bernasnews – Belasan orang yang diduga debt collector mendatangi rumah warga di Kasihan, Bantul. Peristiwa itu dilaporkan ke Polres Bantul setelah diduga menimbulkan kerusakan, korban luka, dan trauma pada keluarga.
Sebuah rumah milik Yusuf Wahyudi (37) di Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, diduga menjadi sasaran aksi sekelompok orang yang disebut sebagai debt collector pada Selasa (21/7/2026) malam. Insiden yang berlangsung hingga dini hari tersebut menyisakan kerusakan di rumah korban, dugaan luka fisik, serta trauma yang dialami seluruh anggota keluarga.
Anak Yusuf yang masih berusia empat tahun disebut mengalami ketakutan setelah menyaksikan langsung kejadian itu. Kondisi psikologis sang anak dikabarkan berubah drastis karena kini enggan keluar rumah bahkan takut berangkat ke sekolah.
Kasus tersebut telah dilaporkan kepada Polres Bantul dan saat ini masih dalam proses penanganan aparat kepolisian.
Kuasa Hukum Tempuh Jalur Hukum
Kuasa hukum Yusuf Wahyudi, Praditya Mahendra Jati Gumilang, mengatakan pihaknya telah mengajukan laporan resmi kepada Polres Bantul sehari setelah kejadian, tepatnya pada Rabu (22/7/2026).
“Kami selaku kuasa hukum korban sudah melaporkan dan membuat aduan secara resmi pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2026 di Polres Bantul,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (24/7/2026).
Menurut Praditya, proses penyelidikan diharapkan tidak hanya berfokus kepada orang-orang yang datang ke rumah kliennya, tetapi juga menelusuri pihak yang diduga memberi perintah.
Ia meminta aparat mendalami legalitas surat tugas dari perusahaan pembiayaan maupun pihak yang mengaku mewakili perusahaan tersebut. Selain itu, polisi juga diharapkan memeriksa apakah prosedur penagihan yang dilakukan telah sesuai dengan ketentuan hukum.
“Kita tidak hanya mengejar terduga pelaku utamanya, tetapi aktor di belakangnya juga sehingga motif-motif seperti ini tidak terulang kembali, khususnya di wilayah DIY,” katanya.
Anak Korban Trauma, Yusuf Mengaku Alami Luka
Praditya menyebut kondisi psikologis keluarga korban masih belum pulih setelah peristiwa tersebut. Salah satu yang paling terdampak adalah anak Yusuf yang masih balita.
Menurut keterangan yang diterima kuasa hukum, keluarga korban menyaksikan tindakan yang dinilai sangat mengintimidasi. Bahkan, salah seorang dari rombongan diduga mengacungkan senjata tajam sambil mengeluarkan ancaman pembunuhan.
Yusuf sendiri dikabarkan mengalami luka pada bagian kaki. Ia mengaku sempat dikejar menggunakan parang dan terkena lemparan batu sehingga mengalami kaki bengkak dan terkilir.
“Akibat melihat perbuatan yang sangat brutal bahkan bisa kami bilang perbuatan yang tidak manusiawi dengan membawa senjata tajam yang diacungkan ke keluarga korban dengan mengancam membunuh klien kami, lalu klien kami sendiri sebagai pelapor mengalami luka di bagian kaki sampai bengkak terkilir karena sempat dikejar menggunakan parang dan dilempari batu,” ungkapnya.
Bermula dari Persoalan Tunggakan Mobil
Yusuf menjelaskan rangkaian peristiwa bermula pada Selasa siang ketika dirinya menerima telepon dari kakak perempuannya yang tinggal di Gamping, Kabupaten Sleman.
Sang kakak mengaku didatangi sejumlah orang yang diduga debt collector terkait mobil Toyota Rush yang menunggak cicilan selama delapan bulan.
Setelah mendatangi rumah kakaknya, Yusuf bersama keluarga memutuskan memindahkan kendaraan tersebut ke lokasi yang dianggap lebih aman. Ia menegaskan langkah itu bukan untuk menghilangkan kendaraan, melainkan agar ada waktu menyelesaikan administrasi tunggakan.
Menurut Yusuf, kakaknya telah berkomitmen melunasi kewajiban pembayaran. Ia juga menyebut kendaraan tersebut telah dibayar uang muka sekitar Rp50 juta dan cicilan sudah berjalan kurang lebih 15 kali.
“Maksudnya dibawa itu tidak bawa lari. Takutnya ditarik. Besok kan mau diurus,” kata Yusuf.
Diduga Diminta “Uang Makan” Rp25 Juta
Setelah kembali ke rumahnya di Kasihan, Yusuf mengira persoalan telah selesai. Namun menjelang malam, sekitar waktu Magrib, rumahnya kembali didatangi belasan orang menggunakan empat mobil dan beberapa sepeda motor.
Menurut pengakuannya, rombongan tersebut menuduh dirinya melindungi kendaraan yang sedang menjadi objek penagihan.
Yusuf mengatakan sempat dilakukan mediasi antara kedua belah pihak. Dalam proses tersebut, rombongan yang datang diduga meminta “uang makan” sebesar Rp25 juta.
Ia mengaku berusaha melakukan negosiasi bersama sejumlah rekannya, namun pembicaraan itu disebut tidak berlangsung lama.
“Dinego tetapi baru nego-negoan saya diserang,” ujarnya.
Kejar-kejaran Hingga Dini Hari
Situasi kemudian semakin memanas. Yusuf mengaku salah seorang dari rombongan membawa benda yang diduga menyerupai celurit.
Saat itu, di dalam rumah terdapat kedua orang tuanya serta anaknya yang masih berusia empat tahun. Demi menyelamatkan sang anak, Yusuf menggendong buah hatinya dan keluar melalui pintu belakang.
Ia mengaku tetap dikejar oleh sejumlah orang, sementara ibunya dikabarkan pingsan akibat syok melihat situasi tersebut.
Menurut Yusuf, rombongan baru meninggalkan lokasi sekitar pukul 02.00 WIB. Keesokan paginya, ia menemukan sejumlah perabot rumah mengalami kerusakan. Selain itu, sepeda motor Honda Vario miliknya sempat dibawa paksa sebelum akhirnya dikembalikan.
Hingga kini, perkara tersebut masih ditangani Polres Bantul. Keluarga korban berharap seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat diungkap melalui proses hukum sehingga kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat.***












