bernasnews – Buku cerita anak dua bahasa (Jawa – Indonesia) “Nyuwita ing Karaton” (Mengabdi di Keraton) merupakan buku kedua Raden Toto Sugiharto yang berhasil sebagai naskah terpilih dalam Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa (Jawa – Indonesia) Tahun 2025.
“Buku pertama saya berjudul ‘Labuhan Merapi’ juga terpilih dalam sayembara serupa yang dihelat Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2024,” kata Toto Sugiharto kepada bernasnews pada acara Diseminasi Produk Penerjemahan Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa DIY di Platinum Adisutjipto Hotel & Conference Center Yogyakarta, Selasa (1612/2025).
Menurut Toto, dia sengaja memilih tema budaya karena menjadi identitas dan ikon DIY yang khas dan unik. Pada penulisan “Labuhan Merapi” kebetulan beberapa kali berkesempatan mengikuti upacara labuhan di lereng Gunung Merapi. Sedangkan pada pilihan topik abdi dalem Keraton Yogyakarta karena dia memiliki beberapa kawan dan kerabat yang menjadi abdi dalem.
“Selain itu, saya terobsesi untuk ikut melestarikan dan menularkan kemampuan membaca dan menulis aksara Jawa, terutama dengan memanfaatkan teknologi digital agar aksara Jawa mendunia melalui dunia maya maupun dunia nyata.” kata dia.
Buku “Nyuwita ing Karaton” dia tulis di sebuah hotel di Kota Bondowoso, Jawa Timur pada 29 hingga 30 April 2025. Begitu masuk hotel, dia membuka laptop dan menulis selama lima jam, mulai dari pukul 22.00 hingga 03.00 WIB. Tetapi, naskah tersebut belum selesai karena harus dilengkapi kolom keterangan ilustrasi cerita untuk setiap halaman. Sementara pagi hingga siang harinya tanggal 1 Mei 2025 dia menjadi narasumber bedah buku Novel Menggapai Matahari karya Adnan Katino.
Usai acara bedah buku, pada saat makan siang, dia memanfaatkan kesempatan dengan cara menulis masing-masing keterangan ilustrasi untuk 18 halaman cerita dengan cara ditulis dulu di folder Catatan di ponsel dan mengirimkannya ke Chat WA pribadi (nomor sendiri).
“Hari itu dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, saya berhasil menyelesaikan semua kolom keterangan ilustrasi cerita. Saya masih memiliki waktu untuk pengiriman naskah hingga pukul 23.59 WIB. Setiba di rest area Mojokerto pukul 18.00-an, sembari menikmati menu makan malam di sebuah resto, saya menginput keterangan ilustrasi cerita dari Chat WA ke naskah di laptop. Hingga pukul 20.30 pengisian kolom ilustrasi cerita pun selesai. Saya masih punya waktu tiga jam 29 menit.
Namun, sebaliknya, pada saat saya hendak mengirim file naskah, mendadak jaringan ngadat. Ternyata kuota internet di ponsel saya habis. Saya kemudian menggunakan hotspot dari smartphone kawan tim bedah buku dari Yogyakarta. Dan, file pun terkirim,” kata dia lega.
ISI BUKU “NYUWITA ING KARATON”
Menurut Toto yang giat dalam proram Sastrawan Masuk Sekolah ini, buku cerita anak berbahasa Jawa “Nyuwita ing Karaton” karya Raden Toto Sugiharto mengisahkan Seno, anak berusia 10 tahun yang pandai menulis dan membaca aksara Jawa. Kepandaian Seno diperoleh dari ayahnya, Pak Suwito, dari proses didikan ayahnya itu. Kepandaian Seno membuat kagum orang asing, Michael asal Inggris yang minta dibacakan teks beraksara Jawa.
Di sisi lain, warga kurang menghargai kepandaian Pak Suwito karena dia menganggur akibat diberhentikan dari pekerjaannya lantaran perusahaan tempat kerjanya mengalami kebangkrutan. Istrinya, Bu Siti akhirnya memaksa suaminya mau bekerja di perusahaan tempat kerja kakak iparnya, Susilo di Jakarta. Bu Siti melihat kehidupan Susilo cukup berhasil selama hidup merantau di ibukota. Sebaliknya, Pak Suwito juga bersikeras ingin tetap hidup di desanya yang tenang karena tidak diburu waktu.
Sebagai usaha untuk memperbaiki kehidupannya, Pak Suwito berkreasi menciptakan aksara Jawa gaya terbaru dan mendesain kaos beraksara Jawa hasil kreasinya di internet. Hasilnya, banyak pembeli yang berminat. Kreativitas Pak Suwito diketahui oleh Pak Subarjono, guru Bahasa Jawa yang juga tetangganya. Pak Suwito mendapat kesempatan menjadi guru honorer mengampu mata Pelajaran ekstrakurikuler Bahasa Jawa.
Sejak itu kehidupan Pak Suwito mulai membaik. Lebih-lebih Pak Suwito juga berkesempatan mengikuti sayembara menulis aksara Jawa. Pak Suwito berhasil memenangkan sayembara dan mendapatkan hadiah yang dimanfaatkan untuk buka warung sembako Bu Siti. Sementara itu, tetangganya, Mas Satriya yang menjadi abdi dalem di Keraton Yogyakarta menawarkan dan menyarankan Pak Suwito mengajukan lamaran menjadi abdi dalem. Tawaran dan saran tersebut akhirnya dipemuhi Pak Suwito dan hasilnya, Pak Suwito diterima menjadi abdi dalem. (mar)












