bernasnews.com – Pengujung harapan itu akhirnya tiba di rimbunnya Hutan Selorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Setelah tujuh hari penuh menyisir hutan, semak belukar, hingga jalur-jalur yang sulit dijangkau, Tim SAR Gabungan akhirnya menemukan Mbah Kasemo alias Bajiyo (81), warga Selorejo, dalam kondisi meninggal dunia, Senin (29/6/2026).
Penemuan tersebut sekaligus mengakhiri operasi pencarian yang sejak awal menyita perhatian warga Gunungkidul. Selama sepekan terakhir, keluarga korban hidup dalam kecemasan. Harapan agar lansia tersebut kembali dengan selamat terus menyala di tengah berbagai upaya pencarian yang dilakukan tanpa mengenal lelah.
Korban sebelumnya meninggalkan rumah pada Senin (22/6/2026). Saat itu, Mbah Kasemo sempat berpamitan dari rumah salah seorang tetangganya. Dengan berjalan kaki, ia berniat menuju rumah anaknya di wilayah Gebang, Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari.
Perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas sederhana justru berubah menjadi awal dari sebuah tragedi. Hingga hari berganti, korban tidak pernah tiba di rumah anaknya. Keluarga kemudian berusaha mencari secara mandiri dengan menelusuri berbagai kemungkinan jalur yang biasa dilalui korban. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.
Setelah berbagai upaya mandiri tidak menemukan titik terang, keluarga akhirnya melaporkan peristiwa itu kepada pihak berwenang. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pelaksanaan operasi pencarian yang melibatkan Tim SAR Gabungan dari berbagai unsur.
Sejak hari pertama, operasi pencarian berlangsung secara intensif. Personel SAR membagi area pencarian ke dalam sejumlah sektor. Mereka menelusuri jalan setapak, kawasan hutan, jurang, hingga lokasi-lokasi yang diperkirakan menjadi jalur perjalanan korban.
Memasuki hari ketujuh, semangat para personel tidak surut sedikit pun. Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Tim SAR Gabungan kembali bergerak menuju kawasan Hutan Selorejo. Mereka menerapkan metode open grid, yakni teknik pencarian dengan membagi area menjadi beberapa petak agar setiap jengkal kawasan dapat diperiksa secara sistematis.
Pada saat bersamaan, satuan pencari dan penyelamat (SRU) lainnya mengoptimalkan teknologi dengan menerbangkan drone thermal. Perangkat tersebut membantu personel memantau area yang sulit dijangkau dari udara sekaligus memperluas cakupan pencarian.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 10.50 WIB, salah satu tim menemukan sosok korban di kawasan Hutan Selorejo pada koordinat 8°01’36.1″ Lintang Selatan dan 110°33’01.2″ Bujur Timur.
Suasana yang semula dipenuhi harapan berubah menjadi duka. Setelah dipastikan identitasnya, Tim SAR Gabungan segera melakukan proses evakuasi dengan penuh kehati-hatian mengingat lokasi penemuan berada di kawasan hutan. Seluruh proses evakuasi berjalan lancar. Tepat pukul 12.00 WIB, jenazah korban berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses selanjutnya.
Berakhirnya pencarian itu menjadi akhir dari penantian panjang keluarga yang selama tujuh hari terus berharap keajaiban datang. Meski hasilnya tidak sesuai harapan, keluarga akhirnya memperoleh kepastian mengenai keberadaan orang yang mereka cintai.
Kepala Kantor SAR Yogyakarta, Rio Banupanitis, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban. Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh personel Tim SAR Gabungan yang telah mengerahkan kemampuan terbaik selama operasi berlangsung.
Rio menjelaskan seluruh unsur SAR bekerja secara maksimal sejak hari pertama pencarian. Personel memadukan penyisiran darat dengan pemanfaatan drone thermal agar area pencarian semakin luas dan efektif.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya korban. Terima kasih kepada seluruh unsur Tim SAR Gabungan yang telah bekerja keras selama tujuh hari melaksanakan pencarian dengan berbagai metode, baik penyisiran darat maupun pemantauan menggunakan drone thermal.
Setelah korban berhasil ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga, operasi SAR secara resmi ditutup pada pukul 12.25 WIB dan seluruh personel kembali ke satuan masing-masing,” ujar Rio Banupanitis.
Selama operasi berlangsung, kondisi cuaca relatif cerah sehingga mendukung mobilitas personel di lapangan. Meski demikian, medan Hutan Selorejo yang didominasi pepohonan lebat, semak belukar, serta kontur tanah yang tidak rata tetap menjadi tantangan tersendiri bagi para personel SAR.
Sinergi berbagai unsur menjadi kunci keberhasilan operasi tersebut. Seluruh personel bekerja secara bergantian, menyisir kawasan hutan dari pagi hingga sore tanpa mengendurkan semangat. Mereka memadukan pengalaman lapangan dengan dukungan teknologi modern agar setiap kemungkinan lokasi dapat diperiksa secara menyeluruh.
Operasi pencarian Mbah Kasemo menjadi pengingat bahwa perjalanan sederhana sekalipun dapat berubah menjadi situasi darurat, terutama bagi warga lanjut usia yang beraktivitas seorang diri. Peristiwa ini juga kembali menunjukkan pentingnya kepedulian masyarakat untuk segera melaporkan apabila anggota keluarga tidak kunjung kembali sesuai waktu yang diperkirakan sehingga proses pencarian dapat dilakukan lebih cepat.
Kini, setelah tujuh hari perjuangan tanpa henti, operasi SAR resmi berakhir. Di balik keberhasilan menemukan korban, tersisa duka mendalam yang menyelimuti keluarga dan warga Selorejo. Sementara bagi Tim SAR Gabungan, operasi tersebut kembali menjadi bukti nyata dedikasi kemanusiaan yang terus mereka jalankan demi memberikan kepastian bagi setiap keluarga yang menanti orang tercintanya pulang.(ef linangkung)












