bernasnews — Sore itu, suasana Pasar Karangmojo di Kabupaten Gunungkidul terasa berbeda dari biasanya. Menjelang waktu berbuka puasa, aroma masakan hangat bercampur dengan suara riuh warga yang berkumpul di sekitar perempatan. Di tengah keramaian itu, sejumlah chef dan relawan tampak sibuk membagikan paket makanan kepada para pengendara, pedagang, hingga warga yang melintas.
Namun, kegiatan berbagi takjil tersebut bukan sekadar aksi sosial biasa. Sanggar Pawon bersama SPPG Jatiayu Karangmojo memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk menu, kandungan gizi, hingga transparansi anggarannya.
Kegiatan yang digelar pada Minggu sore (8/3/2026) itu, menghadirkan pendekatan yang tidak lazim dalam sosialisasi program publik. Alih-alih hanya menggunakan selebaran atau sosialisasi formal, mereka memilih cara yang lebih membumi: membagikan langsung menu MBG yang biasa dikonsumsi para siswa.
Membagikan Menu MBG Sekaligus Edukasi Gizi
Para relawan yang terlibat dalam kegiatan tersebut membagikan ratusan paket makanan kepada masyarakat yang sedang menunggu waktu berbuka puasa. Setiap paket takjil tidak hanya berisi makanan siap santap, tetapi juga dilengkapi brosur yang menjelaskan rincian anggaran serta kandungan gizi dari menu yang diberikan.
Melalui cara ini, masyarakat dapat melihat secara langsung seperti apa bentuk makanan yang menjadi bagian dari program MBG. Mereka juga bisa memahami bagaimana komposisi gizi disusun serta bagaimana anggaran makanan tersebut dialokasikan.
Di salah satu sudut perempatan Pasar Karangmojo, panitia juga memasang pengeras suara. Melalui alat tersebut, tim dari Sanggar Pawon menyampaikan narasi edukatif mengenai program MBG, mulai dari proses pengolahan makanan hingga pentingnya standar kebersihan dan kualitas bahan pangan.
Pendekatan edukatif tersebut menarik perhatian warga sekitar. Banyak warga yang berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan sambil menikmati hidangan berbuka yang dibagikan secara gratis.
Mengusung Konsep Ekonomi Kerakyatan
Ketua Umum Sanggar Pawon Grup, Andi Widiatmoko, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi takjil tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar kegiatan sosial.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenalkan konsep ekonomi kerakyatan yang menjadi fondasi program MBG.
“Kegiatan ini memang berbagi, tetapi juga menjadi sarana edukasi. Karena asas Sanggar Pawon Grup sendiri adalah ekonomi kerakyatan dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” kata Andi.
Menurutnya, program MBG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga berupaya menggerakkan ekonomi masyarakat lokal melalui keterlibatan pelaku usaha kecil.
Dengan pendekatan tersebut, program MBG diharapkan mampu menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan antara produsen bahan pangan, pengolah makanan, hingga penerima manfaat.
Proses Memasak Diawasi Chef Bersertifikasi
Dalam kesempatan itu, Andi juga menekankan pentingnya proses pengolahan makanan dalam program MBG. Ia menjelaskan bahwa standar operasional prosedur (SOP) memasak menjadi salah satu elemen paling krusial untuk menjaga kualitas makanan.
Setiap proses pengolahan makanan, mulai dari persiapan bahan hingga penyajian, mengikuti prosedur yang ketat. Tim dapur memastikan kebersihan, keamanan, serta keseimbangan gizi setiap menu yang disajikan.
Ia menegaskan bahwa chef bersertifikasi hotel bintang lima turut mengawasi proses memasak tersebut untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
“Di tengah banyaknya kritik tentang MBG, kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa proses SOP memasak yang kami lakukan benar-benar terjaga,” ujar Andi.
Melalui transparansi tersebut, pihaknya berharap masyarakat dapat memahami bahwa program MBG tidak hanya mengutamakan kuantitas makanan, tetapi juga kualitasnya.
Libatkan 180 UMKM Gunungkidul
Program MBG yang dijalankan Sanggar Pawon juga menekankan keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Andi menyebutkan bahwa saat ini sekitar 180 UMKM di Gunungkidul telah terlibat dalam rantai pasok program tersebut.
Para pelaku UMKM tersebut menyediakan berbagai bahan baku yang dibutuhkan dalam penyusunan menu MBG, mulai dari sayuran, lauk pauk, hingga bahan pangan lainnya.
Dengan sistem tersebut, program MBG mampu menciptakan efek ekonomi berantai atau multiplier effect bagi masyarakat lokal.
Tidak hanya UMKM, para petani juga ikut dilibatkan dalam sistem produksi bahan pangan. Tim Sanggar Pawon memberikan edukasi kepada para petani mengenai cara menanam bahan baku berkualitas yang sesuai dengan standar kebutuhan program MBG.
Bahan pangan yang dihasilkan kemudian dibeli dengan harga yang layak agar tetap memberikan keuntungan bagi para petani.
Menggerakkan Petani Lokal
Untuk menjaga kualitas bahan baku, Sanggar Pawon bekerja sama dengan kelompok petani Konco Tani yang berbasis di wilayah Ponjong dan Karangmojo.
Kerja sama tersebut memungkinkan pasokan bahan pangan berasal langsung dari Gunungkidul tanpa harus bergantung pada daerah lain.
“Bahan kita pasok dari Gunungkidul, sehingga tidak perlu mencari dari daerah lain seperti Magelang. Harapannya kita bisa ikut berkontribusi pada perputaran ekonomi daerah,” jelas Andi.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang saling terhubung antara petani, pelaku UMKM, hingga penyedia layanan dapur program MBG.
Edukasi Publik Lewat Cara Sederhana
Kegiatan berbagi takjil di Pasar Karangmojo menunjukkan bahwa edukasi program publik tidak selalu harus dilakukan melalui forum formal atau sosialisasi resmi. Dengan pendekatan sederhana yang langsung menyentuh masyarakat, pesan tentang gizi, transparansi anggaran, serta pentingnya ekonomi kerakyatan justru lebih mudah diterima.
Di tengah senja Ramadhan yang perlahan turun, ratusan paket makanan berpindah tangan kepada warga yang tersenyum menyambut waktu berbuka. Di balik setiap paket takjil itu tersimpan pesan yang lebih besar: tentang gizi yang lebih baik bagi generasi muda, tentang petani yang tetap berdaya, dan tentang UMKM yang terus bergerak menghidupi roda ekonomi daerah.
Melalui langkah kecil di perempatan Pasar Karangmojo itu, Sanggar Pawon dan SPPG Jatiayu mencoba menunjukkan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya soal makanan di atas piring, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kebijakan dapat menghidupkan masyarakat dari hulu hingga hilir. (nun/ lin)












