News  

Nasirun Meninggal Dunia di Usia 60 Tahun, Dunia Seni Indonesia Kehilangan Maestro Kontemporer

Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun meninggal dunia akibat henti jantung di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB. Seniman kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, itu berpulang pada usia 60 tahun setelah sempat mengalami serangan sesak napas akut sekitar pukul 02.00 WIB.

bernasnews – Maestro lukis Nasirun meninggal dunia di Yogyakarta akibat henti jantung pada usia 60 tahun. Dunia seni Indonesia kehilangan perupa kontemporer yang dikenal rendah hati.

Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun, meninggal dunia di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB. Seniman kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, itu mengembuskan napas terakhir pada usia 60 tahun setelah mengalami serangan sesak napas akut yang berujung pada henti jantung.

Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar di kalangan seniman, akademisi, hingga pecinta seni rupa. Rumah duka di Perum Bayeman Permai, Jalan Wates Km 3 C2, Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, dipenuhi pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun mewarnai perjalanan seni rupa Indonesia.

Dunia Seni Kehilangan Salah Satu Perupa Berpengaruh

Kepergian Nasirun menjadi kehilangan besar bagi dunia seni Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade berkarya, ia dikenal sebagai pelukis yang mampu memadukan unsur tradisi Nusantara dengan pendekatan seni kontemporer.

Karya-karyanya banyak mengangkat simbol wayang, spiritualitas Islam Jawa, mitologi, hingga budaya lokal yang diterjemahkan dalam bahasa visual yang khas dan mudah dikenali.

Selain dikenal melalui karya-karyanya di berbagai pameran nasional maupun internasional, Nasirun juga dikenang sebagai pribadi sederhana yang dekat dengan siapa saja.

Pertemuan Terakhir yang Kini Menjadi Kenangan

Sahabat sekaligus tetangganya, Jumaldi Alfi Chaniago, mengaku masih sulit menerima kabar duka tersebut.

Sehari sebelum meninggal dunia, ia masih sempat melihat Nasirun menjalani aktivitas seperti biasa.

Pelukis itu terlihat menyapu halaman rumah tanpa menunjukkan bahwa itu akan menjadi perjumpaan terakhir mereka.

Kenangan sederhana tersebut kini menjadi momen yang terus membekas di benak para sahabatnya.

Menurut Jumaldi, Nasirun tidak pernah membangun jarak meski telah menjadi salah satu seniman paling dikenal di Indonesia.

Museum Pribadi Dibuka Gratis untuk Mahasiswa

Di balik reputasinya sebagai maestro, Nasirun dikenal memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan.

Ia membuka museum pribadinya sebagai ruang belajar bagi mahasiswa magister dan doktoral dari Universitas Gadjah Mada maupun Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tanpa memungut biaya.

Baginya, pengetahuan dan pengalaman harus terus diwariskan kepada generasi muda agar dunia seni terus berkembang.

Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi yang jarang dilakukan oleh seniman dengan reputasi internasional.

Tetap Tersenyum Meski Kondisi Kesehatan Menurun

Kurator senior Suwarno Wisetrotomo menjadi salah satu orang yang terakhir bertemu dengan Nasirun.

Keduanya menghabiskan waktu hampir sepanjang Jumat (31/7/2026) bersama membahas sejumlah agenda seni.

Suwarno mengingat kondisi fisik Nasirun mulai terlihat berbeda.

“Wajahnya memang sudah pucat.”

Meski demikian, Nasirun tetap melontarkan candaan khasnya.

“Mas, aku ki wong ndeso mas, lha kok ternyata aku punya asam lambung.”

Menurut sahabat-sahabatnya, Nasirun selama ini juga memiliki riwayat radang paru-paru. Namun ia tidak banyak menceritakan kondisi kesehatannya kepada orang lain.

Ucapan Duka dari Budayawan dan Sastrawan

Kepergian Nasirun memunculkan gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan.

Budayawan Butet Kartaredjasa menyampaikan ucapan singkat melalui media sosial.

“SUMANGGA GUSTI. Selamat jalan Nasirun.”

Sementara sastrawan Agus Noor mengenang Nasirun sebagai sosok yang sabar, rendah hati, dan tidak pernah menyimpan kebencian.

Ia mengingat salah satu kalimat yang sering diucapkan almarhum.

“Saya ini sudah tidak punya hak untuk marah.”

Kalimat tersebut, menurut Agus Noor, benar-benar dijalankan Nasirun dalam kehidupan sehari-hari.

Sedang Menyiapkan Dua Pameran Besar

Kepergian Nasirun terjadi ketika aktivitas berkaryanya masih sangat padat.

Ia baru menyelesaikan pameran bersama bertajuk Arundhati dan belum lama kembali dari perjalanan budaya ke Belanda serta Bangkok.

Sabtu siang, rumahnya sebenarnya telah dijadwalkan menjadi lokasi rapat persiapan pameran besar di OHD Museum Magelang bersama Jumaldi Alfi.

Pameran tersebut direncanakan berlangsung pada Oktober atau November 2026.

Selain itu, Nasirun juga sedang mempersiapkan pameran sejarah dan arsip para pendiri ASRI yang dikuratori Suwarno Wisetrotomo.

Agenda tersebut dijadwalkan dibuka pada 17 Agustus 2026 di Jogja National Museum, dengan wawancara mendalam yang semula akan dilaksanakan pada 7 Agustus mendatang.

“Kami sudah merencanakan itu dengan sangat baik. Saat ini saya belum berpikir langkah berikutnya. Masih terlalu shocking,” ujar Suwarno.

Dimakamkan di Makam Seniman Girisapto

Ratusan pelayat mengantar kepergian Nasirun menuju Makam Seniman Girisapto Imogiri, Tilamat, Wukirsari, Imogiri, Bantul, pada Sabtu sore.

Prosesi pemakaman yang semula dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WIB baru dapat dilaksanakan sekitar pukul 16.00 WIB karena proses penggalian makam terkendala lapisan batu padas yang cukup keras.

Nasirun meninggalkan istri, Supartilah, serta tiga anak, yaitu Ima Bunga Insan Sani, Yudhistira Nurul Asmi, dan Nawarna Ratna Mutu Manikam.

Kepergiannya menutup perjalanan hidup seorang maestro, tetapi tidak mengakhiri pengaruhnya dalam dunia seni.

Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukan hanya ribuan karya lukis yang telah dipamerkan di berbagai negara, melainkan juga keteladanan, semangat berbagi ilmu, dan keyakinan bahwa seni adalah bagian dari kemanusiaan yang akan terus hidup lintas generasi.***