Bernasnews.com – Pemilik dan Direktur Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Probolinggo, Jawa Timur Benjamin Mangitung mengatakan, konsep pembangunan BJBR adalah mengembalikan alam dengan cara yang benar, tidak merusak, tidak dengan membuang sampah.
“Kita kembalikan manusia kepada alam, agar manusia mengenal alam. Karena alam dengan segenap kekayaannya sangat diperlukan bagi kehidupan manusia. Maka membangun kawasan BJBR di Probolinggo juga bukan dengan eksploitasi, bukan dengan main tebang. Justru kami membawa bagian alam masuk dalam ruangan rumah di kawasan itu. Rumah yang kami huni di kawasan ini misalnya, kami beri kaca yang tinggi-tinggi sehingga dapat melihat burung-burung, melihat titik-titik air ketika hujan,” kata dia pada tayangan perdana serial Men of Bee Jay di youtube resmi BeeJay Chef #dariikan dalam pekan pertama Maret 2022.
Setelah menerbitkan dua buku bertajuk Mengubah Sampah Jadi Emas karya Dr Yuyung Abdi (2019) dan Satu Koper Menuju BJBR-Catatan Benjamin Mangitung karya Stebby Julionatan (2021), manajemen BJBR menambah satu lagi karya komunikasi massa yakni tayangan youtube dengan menghadirkan Benjamin Mangitung.
Melalui tayangan tersebut, penonton youtube dapat menyimak pola pikir dan cita-cita Ben-panggilan Benjamin-di balik pendirian BJBR. Dia tipikal insan manusia yang tidak takut mengambil resiko terukur.

“Dia seorang pekerja keras, tidak ada kata tidak bisa bagi dia. Ia pandai bercerita apa yang dia pelajari, diketahui, dan dibacanya. Ben mampu menceritakannya dengan detail,” kata Grace Mangintung, sang istri mengomentari suaminya, sebagaimana dikutip di buku Satu Koper Menuju BJBR.
Kebetulan dan konsekuensi
Benjamin Mangitung mengisahkan, awalnya adalah sebuah kebetulan dan konsekuensi atas kebetulan tersebut. Melalui perusahaan BeeJay Sea Foods dia membeli ikan, mengolah dan kemudian mengekspor. Karena sering melewati kota Probolinggo, Jawa Timur dia melihat hamparan pantai yang ditumbuhi tanaman bakau. Sayangnya, tanaman bakau di sana banyak yang disia-siakan.
Dia memiliki gagasan untuk mengubah tempat tersebut menjadi konservasi dan destinasi wisata. Tempat ini harus ada yang menangani. Kemudian pihaknya memberanikan diri untuk mengelolanya, meski awalnya dia tidak pernah berpikir bagaimana cara mengelolanya. Dengan tegas Ben mengatakan, kawasan bakau ini tidak hanya perlu dirawat namun harus dapat memberikan manfaat ekonomi dalam melestarikannya.

“Saya lahir dari shio monyet. Kata orang, monyet itu cerdas, banyak akal, lebih maju dibanding lainnya. Saya tidak mempercayai hal itu. Yang saya tahu, orang sukses itu karena wawasannya luas, juga apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dan bagaimana pergaulannya. Selain itu, yang penting orang harus berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain. Apakah manfaatnya hanya untuk keluarga, warga setempat, atau lebih luas lagi dunia, biarlah waktu yang menentukan. Saya pribadi harus berbuat yang terbaik,” kata dia.
Lelaki kelahiran Makassar 27 Agustus 1956 yang lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan predikat cumlaude tahun 1980 ini berharap, ingat Probolinggo maka ingat BJBR. “Aku berharap keberadaan BJBR dapat mengubah citra Kita Probolinggo. Yang sebelumnya hanya disebut sebagai tempat persinggahan bagi turis, dapat dikenal dengan wisata bakaunya,” kata Benjamin Mangitung dalam kesempatan terpisah. (mar)











