Komunitas Sepeda ‘Tjeret Gosong’ Menjadi Host Event ‘Gowes Sabtu Pagi’

Sebagian peserta event 'Gowes Sabtu Pagi' foto bersama di kawasan heritage Masjid Mataram Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (28/1/2023). Foto: Kiriman Y. Sri Susilo.

bernasnews — Komunitas Sepeda ‘Tjeret Gosong’ yang anggoatanya terdiri dari berbagai profesi, menjadi tuan rumah penyelenggaraan agenda mingguan ‘Gowes Sabtu Pagi’. Event bersepeda tersebut diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas sepeda antara lain seperti Gowes Sabtu Pagi (GSP), BNB CC, Namburan, Alkid, BCB CC, Notaris CC dan sebagainya.

Event ‘Gowes Sabtu Pagi’ (GSP) merupakan kegiatan bersepeda setiap hari Sabtu pagi. Kegiatan tersebut diikuti 10 sampai dengan 40 penggowes. Kegiatan pada umumnya dilakukan di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, beberapa kali juga pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul.

Rute diawali dari Namburan Kidul, Njeron Beteng, Kraton menuju kawasan Jogja Tenggara, seperti wilayah Wirosaban, Giwangan, Jalan Imogiri, Jalan Pleret, Embung Potorono, Kawasan Cagar Budaya Kotagede dan Kopi Lumbung Mataran, Kotagede, Yogyakarta. Di tempat ngopi tersebut sebanyak 30 peserta beristirahat sambil sarapan. Setelah sarapan, seluruh peserta menuju tempat finish di kawasan Namburan Kidul. Total jarak yang ditempuh berkisar 27 kilo meter.

Koordinator Komunitas Sepeda ‘Tjeret Gosong’ Wahyu Wiryono mengemukakan, bahwa prinsip bersepeda itu untuk olah raga, rekreasi, pertemanan dan gaya hidup. Menurut dia, dimaklumi jika bersepeda pada saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Namun yang lebih penting dengan bersepeda kita memperoleh kebugaran sekaligus kegembiraan bersama sesama penggowes,” ungkap Wahyu, yang kesehariannya berprofesi sebagai notaris terkemuka di Kota Yogyakarta, Sabtu (28/1/2023).

Peserta ‘Gowes Sabtu Pagi’ tetap menjalankan kegiatan dengan tertib, termasuk dalam berhenti di sebuah traffic light ketika lampu menyala merah. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

Koordinator Komunitas Sepeda ‘Gowes Sabtu Pagi’ dan BNB CC, Y. Sri Susilomenambahkan, dengan bersepeda dapat menambah paseduluran semakin guyub dan rukun. Komunitas sepeda anggotanya sangat beragam baik dari profesi, pendidikan, dan sebagainya. Menurut dia, meskipun beragam namun mereka berprinsip egaliter dalam arti seluruh anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

“Salah satu wujud nyata keberagaman tersebut adalah jenis dan harga sepeda yang digunakan anggota komunitas bervariasi. Kegiatan GSP ini juga ikut mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi, khsususnya nglarisi warung-warung makan skala mikro dan kecil,” beber Susilo, yang juga dosen di FBE UAJY dan penggiat pariwisata.

Salah satu anggota komunita dan penggemar bersepeda Didiet Raditya mengemukakan, bahwa bersepeda mengunjungi kawasan cagar budaya di Kota Yogyakarta dapat dikemas menjadi salah satu daya tarik wisata. Menurut Didiet, kawasan Njeron Beteng dan Kawasan Kotagede dapat dijadikan tempat tujuan bersepeda.

“Untuk itu diharapkan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Pokdarwis atau Kampung Wisata, dapat menyiapkan paket wisata sepeda ke tempat cagar budaya  atau heritage,” harap Didiet, mantan karyawan sebuah media cetak termuka di Indonesia, yang juga fotografer handal. (ted)