bernasnews — Umat Hindu Indonesia akan menyelenggarakan Upacara Tawur Agung Kesanga Nasional dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, bertempat di kawasan Candi Prambanan, tepatnya di Wisnu Mandala, pada Rabu, 18 Maret 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian utama menjelang perayaan Hari Suci Nyepi, yang bertujuan untuk mensucikan alam semesta serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Tawur Agung Kesanga merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi sebagai wujud spiritual umat Hindu dalam memohon keseimbangan dan kedamaian bagi alam semesta,” kata Nur Khotimah, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/3/2026).
Setiap tahun, menurut Nur Khotimah, bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia untuk melaksanakan ritual bersama di salah satu pusat peradaban Hindu Nusantara.
“Diperkirakan sekitar 20.000 hingga 25.000 umat Hindu dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, dan daerah lainnya akan hadir dalam kegiatan ini. Juga dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintah pusat dan daerah,” ungkapnya.
Lanjut Nur Khotimah menjelaskan, pada tahun ini, penyelenggaraan Tawur Agung mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga”. Tema ini diambil dari ajaran Kitab Maha Upanisad yang menegaskan bahwa seluruh makhluk hidup di bumi merupakan satu keluarga besar.
“Melalui tema tersebut, diharapkan terbentuknya kesadaran Budaya dengan mempromosikan pemahaman dan rasa hormat terhadap beragam budaya, tradisi, dan perspektif,” ujar Nur Khotimah, yang juga seorang Arkeolog dan Pegiat Budaya.
Selain sebagai ritual keagamaan, Tawur Agung di Prambanan juga menjadi ruang pertemuan budaya yang menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisi yang terinspirasi dari sejarah dan relief Candi Prambanan.
Salah satu sajian utama yang akan dipentaskan adalah Sendratari Candi Prambanan yang mengangkat kisah sejarah Rakai Pikatan dan Ratu Pramodhawardhani sebagai simbol toleransi dan harmoni antar keyakinan.
“Usai rangkaian acara sakral dan budaya, acara akan ditutup dengan Pawai Budaya Ogoh-ogoh yang berlangsung pada pukul 15:00–17:00 WIB, bertempat di area concourse kompleks Candi Prambanan,” pungkas Nur Khotimah, yang juga akrab disapa Nur Kesawa. (*/ ted)












