Mahfud MD: Tantangan Besar Kita yakni Budaya Terkikis, Tidak Ada Lagi Sopan Santun

BERNASNEWS.COM – Mengkopolhukam Mahfud MD mengatakan, bangsa Indonesia hari ini menghadapi masa depan di mana masyarakat dunia berubah. Sementara kita ingin nilai-nilai adiluhung bangsa tidak luntur menghadapi masa depan sehingga perlu penyambung. Apalagi setiap hari orang mencaci orang, tidak ada sopan santun lagi dan tidak ada budaya yang kita banggakan dulu.

“Lho, ini kan budaya mulia. Tapi kenyataannya kita menghadapi tantangan besar budaya kita terkikis. Apalagi sekarang batas-batas antar negara sudah tak ada lagi, sehingga kita perlu penyambung,” kata Mahfud MD dalam acara peluncuran buku GKR Mangkubumi : Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern pada peringatan ulang tahun emas atau 50 tahun GKR Mangkubumi di Ndalem Poenokawan di JalanKHA Ahmad Dahlan 71 Yogyakarta,Sabtu 26 Februari 2022 malam.

Mahfud MD yang mewakili para penulis buku tersebut mengatakan bahwa salah satu penyambung budaya itu ada di di GKR Mangkubumi. Gusti Mangkubumi sebagai sosok yang lahir dan dibesarkan di pusat budaya adiluhung, namun tetap punya pergaulannya ke dunia masa depan. Hidupnya juga begitu merakyat. 

“Nah itu yang saya tulis, kesan di selamat ultah ke 50. Karena kebetulan saya satu kantor. Di Paramporprojo selama 2 tahun, lalu saya ke Jakarta. Saya punya kesan seperti itu,” kata Mahfud MD dalam rilis yang diterima Bernasnews.com pada Minggu 27 Februari 2022.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi (kanan) menyerahkan buku buku GKR Mangkubumi: Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern kepada Menkopolhukam Mahfud MD pada acara peluncuran buku memperingati ulang tahun emas GKR Mangkubumi di Ndalem Poenokawan Jalan KHA Adi hmad Dahlan 71 Yogyakarta, Sabtu 26 Februari 2022 malam. Foto: kiriman Hasto

Berikut pidato lengkap Mahfud MD yang berjudul Indonesia Perlu Kimia seperti yang Dimiliki GKR Mangkubumi, yang diperoleh Bernasnews.com dari Tim Penyusun Buku dan mendapat aplus tinggi hadirin pada acara tersebut: 

SAAT diminta menulis kesan-kesan tentang GKR Mangkubumi untuk bikin buku kado ulang tahun ke 50 beliau, saya tanya ini serius nggak, kok dadakkan banget. Dijawab serius. Ya sudah kalau serius saya tidak nyuruh staf untuk menulis. Tapi saya tulis sendiri. Nah, saya hanya menulis berdasar kesan-kesan sehari-hari saya satu kantor dengan GKR Mangkubumi di Parampraja. Tidak ada niat untuk nulis yang bagaimana-bagaimana. Tapi kesan jujur saja. Lho, kok kemudian malah jadi judul bukunya. Malah kaget saya. Ya sudah, ini saya akan cerita bagaimana tulisan itu bisa lahir dan bagiamana kemudian saya memilih judul itu sebagai topik utama kesan-kesan saya atas GKR Mangkubumi.

Pertama, tentu saja saya mengucapkan selamat ulang tahun. Selanjutnya, mengenai judul dan topik tulisan saya di buku ini. Jadi begini, Indonesia ini memiliki ideologi negara. Namanya Pancasila. Pancasila sejarahnya merupakan kristalisasi, nilai-nilai yang diakui masyarakat Indonesia yang kemudian dijadikan prinsip-prinsip dalam kehidupan, jadilah Pancasila itu sebagai sumber dan bersumber dari budaya bangsa.

Nah, budaya bangsa yang tertulis di Pancasila sebagai prinsip ini di dunia, umum disebut sebagai budaya unggul, budaya adiluhung, budaya penuh kehalusan, penuh rasa keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa, penuh kemanusiasan, bersatu gotong royong, suka musyawarah, dan suka keadilan sosial.

Itulah nilai-nilai budaya adiluhung bangsa yang dalam tingkah laku sehari-hari menimbulkan kesantunan, persaudaraan, persahabatan, dan sebagainya. Pancasila juga ada yang menjadi hukum, yakni UUD dan sebagainya yang ditegakkan oleh pemerintah, hakim dan jaksa.

Tapi banyak nilai Pancasila yang tidak menjadi hukum. Orang kalau tidak melakukan nilai ini tidak ada konsekuensi hukumnya. Itulah yang mucul sebagai kesadaran tingkah laku. Sopan santun, kesederhanaan. Kan tidak ada orang harus hidup sederhana, orang harus sopan, orang harus suka menolong orang lain. Lalu kalau tidak melakukannya kena konsuekuensi hukum. Tidak ada itu. Sebab itulah budaya bangsa, budaya adiluhung, nilai mulia yang tidak menjadi hukum. 

Nah, masalahnya Indonesia hari ini menghadapi masa depan di mana masyarakat dunia berubah. Sedangkan kita ingin nilai-nilai adiluhung bangsa itu tidak luntur menghadapi masa depan. Sehingga perlu penyambung. Setiap hari orang mencaci orang, tidak ada sopan santun lagi, tidak ada budaya yang kita banggakan dulu.

Lho, ini kan budaya mulia. Tapi kenyataannya kita menghadapi tantangan besar budaya kita terkikis. Apalagi sekarang batas-batas antar negara sudah tak ada lagi, sehingga kita perlu penyambung. Nah di sinilah kita lihat salah satu penyambung ada di di GKR Mangkubumi.

Kenapa? Dia lahir dan dibesarkan di pusat budaya adiluhung. Tapi dia juga pergaulannya ke dunia masa depan. Tapi hidupnya begitu merakyat. Nah itu yang saya tulis, kesan di selamat ultah ke 50. Karena kebetulan saya satu kantor. Di Parampraja selama 2 tahun, lalu saya ke Jakarta. Saya punya kesan seperti itu. 

Ini tentu suasana kehidupan dan penghidupan yang dibangun oleh Sri Sultan HB X yang juga sama Ratu Gemas, Sri Sultan, sangat merakyat, seperti biasa saja orang kebanyakan. Banyak kesan saya tentang kelaurga ini sehingga saya bisa katakan inilah penyambung budaya Adiluhung yang dibawa ke masa depan penuh tantangan besar.

GKR Mangkubumi sekolahnya di Jogja, lalu ke luar negeri menerabas modernitas, Amerika, Australia, Singapura dengan membawa bekal budaya adiluhung dari rumah. Hidup dengan budaya adiluhung dan modern itulah bekal untuk Indonesia ke depan. 

“INDONESIA PERLU KIMIA SEPERTI YANG DIMILIKI GKR MANGKUBUMI.”

Saya berdoa semoga panjang umur. Selamat dan sejahtera, teruslah berjuang untuk masa depan Indonesia. INDONESIA MENUNGGU GKR MANGKUBUMI, sebagai PENYAMBUNG BUDAYA ADILIHUNG DAN PERADABAN INDONESIA MODERN. (*/lip)