bernasnews — Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-71 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), akan diselenggarakan Bedah Buku “Mengolah Cipta Rasa Karsa” karya budayawan dan tokoh Tamansiswa, Ki Prijo Mustiko.
Kegiatan ini akan dilaksanakan di Ruang Senat Lantai I Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jalan Batikan, Yogyakarta pada Jumat, 3 Juli 2026, pukul 08.30–11.00 WIB. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui YouTube Official UST.
Bedah buku ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-71 UST yang bertujuan memperkuat tradisi akademik sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Tamansiswa melalui dialog ilmiah.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi sivitas akademika, pendidik, mahasiswa, pegiat budaya, dan masyarakat untuk mendiskusikan relevansi pemikiran kebudayaan dalam menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan masyarakat pada era modern.
Acara bedah buku “Mengolah Cipta Rasa Karsa” menghadirkan penulisnya Ki Prijo Mustiko, Ketua Dewas PKBTS sebagai narasumber, dan Prof. Slamet PH, M.Ed, MA, MLHR, PhD, Guru Besar dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sedang sebagai moderator, Dr. Yuli Prihatini M.Pd , Wakil Rektor I UST.
Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Prof. Dr. Ir. H. Pardiman, M.P., IPU., ASEAN Eng mengemukakan, bahwa sebagai perguruan tinggi yang lahir dari Perguruan Tamansiswa, UST memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus melestarikan, mengembangkan, dan mengaktualisasikan ajaran Ki Hadjar Dewantara melalui berbagai kegiatan ilmiah.
“Bedah buku merupakan salah satu bentuk nyata budaya akademik yang tidak hanya mengembangkan literasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa,” ujarnya.
Buku Mengolah Cipta Rasa Karsa setebal 386 halaman merupakan karya reflektif yang mendokumentasikan perjalanan panjang Ki Prijo Mustiko selama lebih dari 75 tahun berkarya dan mengabdi dalam bidang kebudayaan.
Buku ini mengulas perkembangan kebudayaan melalui perpaduan antara cipta (daya pikir), rasa (kehalusan budi), dan karsa (kemauan untuk berkarya), yang menjadi fondasi kehidupan manusia berbudaya.
Melalui pengalaman panjangnya dalam berbagai organisasi kebudayaan, pendidikan, dan kepramukaan, Ki Prijo Mustiko menghadirkan catatan perjalanan perkembangan peradaban Yogyakarta dan Indonesia.
“Buku ini tidak hanya menyajikan dokumentasi sejarah, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam mengenai bagaimana pengalaman hidup dapat menjadi sumber kebijaksanaan dalam membangun masa depan masyarakat yang lebih baik,” jelas Prof. Pardiman. (*/ ted)












