bernasnews – Jalan Malioboro akan menjadi pusat perayaan akbar pada Kamis, 2 April 2026 sore hingga malam hari. Dalam rangka Mangayubagya 80 Taun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, pemerintah daerah menghadirkan pesta rakyat terbuka untuk umum mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.
Acara ini menghadirkan perpaduan kuliner angkringan gratis, pertunjukan seni budaya, serta pengaturan fasilitas publik seperti kantong parkir untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Rangkaian Pesta Rakyat Dimulai Sore Hari di Sepanjang Malioboro
Memasuki sesi sore, suasana di Malioboro akan berubah menjadi ruang publik yang meriah. Beragam atraksi kesenian dijadwalkan tampil di sejumlah titik strategis mulai pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian acara pagi hingga siang yang sebelumnya dipusatkan di Alun-Alun Utara.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan bahwa konsep acara dibagi menjadi dua sesi guna mengatur distribusi pengunjung.
“Mulai pukul 16.00 sampai 22.00 WIB, dibagi dua sesi. Setiap sesi ada 80 angkringan, masing-masing menyediakan 100 nasi kucing. Pembagian dua sesi dilakukan untuk mengatur distribusi masyarakat agar tetap nyaman selama acara berlangsung,” jelas Imam pada Rabu 1 April 2026 sebagaimana dikutip dari laman resmi Pemda DIY.
16.000 Lebih Porsi Angkringan Gratis untuk Masyarakat
Dalam setiap sesi, sekitar 8.000 porsi nasi kucing disediakan melalui 80 angkringan yang tersebar di berbagai titik. Dengan dua sesi yang digelar, total sajian mencapai lebih dari 16.000 porsi hingga malam hari.
Selain angkringan, masyarakat juga dapat menikmati sajian tumpeng yang dibagikan di sejumlah lokasi. Distribusi kuliner ini menjadi simbol kebersamaan dalam perayaan ulang tahun ke-80 Sri Sultan.
Bentangan angkringan membentang dari kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, termasuk area Teras Malioboro, Pasar Beringharjo, hingga depan Museum Sonobudoyo.
10 Titik Atraksi Seni, Usung Konsep “Art on the Street”
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyampaikan bahwa pesta rakyat ini mengusung tema “Pesta Rakyat Golong Gilig”.
Sebanyak 10 titik atraksi budaya akan tersebar dari kawasan Pangurakan hingga ujung jalan depan Hotel Garuda Inn. Beragam pertunjukan seni akan ditampilkan, mulai dari jathilan, reog, panembromo, tari angguk, hingga musik keroncong dan band.
Pendekatan “art on the street” dihadirkan untuk mendekatkan seni tradisional dan kontemporer kepada masyarakat secara langsung di ruang terbuka.
Sebanyak 80 angkringan akan tersebar di 10 lokasi utama, yakni BPD DIY, Jogja Library, Eks Teras Malioboro 2, DPRD DIY, Hotel Mutiara UMKM, Gerbang Barat Kompleks Kepatihan, Pasar Beringharjo, Pasar Sore Malioboro, depan Gedung Agung, serta kawasan Museum Sonobudoyo di Jalan Pangurakan.
Lokasi-lokasi ini sekaligus menjadi titik panggung pertunjukan seni yang akan menarik konsentrasi pengunjung sepanjang Malioboro.
16 Kantong Parkir Disiapkan untuk Antisipasi Lonjakan Pengunjung
Untuk mengantisipasi kepadatan, panitia telah menyiapkan 16 titik kantong parkir yang tersebar di sekitar kawasan Malioboro. Beberapa di antaranya meliputi Komando Tugu, McD Sudirman, Eks Trio, DPRD DIY, Kawula Alit, Kepatihan, hingga Ngabean dan utara Cavinton.
Setiap lokasi parkir telah disesuaikan dengan jenis kendaraan, baik bus, mobil, maupun sepeda motor, guna memastikan arus lalu lintas tetap terkendali selama acara berlangsung.
Kolaborasi Luas dan Dampak Pariwisata
Sebagian besar angkringan yang disediakan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, dengan sekitar 60-70 persen didukung sponsor dari sektor BUMN, industri pariwisata, hingga asosiasi seperti PHRI.
“Konsep ini menjadi cara sederhana namun kuat untuk menghadirkan kebersamaan dalam ruang publik. Ini memang dari masyarakat untuk masyarakat, sebagai bentuk kebersamaan dalam memaknai momen ini,” kata Imam.
Momentum libur panjang juga diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada Sri Sultan, kegiatan ini diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Pemerintah Daerah DIY mengajak masyarakat untuk turut hadir dan meramaikan pesta rakyat ini. Selain sebagai perayaan budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi masyarakat dalam suasana bulan Syawal.
Dengan konsep yang menggabungkan kuliner tradisional dan seni pertunjukan, Malioboro diproyeksikan menjadi pusat kebersamaan yang terbuka bagi semua kalangan pada Kamis sore hingga malam.












