemerintah Kota Yogyakarta tentu hadir untuk dapat melayani masyarakat Yogyakarta,” kata Singgih. 

Kejayaan mukti

Lurah Patehan Kraton Yogyakarta Gunawan Sigit Putranto mengatakan, jamasan ini merupakan jamasan alit tidak seperti jamasan bulan Suro yang sepenuhnya akan diluruhkan minyak-minyaknya. Biasanya jamasan alit dilakukan dalam rangka peringatan HUT Pemerintah Kota Yogyakarta dan peringatan yang biasanya tidak bertepatan pada bulan Suro. 

Tombak Kyai Wijaya Mukti merupakan tombak pemberian Sultan Hamengku Buwono X pada tahun  tahun 2000. Tombak ini merupakan buatan zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, kurang lebih tahun 1921. 

Tombak Wijaya Mukti ini dari namanya saja sudah mengandung kejayaan mukti. Artinya, (kita semua) tercukupi kebutuhan  baik itu secara finansial maupun kebutuhan lainnya.  

“Harapan saya, tetap lestarikan budaya Yogyakarta khususnya yang adiluhung ini. Jangan sampai dengan adanya ritual-ritual seperti ini dikaitkan dengan hal-hal yang berbau syirik. Itu harus dipisahkan antara budaya dan agama. Jangan sampai ada penafsiran miring tentang hal ini,” kata Gunawan Sigit. (mar/Ricardo Marino, Mahasiswa Sosiologi UAJY).