News  

Warga Kampung Gamelan Lor Resmikan Patung Abdidalem Gamel sebagai Ikon Wisata nJeron Benteng Kraton Jogja

Suasana peresmian Patung Abdidalem Gamel lengkap dengan Kudanya. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Menelisik perekembangan wilayah perkampungan di Kota Yogyakarta, tentunya tidak dapat terpisahkan dengan keberadaan Keraton Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan tempo dulu. Dilihat dari jejak sejarah toponimi kampung berbasis dari pemerintahan kraton tersebut, ada yang berada di kawasan nJeron Beteng (dalam benteng) dan di nJaban Beteng (luar benteng).

Ada tiga jenis nama kampung yang ada di wilayah Kota Yogyakarta di antaranya, kampung berdasar nama pangeran dan bangsawan dari Kraton Yogyakarta, ada 45 kampung; Kampung berdasar nama keahlian atau parofesi abdi dalem, 38 kampung, dan Kampung berdasar tempat tinggal prajurit keraton, ada 14 kampung.

Salah satu nama kampung berdasar keahlian atau profesi abdi dalem adalah Kampung Gamelan. Kampung ini dahulunya merupakan pemukiman atau tempat tinggal kelompok abdidalem Gamel, yakni abdidalem yang bertugas mengurus kuda – kuda milik Sultan atau kraton.

Secara administratif, Kampung Gamelan termasuk dalam wilayah Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.

Sebagai simbol, bahwa Kampung Gamelan Lor, yang terdiri RT 19 dan RT 20, RW 06 Panembahan adalah bagian dari Kampung Gamelan, warga setempat meresmikan ikon patung seorang abdidalem Gamel lengkap dengan seekor kuda.

Usai peresmian Patung Gamel, Ketua Kampung Gamelan dan tokoh setempat foto bersama. (Foto: Istimewa)

Peresmian tersebut dilakukan oleh Dra. Endang Mulatsih selaku Ketua Kampung Gamelan, Ketua PSR Bambang Suhadi, SE serta Ketua RT 19 Sugeng Sarwono, Amd, dan Ketua RT 20 Jumarto, SH. Acara peresmian bersamaan dengan Syawalan 1447 H Warga Gamelan Lor, pada Minggu (5/4/2026).

“Kampung ini sangat kental dengan tradisi dan budaya Jawa. Selain itu Kampung Gamelan juga tercatat sebagai saksi sejarah perjuangan Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana warga bergerilya melawan agresi Belanda,” kata Jumarto, Ketua RT 20 pada bernasnews, di sela-sela acara.

Ketua Kampung Gamelan Endang Mulatsih menambahkan, pada masa Serangan Umum 1 Maret 1949, Kampung Gamelan menjadi salah satu basis perjuangan. Warga menyiapkan markas dan koordinasi para pejuang dengan mendirikan Rumah Makan “Sate Puas” guna mengelabui Belanda.

“Kini rumah tersebut menjadi Graha Keris. Sebagai pengingat sejarah yang heroik tersebut oleh pemerintah dibangun  Monumen Perjuangan Gamel, di pintu masuk kampung. Monumen menggambarkan abdi dalem dan kudanya, serta relief peristiwa tersebut, diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono X, pada 9 Oktober 1991,” ujar Endang, yang juga Pengurus Tuwanggana Panembahan. (*/ ted)