bernasnews — Energi merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan masyarakat modern. Hingga saat ini sebagian besar kebutuhan energi dunia ditopang oleh energi yang berasal dari fosil, seperti minyak bumi, gas, dan batubara.
Di Indonesia, energi fosil tersebut menyumbang lebih dari 70 persen kebutuhan energi dan cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pertambahan pendududk, dan perubahan gaya hidup.
Dominasi penggunaan energi fosil dan teknologi pemanfaatannya saat ini merupakan salah satu penyebab naiknya pencemaran emisi karbon, terutama oleh kendaraan, konsentrasi gas rumah kaca, hingga meningkatnya temperatur udara dipermukaan bumi, dan berbagai dampak negative lainnya.
Sementara kebijakan mengurangi emisi karbon secara global semakin terkendala dengan situasi politik dunia dimana satu tahun terakhir terjadi perang antara Rusia vs Ukraina. Dua negara tersebut merupakan sumber utama pemasok kebutuhan gas di Eropa. Sehingga dampak rantainya adalah kenaikan harga gas dan ancaman krisis energi. Alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut, negara Eropa kembali menggunakan batubara dan minyak yang notabene berasal dari fosil.
Salah satu dari berbagai kebijakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang menimbulkan pencemaran lingkungan dan udara seperti di atas adalah mempelopori penggunaan kendaraan listrik di semua kegiatan transportasi. Dengan kendaraan berbasis listrik, secara bertahap pencemaran dapat berkurang.
World Economic Forum di Davos Switzerland beberapa waktu lalu mengangkat tema utama tentang Global Energy Crisis. Demikian juga dengan G-20 Summit yang berlangsung di Bali, Indonesia tahun lalu para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G-20 yang merupakan 20 negara yang mempunyai GDP terbesar di dunia telah berkomitmen untuk mengembangkan industri kendaraan listrik di masa depan.
Berkenaan itulah V STORK Indonesia bekerja sama dengan PT WIKA Industri Manufaktur, PT Pos Indonesia, PT Nalendra Halilintar Samudera, dan Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar acara Soft Launching QYLO dan Talk Show “Be Ready for Global Energy Crisis”, bertempat di Phoenix Ballroom The Phoenix Hotel Yogyakarta, Senin (20/2/2023).
Dalam sambutan pembukaan Dwiyacitta Nura Nugraha selaku Direktur V STORK Indonesia berkomitmen untuk mendukung industri kendaraan listrik yang seratus persen diproduksi di Indonesia sejak awal lantaran melihat kebutuhan akan kendaraan lisrik di masa depan. Pasalnya dunia akan mengalami krisis energi.
“V STORK Indonesia juga bekerjasama dengan V STORK Singapore sebagai pintu gerbang untuk menembus pasar kendaraan listrik di Asia dan dunia. Menurut Tan Kim Hock Komisaris V STORK Singapore, dunia sedang dalam transisi, menuju ke kendaraan listrik. Pasar kendaraan listrik dunia akan terbuka lebar dan terus meningkat dari waktu ke waktu,” beber Dwiyacitta.
Sementara Dekan Fakultas Bisnis UKDW Perminas Pangeran mengemukakan, bahwa topik riset dan roadmap yang telah disusun Fakultas Bisnis UKDW terkait dengan tema talkshow yaitu berupa environtmental, social and corporate governance.
Manager for Business Development for Overseas PT WIKA Industri Manufaktur, Gelora Yala mengungkapkan, sebagai produsen motor listrik di Indoensia sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam melakukan pengembangan industri kendaran listrik yang lebih ramah lingkungan, sehingga pihaknya siap mendukung kerjasama untuk pengembangan pasar kendaraan listrik ini.
Hal senada juga disampaikan Nanang Dwi Rianto Operation General Manager PT Pos Indonesia, yang menyambut baik langkah yang dilakukan V STORK Indonesia dan siap mendukung dalam hal tersedianya fasiltas kantor pos yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara Syarif Ahmad Zaki Assegaf Direktur PT Nalendra Halilintar Samudra berkeyakinan bahwa kerjasama ini akan dapat mengisi peluang pasar kendaraan listrik yang sangat terbuka di masa depan.
Dalam acara Talk Show “Be Ready for Global Energy Crisis”, Dr Fahmy Radhi ahli ekonomi energi UGM menyampaikan, bahwa dunia sedang menuju situasi yang sangat sulit karena ancaman krisis energi di masa depan. “Teknologi industri dan transportasi mau tidak mau, siap tidak siap harus mulai beralih ke penggunaan energi baru terbarukan yang tidak mengandalkan energi yang bersumber dari fosil,” kata dia.
Lanjut Fahmy berharap, dalam pengembangan industri kendaraan listrik nasional nantiny ada kendaraan nasional yang berjaya di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Mengngiat selama ini pasar kendaraan nasional sangat dikuasai oleh kendaraan asing, terutama dari Jepang dan Eropa.
Sementara Prof Agus Budiyono meyampaikan, bahwa kualitas SDM Indonesia tidak kalah dengan kualitas SDM negera-negara maju. Menurutnya, hal ini sudah terbukti dalam berbagai kompetisi teknologi internasional. “Kualiats SDM Indonesia sangat siap untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan termasuk kendaraan listrik,” tegas Prof Agus.
Direktur V STORK Singapore Wishnu Soehardjo menyatakan sangat siap untuk medukung V STORK Indonesia dalam memasuki persaingan kendaraan listrik di pasar global. Ke depan masyarakat dunia akan sangat membutuhkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
“Guna kepentingan itulah V STORK mengembangkan aplikasi QYLO, yang mampu menghitung berapa kilo penghematan energi yang dapat dilakukan dengan kendaraan yang lebih ramah lingkungan,” pungkas Wishnu. (*/ ted)












