bernasnews – Talkshow Berbagi Harapan bertema Buku Tetap Memajukan Peradaban Bangsa Walau Minim Perhatian dilaksanakan secara live streaming youtubne akun Katolikana tv, Senin (5/6/2023). Acara ini dipandu oleh Lukas Ispandriarno sebagai host. Hal yang menjadi topik pembicaraan pada talkshow kali ini adalah seputar masihkah kita membaca buku? Bagaimana literasi bangsa? Mengapa minim perhatian pemerintah pada pengadaan buku? Dan bagaimana peran perpustakaan? Narasumber acara ini Pustakawan Universitas Gadjah Mada dan Pengurus Forum Pengurus Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Puwani Istiana, Manajer Penerbitan PT Kanisius Rosalia Emmy Lestari, dan Dosen Universitas Multimedia Nusantara Ignasius Haryanto.
Tombak peradaban bangsa
Purwani Istiana mengatakan, Indonesia memiliki banyak sekali perpustakaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sehingga ini menjadi modal besar sesungguhnya untuk negara kita meningkatkan minat baca. Kalau kita bicara buku, buku merupakan tombak peradaban bangsa. Bagaimana kita sama-sama berupaya sebagai pendidik dan juga penerbit Kanisius pastinya juga ingin bersama-sama memajukan peradaban bangsa melalui buku dan perpustakaan itu tempatnya buku-buku. Jadi disana tidak hanya kita (sarana) penyimpan, tetapi kita berusaha untuk buku-buku yang ada di perpustakaan itu termanfaatkan.
Berbicara tentang minat baca apakah minat baca itu menjadi masalah di negara kita? Menurut Purwani, ini menjadi masalah. Ini merupakan salah satu masalah pendidikan kita, bangsa kita, pendidikan di negara kita.
“Menurut saya, ini karena sejak kecil sehari-hari kita tidak dibiasakan dengan yang namanya buku. Jadi generasi saya tidak dikenalkan dengan buku, kemudian tidak banyak tersentuh dengan yang namanya buku dan pada zaman dahulu buku di perpustakaan seolah-olah hanya menjadi sebuah punishment misalnya tidak mengerjakan tugas, kamu dapat tugas membaca buku membuat rangkuman. Nah ini yang kemudian seolah-olah buku itu menjadi suatu bentuk atau media untuk hukuman bagi peserta didik kita sehingga di lingkungan kita yang namanya membaca itu tidak terkondisikan dengan baik.
Sementara kondisi ini belum teratasi, di generasi kita sekarang anak-anak kita ini dihadapkan pada budaya instan, anak anak cenderung mendapatkan informasi itu ingin cepat. Kalau ini berdampak terus-terusan sehingga mereka tidak mendapatkan pengetahuan secara komprehensif menyeluruh dari sebuah buku,” kata dia.
Menurut dia, kita belum punya budaya baca yang kuat sementara buku perpustakaan dengan banyaknya tersebar di semua wilayah Indonesia tetapi belum benar-benar mendekatkan buku ini pada generasi generasi muda.
Masalah cukup serius
Rosalia Emmy Lestari mengemukakan, aat ini pihaknya menjadi lebih selektif melihat perkembangan dan untuk saat ini kita sudah tidak dapat memisahkan buku cetak dan buku digital karena eranya memang menuju digital. Pihaknya dapat menyediakan bahan bacaan yang tidak hanya buku cerita, tetapi begitu dicetak menarik.
“Melihat hasil penelitian yang dilakukan UNESCO seperti yang diikuti Katolikana, memang minat baca ada masalah cukup serius dengan rendahnya tingkat minat baca di Indonesia. Tapi ada hal yang menarik, sebenarnya ada informasi yang dilansir oleh Perpusnas tentang tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia sebenarnya bertumpu pada tahun 2022 tahun 2021. Salah satu indikator untuk menghitung tingkat kegemaran membaca tadi dengan frekuensi membaca buku per minggu kemudian juga durasi akses internet untuk bahan bacaan kalau melihat ini cukup menggembirakan. Karena ada pertumbuhan dibandingkan dengan data hasil penelitian internasional. Memang mungkin belum terlalu signifikan tapi bahwa ada pertumbuhan itu sesuatu yang bagus untuk ke depannya,” kata dia.
Menurut dia, sebenarnya kalau minat baca ini lebih pada hasil, muara dari ekosistem literasi yang masih harus ditata kembali. Kalau ekosistem literasi ini dapat ditata, maka minat baca dapat bertumbuh.
Gairah mencari buku
Menjawab pertanyaan dari host mengenai pemahaman bagaimana tentang rendahnya minat baca, Ignasius Hariyanto mengemukakan dengan menggambarkan kira kira situasi ketika dia masih mahasiswa di akhir tahun delapan puluhan awal sembilan puluhan.
“Kita itu mencari yang namanya buku yang baik itu sulit. Artinya kalau misalnya kita anggap buku dari luar negeri misalnya ya. Tidak mudah untuk kami mencari dan kita biasanya malah berburu fotokopian saja itu sudah luar biasa betul rasanya. Gitu artinya untuk menunjukkan pada masa itu. Katakanlah informasi yang kami dapatkan dalam bentuk buku itu sangat terbatas, tapi justru gairah untuk mencari buku buku tersebut sangat sangat besar. Era itu banyak dikenal dengan ada kelompok. Ada banyak kelompok mahasiswa yang kemudian mendiskusikan satu bacaan tertentu kemudian mungkin menghasilkan tulisan dari sana. Itu kondisi di akhir delapan puluhan awal sembilan puluhan.
Kalau kita lihat sekarang, saya kira kita ini sangat melimpah dengan segala macam informasi mau itu dibentuk elektronik dan lain-lain. Tapi anehnya justru dalam masa kebanjiran informasi seperti ini minat baca jadi apa ya mungkin kita pertanyakan karena saya tidak bisa menilai secara spesifik apakah memang niat baca kita itu rendah atau bagaimana.
Saya kira minat baca adalah cuma mungkin apakah ini soal akses orang ingin mendapatkan buku apakah mudah atau tidak ini di luar soal buku pelajaran mungkin. Kalau buku pelajaran mungkin kita bisa, caranya bisa berbeda lagi. Tetapi saya melihat sebenarnya minat baca cukup besar kalau misalnya banyak orang menyebut toko buku ada beberapa yang berliburan tetapi yang tetap bertahan ada. Banyak toko buku lebih kecil yang lebih independen dan ternyata memiliki pengunjung yang banyak,” kata dia. (mar/Ricardo Marino, Mahasiswa Sosiologi UAJY)












