News  

Muhammadiyah Distribusikan 850 Paket Ramadan untuk Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat

Paket Ramadan untuk Palestina/Foto: Muhammadiyah

bernasnews– Tahun ini, semangat itu kembali mengalir dari Indonesia menuju Palestina. Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui MuhammadiyahAID dan LazisMu menyalurkan ratusan paket bantuan Ramadan bagi masyarakat Palestina yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Mereka menyiapkan 850 paket bantuan untuk warga di Gaza serta sejumlah kamp pengungsi di Tepi Barat. Program kemanusiaan ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan selama Ramadan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi keluarga yang bertahan di tengah keterbatasan.

Bantuan Ramadan untuk Palestina

Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan mendistribusikan bantuan Ramadan untuk masyarakat Palestina.

Program ini berlangsung melalui MuhammadiyahAID (MuAID) dan LazisMu dengan menggandeng mitra lokal Palestina, Witness–Shahid Center for Citizen Rights and Social Development.

Ketua Muhammadiyah Aid, Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan secara langsung melalui jaringan mitra lokal yang memahami kondisi di lapangan.

“Penyaluran bantuan dilakukan bekerja sama dengan mitra NGO lokal Palestina, Witness–Shahid Center for Citizen Rights and Social Development, agar distribusi tepat sasaran,” jelas Yayah pada Kamis (12/3).

Melalui kerja sama ini, Muhammadiyah memastikan bantuan sampai kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, terutama keluarga pengungsi dan warga rentan yang terdampak konflik serta krisis ekonomi.

Dalam program Ramadan Relief Initiative, Muhammadiyah menyiapkan total 850 paket bantuan yang terdiri dari dua jenis, yakni 350 paket sembako dan 500 paket iftar siap saji.

Paket-paket tersebut akan mereka bagikan kepada masyarakat Palestina di beberapa wilayah yang paling terdampak konflik.

  • Al-Mawasi (Gaza Selatan)
  • Kamp pengungsi Jenin
  • Kamp pengungsi Tulkarm
  • Kamp pengungsi Nur Shams
  • Kamp pengungsi Balata
  • Kamp pengungsi Al-Ain

Distribusi ini menyasar keluarga pengungsi, warga miskin, serta kelompok rentan yang kesulitan memperoleh bahan pangan di tengah situasi krisis.

Bantuan iftar siap saji akan dapat langsung keluarga penerima santap untuk berbuka puasa. Sementara itu, paket sembako dapat memenuhi kebutuhan makanan mereka selama beberapa waktu ke depan.

Al-Mawasi Gaza: Titik Pengungsian yang Kian Padat

Salah satu wilayah yang menjadi fokus distribusi bantuan adalah Al-Mawasi, sebuah kawasan di Gaza Selatan yang kini berubah menjadi lokasi pengungsian besar.

Menurut Yayah, wilayah tersebut mengalami lonjakan jumlah pengungsi sejak pertengahan 2024 setelah berbagai perintah evakuasi dikeluarkan di Gaza.

Banyak keluarga meninggalkan rumah mereka dan berpindah ke wilayah yang lebih aman, termasuk Al-Mawasi. Namun, kondisi di sana semakin memburuk seiring meningkatnya jumlah pengungsi dan rusaknya berbagai fasilitas umum.

“Kondisi di sana kini memburuk akibat hancurnya infrastruktur di tengah kepadatan pengungsi yang terus meningkat,” ujar Yayah.

Yayah menegaskan bahwa bantuan tersebut akan meringankan beban individu maupun keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi akibat konflik dan krisis berkepanjangan.

“Program ini diharapkan dapat membantu pemenuhan pangan bagi individu maupun keluarga rentan selama Ramadan,” ungkapnya.

Bagi banyak keluarga Palestina, Ramadan tahun ini beralan dengan kondisi yang jauh dari ideal. Banyak rumah hancur, mata pencaharian terhenti, dan harga bahan makanan meningkat tajam.

Di tengah situasi tersebut, bantuan kemanusiaan menjadi salah satu penopang utama bagi kelangsungan hidup mereka. Selain membantu kebutuhan pangan, program Ramadan ini juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Muhammadiyah sengaja melibatkan pemasok lokal dalam penyediaan bahan makanan dan paket bantuan. Langkah ini membantu menjaga aktivitas ekonomi di tengah krisis yang melanda Palestina.

“Program ini juga membantu pergerakan ekonomi setempat, terutama bagi pemasok retail serta penyedia bahan makanan di tengah krisis ekonomi yang melanda Palestina,” tambah Yayah.

Program Ramadan Relief Initiative bukanlah satu-satunya kerja sama Muhammadiyah dengan Witness–Shahid Center for Citizen Rights and Social Development.

Sebelumnya, pada periode 2024–2025, Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah telah melaksanakan program penguatan perdamaian. Program bertajuk Multicultural Dialogue and Capacity Building for Palestine: Peacebuilding Lab – Being a Change Agent.

Program ini berfokus pada penguatan kapasitas generasi muda Palestina agar mampu membangun perdamaian melalui dialog dan negosiasi tanpa kekerasan.

Melalui program tersebut, para pemuda Palestina mendapatkan pelatihan mengenai komunikasi lintas budaya, resolusi konflik, serta strategi membangun masyarakat yang lebih damai.

Bagi Muhammadiyah, aksi kemanusiaan ini tidak hanya sekadar bantuan material. Program ini juga menjadi bentuk nyata komitmen organisasi dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian di tingkat global. (ef linangkung)