Prambanan Jazz 2026 Tampilkan Harmoni Musik Pop, Jazz, dan Budaya dalam Satu Panggung Bersejarah

Prambanan Jazz 2026 menghadirkan harmoni musik pop, jazz, dan budaya lewat penampilan The Rose, Tulus, Henry Moodie, hingga kolaborasi KLa Project bersama gamelan dan sinden.

bernasnews.com – Hari terakhir Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 menghadirkan perpaduan musik modern dan seni tradisi di kawasan Taman Wisata Candi Prambanan, Minggu (5/7/2026). Selama satu hari penuh, festival menyuguhkan penampilan musisi nasional, artis internasional, hingga kolaborasi budaya yang memperkuat karakter Prambanan Jazz sebagai ruang pertemuan berbagai genre musik dalam latar situs bersejarah.

Sejak gerbang festival dibuka pada pukul 15.00 WIB, ribuan pengunjung memadati kawasan Candi Prambanan untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan di Rukun Stage, Guyub Stage, dan Langgam Lounge. Penampilan yang bergantian sejak sore hingga malam menghadirkan pengalaman musik yang memadukan pop, jazz, soul, hip hop, hingga seni pertunjukan tradisional.

Musisi Lintas Generasi Isi Panggung Utama

Hari penutup dibuka oleh Java Jive yang membawa kembali lagu-lagu populer mereka dan mengajak penonton bernostalgia. Setelah itu, Jikustik menghadirkan salah satu momen yang paling mendapat perhatian melalui reuni bersama mantan vokalisnya, Pongki Barata. Penampilan tersebut menghidupkan kembali sejumlah lagu yang pernah menjadi soundtrack generasi 1990-an dan awal 2000-an.

Memasuki sore, Fariz RM tampil membawakan karya-karya yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik jazz dan pop Indonesia. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana Prambanan Jazz tetap memberikan ruang bagi musisi lintas generasi untuk tampil dalam satu panggung.

Malam kemudian berlanjut dengan penampilan Tulus yang menjadi salah satu magnet utama festival. Penyanyi tersebut untuk pertama kalinya membawakan lagu terbarunya berjudul “Teh Hijau” secara langsung di hadapan publik. Meski lagu itu baru dirilis pada Selasa (30/6/2026), banyak penonton telah hafal liriknya dan ikut bernyanyi sepanjang pertunjukan.

CEO Rajawali Indonesia, Anas Syahrul Alimi, menyebut momen tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi para penggemar Tulus.

“Ini memang kesempatan spesial bagi para fans Tulus karena dapat menyaksikan secara live membawakan single terbarunya.” ujar CEO Rajawali Indonesia Anas Syahrul Alimi.

Musisi Internasional Lengkapi Warna Prambanan Jazz

Selain menghadirkan musisi nasional, hari ketiga Prambanan Jazz Festival 2026 juga diramaikan oleh penampil internasional.

Band asal Korea Selatan The Rose menjadi salah satu daya tarik utama dengan penampilannya yang disambut antusias ribuan penonton. Kehadiran mereka melengkapi jajaran musisi mancanegara yang tampil pada penyelenggaraan tahun ini.

Sementara itu, penyanyi asal Inggris Henry Moodie tampil pada malam hari sebagai salah satu penutup di Rukun Stage. Penampilannya menjadi bagian dari rangkaian konser internasional yang memperkaya pengalaman penonton selama festival berlangsung.

Kolaborasi Seni Tradisi Perkuat Karakter Festival

Tidak hanya menghadirkan konser musik, Prambanan Jazz Festival 2026 juga memberikan ruang bagi pertunjukan seni lintas disiplin.

Wayang Bocor bersama maestro tari Didik Nini Thowok menghadirkan pertunjukan yang memadukan musik, teater, humor, tari, dan budaya tradisional dalam satu panggung. Kolaborasi tersebut melibatkan seniman Eko Nugroho, dalang Ki Catur Kuncoro, komposer Ari Wulu, serta koreografer Eko Supriyanto.

Sebagai bagian dari festival, Eko Nugroho juga dipercaya sebagai Commissioned Artist yang menghadirkan identitas visual Prambanan Jazz Festival 2026 melalui karya yang merepresentasikan keberagaman budaya dan semangat kebersamaan.

Guyub Stage Sajikan Beragam Warna Musik

Guyub Stage menghadirkan pengalaman musik yang tidak kalah beragam. Penampilan dimulai oleh White (Jazz) Chorus, kemudian dilanjutkan Nonaria yang memadukan musik tradisional dengan sentuhan modern.

Eksplorasi musikal berlanjut melalui Jogja Hip Hop Foundation Playing Jazz yang menggabungkan hip hop dengan unsur jazz. Setelah itu, Rio Febrian menawarkan konsep pertunjukan “A Night on Broadway”, disusul Ari Lasso yang membawakan lagu-lagu hitsnya.

Menjelang akhir acara, Maliq & D’Essentials kembali menghadirkan karakter musik jazz, soul, dan pop yang menjadi ciri khas mereka sebelum panggung ditutup oleh KLa Project.

KLa Project Hadirkan Kolaborasi Gamelan dan Sinden

Sebagai penampil terakhir di Guyub Stage, KLa Project menghadirkan salah satu pertunjukan yang paling berkesan sepanjang festival.

Grup musik tersebut tidak hanya membawakan lagu-lagu andalan yang telah dikenal lintas generasi, tetapi juga berkolaborasi dengan kelompok gamelan dan sinden. Perpaduan instrumen tradisional Jawa dengan aransemen musik pop menghadirkan nuansa yang selaras dengan latar megah Candi Prambanan.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu momen yang paling mendapat apresiasi dari penonton karena memperlihatkan harmoni antara musik modern dan budaya lokal dalam satu pertunjukan.

KLa Project kemudian menutup penampilannya melalui lagu “Yogyakarta”. Ribuan penonton ikut bernyanyi bersama hingga lagu terakhir selesai dibawakan, menciptakan penutup yang penuh nostalgia pada malam terakhir festival.

Langgam Lounge Lengkapi Pengalaman Pengunjung

Selain dua panggung utama, festival juga menghadirkan berbagai aktivitas di Langgam Lounge. Area ini menjadi ruang alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan komunitas maupun sesi diskusi mengenai perkembangan musik jazz.

Pengunjung dapat menyaksikan penampilan BASS3 bersama Sruti Respati, I’m Jazz a Kids All Stars, White Chorus, Jazz Kotabaru, Nonaria, hingga Jo Soegono. Kehadiran Langgam Lounge memperluas pengalaman festival melalui kombinasi pertunjukan musik, ruang edukasi, dan interaksi komunitas.

Perpaduan Musik dan Budaya Jadi Identitas Prambanan Jazz

Hari terakhir Prambanan Jazz Festival 2026 memperlihatkan bagaimana musik populer, jazz, seni tradisi, dan penampilan internasional dapat berpadu dalam satu perayaan yang berlangsung di kawasan Candi Prambanan.

Keberagaman penampil, kolaborasi lintas disiplin, serta keterlibatan seniman dari berbagai latar belakang semakin mempertegas identitas Prambanan Jazz sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan konser musik, tetapi juga menjadi ruang apresiasi budaya dan kreativitas.

Melalui perpaduan tersebut, Prambanan Jazz Festival kembali menghadirkan pengalaman yang menyatukan musisi, seniman, komunitas, dan penonton dalam satu panggung bersejarah yang menjadi ciri khas penyelenggaraannya.