News  

Haedar Nashir Serukan Spiritualitas Taqwa di Iduladha 2026, Ingatkan Bahaya Korupsi hingga Hedonisme Generasi Muda

Haedar Nashir/Muhammadiyah

bernasnews— Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum besar untuk membangun spiritualitas taqwa yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah berbagai persoalan bangsa, mulai dari korupsi, kesenjangan sosial, konflik, hingga budaya hedonisme yang terus mengakar, Haedar menilai umat Islam membutuhkan kebangkitan moral yang lahir dari ketakwaan sejati.

Pesan Haedar Nashir

Pesan itu disampaikan Haedar menjelangIduladha 1447 Hijriah. Ia menegaskan bahwa Iduladha tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan yang hanya dipenuhi seremoni salat Id dan penyembelihan hewan kurban semata. Menurutnya, makna terbesar Iduladha justru terletak pada proses pembentukan manusia yang tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari manusia yang melaksanakannya. Karena itu, substansi Iduladha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas,” ujar Haedar, Selasa (26/5).

Pernyataan itu menjadi refleksi mendalam di tengah realitas sosial modern yang menurut Haedar semakin dipenuhi perilaku individualistik, kerakusan ekonomi, dan hilangnya orientasi moral. Ia menilai, banyak manusia mengejar dunia tanpa batas hingga rela mengorbankan nilai kejujuran, keadilan, bahkan kemanusiaan.

Dalam pandangan Haedar, seluruh ibadah dalam Islam sesungguhnya bermuara pada pembentukan insan bertakwa. Tidak hanya salat dan puasa, tetapi juga ibadah kurban yang sarat dengan pesan pengorbanan, kepatuhan, dan keikhlasan.

Ia kemudian mengangkat keteladanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS sebagai contoh spiritualitas taqwa yang revolusioner sepanjang sejarah umat manusia.

Menurutnya, Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan luar biasa ketika menerima perintah Allah untuk mengorbankan putra tercintanya. Di sisi lain, Siti Hajar menghadirkan keteguhan iman dan kesabaran yang tidak tergoyahkan, sedangkan Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan total kepada kehendak Ilahi.

“Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya atas perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman, sementara Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan yang sangat tinggi. Ketiganya menjadi uswah hasanah tentang bagaimana ketakwaan melahirkan jiwa pengorbanan dan kebajikan,” jelasnya.

Haedar menilai keteladanan keluarga Nabi Ibrahim itu tidak hanya relevan dalam konteks ibadah ritual, tetapi juga menjadi jawaban atas krisis moral yang melanda kehidupan modern.

Ketakwaan, kata dia, harus melahirkan manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menahan kerakusan, dan membebaskan diri dari egoisme pribadi. Dari spiritualitas itulah kemudian lahir sikap ihsan atau kebajikan yang nyata dalam kehidupan sosial.

Insan Bertakwa

Menurut Haedar, insan bertakwa akan menghadirkan keshalehan sosial di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga integritas, menjunjung kejujuran, hidup sederhana, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Insan yang memiliki spiritualitas takwa akan hidup dengan kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, kesabaran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Mereka juga memiliki etos ilmu, berpikir positif, bekerja keras, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa ketakwaan sejati akan membentuk karakter manusia yang tidak mudah tergoda oleh kekuasaan dan materi. Karena itu, seseorang yang benar-benar bertakwa tidak akan melakukan korupsi, menyalahgunakan jabatan, atau memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi.

“Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak anti kritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik moral terhadap berbagai persoalan kebangsaan yang hingga kini masih membayangi Indonesia. Haedar menyoroti praktik korupsi, ketimpangan ekonomi, konflik sosial, serta perilaku ajimumpung yang menurutnya lahir dari hilangnya orientasi spiritual dalam kehidupan publik.

Ia menyebut kerakusan manusia sebagai akar utama dari berbagai kerusakan sosial. Ketika segelintir kelompok menguasai kekayaan secara berlebihan sementara banyak rakyat hidup dalam kesulitan, maka keadilan sosial sejatinya sedang mengalami krisis serius.

“Hasrat untuk menguasai segala sesuatu tanpa batas membuat manusia rela merugikan sesama dan merusak lingkungan. Karena itu bangsa ini membutuhkan kebangkitan spiritualitas taqwa yang melahirkan kebajikan nyata,” katanya.

Di era digital, Haedar juga mengingatkan pentingnya menghadirkan akhlak mulia di ruang publik dan media sosial. Ia menilai perkembangan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan etika dan rasa hormat terhadap sesama.

Menurutnya, insan bertakwa akan menjaga tutur kata, menghindari fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta tidak mudah memecah belah persatuan bangsa demi kepentingan tertentu.

“Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah dengan nyata,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah maraknya polarisasi sosial dan banjir informasi digital yang kerap memicu konflik di ruang publik. Haedar menilai umat Islam harus menjadi pelopor dalam menghadirkan media sosial yang sehat, beradab, dan membawa kemaslahatan.

Transformasi Moral

Lebih jauh, Haedar berharap Iduladha mampu menjadi kekuatan transformasi moral bagi umat dan bangsa. Ia menginginkan spiritualitas takwa benar-benar melahirkan sistem kehidupan yang lebih adil, berkeadaban, dan berpihak pada kepentingan bersama.

Baginya, ketakwaan tidak cukup hanya berhenti dalam retorika keagamaan atau simbol-simbol ibadah. Ketakwaan harus hadir dalam tindakan nyata, kebijakan publik, serta perilaku sehari-hari.

“Ketakwaan bukan sekadar indah dalam kata-kata dan retorika, tetapi harus tampak nyata dalam tindakan, kebijakan, dan kehidupan sehari-hari. Jika spiritualitas taqwa tumbuh dalam kehidupan nyata, maka akan lahir budaya keshalehan yang menebarkan kebajikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan semesta,” tegas Haedar.

Secara khusus, Haedar juga memberikan perhatian besar kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa. Ia meminta generasi muda menjadikan Iduladha sebagai sarana membangun karakter unggul, berintegritas, dan berkemajuan.

Ia berharap anak-anak muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang taat beragama, mencintai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, serta memiliki etos kerja tinggi dan semangat kemandirian.

Haedar mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar memamerkan kemewahan di media sosial. Menurutnya, masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas moral dan intelektual generasi penerus.

“Generasi muda jangan terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar pamer kemewahan. Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan memberi manfaat bagi kehidupan,” pungkasnya. (ef linangkung)