BERNASNEWS.COM — Di tengah maraknya mainan kekinian berupa game online dan media sosial yang tengah digandrungi oleh generasi milineal, Museum Sonobudoyo menggelar Pameran Temporer Abhinaya Karya. Tema yang dipilih adalah kehidupan anak-anak dengan segala pernak-pernik mainannya, bertajuk “Kembara Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita!”.
“Pilihan tema ini berdasar ide museum untuk membangun suasana ramah anak dan museum bersahabat bagi semua kalangan. Sonobudoyo mengajak para pengunjung untuk berpetualang menyelami kembali dunia anak-anak yang menyenangkan, penuh warna, namun juga sarat akan nilai budi pekerti,” ungkap Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli, SE, MM dalam sambutan pembukaan pameran, Rabu (2/6/2021).

Pameran Temporer Abhinaya Karya berlangsung dari tanggal, 2
– 30 Juni 2021, mulai pukul 09:00 – 21:00 WIB, bertempat di Gedung Pameran
Temporer Museum Sonobudoyo, Jalan Pangurakan (Jalan Trikora), Kawasan Titik Nol
Kilometer, Kota Yogyakarta. Gelaran pameran ini juga didukung Mandala Majapahit
UGM, Pegiat Desa Mainan dari Desa Pandes, Panggungharjo, Bantul. Tampak hadir
dalam pembukaan Ketua Barahmus DIY Ki Bambang Widodo, SPd, MPd, serta beberapa
perwakilan pengurus museum se-DIY.

“Meski bercerita tentang dunia anak-anak, pameran ini tetap menaruh persoalan budaya sebagai bagian dari identitas. Beberapa hal berkaitan dengan tradisi dan konteks sosial budaya turut menjadi pengisi ruang pameran antara lain, seperti upacara tradisi anak-anak dalam konsep daur hidup,” papar Setyawan.
Di sisi lain, lanjut Setyawan, permainan tradisional dakon
atau congklak, kitiran, klonthongan dan othok-othok dapat disaksikan di dalam
ruang pamer. “Permainan tradisional ini dihadirkan sebagai bagian dari kearifan
lokal yang berpotensi mengedukasi pengunjung. Meskipun kenyataannya, permainan
tradisional yang penuh nilai-nilai lokal inipun telah tergerus jaman,” ujarnya.

Sementara itu, Kembara
Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita! Berawal dari sebuah gagasan untuk
memberikan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung, melalui alur pameran
yang tidak biasa. Pengunjung pameran harus melalui labirin untuk dapat
menikmati koleksi-koleksi yang ditampilkan ataupun ketika ingin berpindah dari
satu ruang ke ruang yang lain. Dari sinilah para pengunjung akan merasa
bernostalgia kembali masa kanak-kanak.

“Kami berharap, melalui pameran ini tidak hanya orang dewasa yang memiliki ketertarikan dengan museum tapi juga anak-anak. Pameran juga menjadi wahana pendidikan bagi anak-anak sekarang, tentang nilai, norma dan kerukunan yang dipetik dari budi pekerti masa lalu,” tutup Setyawan Sahli. (ted)











