BERNASNEWS.COM — Peragaan Busana Adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta (PBIY) dan didukung oleh Kalithi Wedding & Art Organizer, Minggu (14/3/2021), berlangsung meriah, di Malioboro Mall, Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dihadiri oleh puluhan anggota komunitas PBIY dan pengunjung mal yang sore itu cukup ramai.
“Bermula dari kecintaan yang sama terhadap kebaya sebagai busana warisan nenek moyang, komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia Yogjakarta (PBIY) selalu konsisten mengkampanyekan pemakaian kebaya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ketua PBIY Margaretha Tinuk Suhartini, di venue, Minggu (14/3/2021).
Menurut Tinuk, bahwa busana
kebaya dikenakan oleh seluruh perempuan Jawa dari berbagai kalangan. “Dalam
perkembangannya sekarang ini selain batik, kebaya adalah salah satu yang
dipakai sebagai busana nasional Indonesia,” ucapnya.
Berkaitan dengan hal itu, lanjut Tinuk maka komunitas PBIY bersama Kalithi Wedding & Art Organizer ingin lebih memperkenalkan kebaya dengan lebih dalam sesuai dengan pakem (aturan adat budaya). Berikut 11 jenis busana kebaya berdasar adat budaya dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang diperagakan oleh anggota PBIY.
Yaitu busana Cara
Putri Rasukan Pendek, busana ini dipakai oleh putri dalem (putri raja) yang sudah menikah. Busana ini dikenakan
pada saat upacara ageng (besar) baik
di dalam maupun di luar kraton. Biasanya berpasangan dengan Kasatrian Ageng.
Busana Cara Putri Rasukan Panjang, busana ini dipakai oleh putri dalem yang sudah menikah. Busana ini dikenakan pada saat upacara ageng baik di dalam maupun di luar kraton. Berpasangan dengan busana Malam Selikuran. Sementara busana Semekan Sindur, dikenakan oleh putri dalem yang sudah menikah dan dikenakan pada saat menghadiri upacara Daup Pengantin (Akhad Nikah) di dalam kraton, busana ini dikenakan pada era HB VII/ HB VIII.
Semekan Dringin,
busana dikenakan oleh putri dalem
pada saat Malam Midodareni. Semekan Sutra
Bleg Blegan (Sutera Penuh), dikenakan oleh putri dalem yang sudah menikah dan dipakai pada saat parakan (upacara) Tinggalan Dalem (Ulang Tahun Raja) atau untuk upacara Tuguran. Busana Semekan Batik Tengahan Sutra, dikenakan oleh putri dalem yang sudah
menikah biasanya untuk upacara malam hari atau dikenakan oleh orang tua/ orang
yang dirinya sudah merasa tua.
Kampuhan Penganthi, busana ini dikenakan oleh putri dalem atau menantu dalem pada saat bertugas sebagai pendamping pengantin di dalam kraton. Busana Pesiar, dikenakan oleh putri dalem yang sudah menikah pada saat berpergian, plesir ke luar negeri, tamasaya, pacuan kuda, dan sebagainya.
Busana Agustusan, busana yang dikenakan oleh putri dalem yang sudah menikah. “Pada jamannya busana ini dikenakan saat menghadiri upacara di gubernuran (kantor gubernur Belanda) untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda Wihilmena, setiap tanggal 31 Agustus,” jelas Tinuk yang didampingi Ny. Larastiti Melati, perias pengantin senior.
Berikutnya adalah busana Kampuhan Kromo dan Kampuhan Keparak, busana Kampuhan Kromo dikenakan oleh putri dalem yang sudah menikah pada saat mengahadiri Grebeg dan Ngabekten (Idul Fitri). Sementara Kampuhan Keparak, dikenakan oleh Lurah Abdi Dalem Keparak.
“Lurah Abdi Dalem Keparak yaitu sebuah kepangkatan dari dalam kraton. Busana itu dikenakan dengan Samir atau semacam sal di leher apabila saat bertugas pada upacara di dalam kraton,” pungkas Tinuk. (ted)











