bernasnews — Yayasan Chakra Mandhala Nusantara (YCMN) berkarya bersam Paksi Katon, dan Dewan Adat Tradisi Mataram, menyelenggarakan Ruwat Tirtha Mandhala atau Laku Nunggal Banyu, sebuah laku budaya untuk menjawab ancaman krisis air, Sabtu (13/12/2025).
Prosesi dimulai dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dengan dilakukan penuangan air dan pemecahan kendi oleh K.R.T Condro Padmonagoro, lalu dilanjutkan dengan membawa dan menuangkan air ke enam sungai yang melingkupi Sumbu Filosofi Yogyakarta.
“Kegiatan ini merupakan bentuk keprihatinan atas krisis air yang semakin nyata, sekaligus ajakan untuk membangkitkan kesadaran ekologis, terutama terkait air,” kata Ketua Yayasan Chakra Mandhala Nusantara, IM. Renny Kusuma Wardhany, dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Renny, meskipun Sumbu Filosofi Yogyakarta telah diakui dunia, namun kondisi ekologis sungai- sungai yang mengapitnya semakin tercemar, rusak, dan mengalami penyusutan sumber air bersih.
“Krisis air dipicu oleh perilaku masyarakat yang menjauh dari kearifan lokal yang memuliakan air. Berbagai komunitas sudah bergerak, namun penyadaran publik dan dukungan kebijakan masih belum mencukupi,” tegasnya.
Laku Nunggal Banyu hadir sebagai gerakan budaya, bukan sekadar acara, dengan tiga tujuan utama:
- Meningkatkan kesadaran akan nilai sakral dan vitalitas air dalam kehidupan dan filosofi Jawa.
- Menjawab krisis air melalui ajakan aksi kolektif memulihkan dan melestarikan sumber air di sepanjang Sumbu Filosofi.
- Merawat ingatan budaya dengan menghubungkan kembali masyarakat pada warisan leluhur melalui ritual dan kearifan lokal.
“Laku Nunggal Banyu adalah panggilan untuk merawat air di wilayah kita. Krisis air yang mengancam Yogyakarta adalah pertanda kita melupakan pesan filosofis nenek moyang,” terang Renny.
“Kami mengajak masyarakat, komunitas, dan pemerintah untuk bersama mencari solusi berbasis Kesadaran Kolektif pada Kearifan Lokal dan Kecerdasan Lokal,” mbuhnya.
Gelar budaya ini diharapkan dapat menyatukan langkah semua pemangku kepentingan dan kebijakan untuk menjaga Sumbu Filosofi tidak hanya sebagai simbol warisan budaya, tetapi sebagai ekosistem hidup yang harus dipulihkan dan dijaga secara berkelanjutan. (*/ ted)












