bernasnews – Mengubah rasa sakit menjadi tawa bukan sekadar teknik panggung, tetapi sering kali menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Premis inilah yang hadir kuat dalam film terbaru Suka Duka Tawa, karya BION Studios dan Spasi Moving Image, yang mengawali perjalanannya di JAFF 2025. Film ini bukan sekadar drama keluarga, melainkan potret tentang bagaimana luka batin dan trauma diproses melalui komedi, membentuk realitas baru sebagai mekanisme proteksi diri.
Suka Duka Tawa menjadi debut penyutradaraan bagi Aco Tenriyagelli. Ia mengungkapkan bahwa film tersebut mengeksplorasi tema keluarga dari sudut pandang relasi anak dan bapak. Cerita mengikuti perjalanan Tawa (diperankan Rachel Amanda), seorang komika Stand Up Comedy yang baru merintis kariernya. Sejak kecil, Tawa ditinggal oleh bapaknya yang menjadi komedian terkenal di televisi dan hidup bersama ibunya.
Dengan latar itu, film menghadirkan narasi emosional yang membumi, terutama bagi mereka yang tumbuh dengan luka namun memilih menertawakannya agar tetap hidup.
Trauma yang Diolah Jadi Komedi
Bagi Rachel Amanda, karakter Tawa bukan sekadar tokoh fiktif, tetapi refleksi banyak orang yang menjadikan humor sebagai ‘penyelamat’.
“Tawa mengolah duka menjadi lelucon gitu. Kayak ya justru karena panggung setelah komedi tuh ya hadir buat menertawakan itu gitu. Jadi ya kalau kehidupan aslinya Tawa adalah orang yang mungkin kurang beruntung dan kehidupannya lebih terasa bapaknya gak ada, ya panggung justru tetap bagaimana senang-senang gitu,” kata Amanda.
Ungkapan ini menegaskan bahwa bagi Tawa, tawa bukan tujuan, melainkan tameng emosional.
Teuku Rifnu Wikana yang memerankan sang ayah, Keset, melihat karakter tersebut sebagai representasi banyak laki-laki yang menyimpan luka secara diam-diam demi terlihat kuat.
“Aku mewakili seluruh bapak-bapak yang ada di luar sana itu karena pada dasarnya Keset ini sebenarnya pengen membahagiakan keluarga, pengen menjadi pelawak terkenal, tapi yang bawa sabar. Kadang-kadang itu tekanan itu yang membuat kita itu gak kuat,” ungkapnya.
Rifnu menambahkan bahwa meski cara Keset meninggalkan keluarga secara manusiawi salah, ia tetap membawa keyakinan bahwa pembuktiannya sebagai laki-laki dan kepala keluarga menjadi bentuk kebenaran bagi dirinya.
“Jadi aku tetap membawa kebenaran itu sampai aku sukses, sampai aku bisa mengebuktiin, walaupun pada akhirnya aku membuat lubang yang terlalu besar untuk istriku, untuk anakku dan itu agak sulit sih untuk disembuhkan,” jwlasnya.
Sementara itu, karakter ibu yang diperankan Marissa Anita juga memegang peran penting dalam dinamika emosi film. Ia menggambarkan bagaimana luka seseorang bisa diwariskan, meski tanpa niat.
“Kalau ibu cantik itu adalah seorang ibu yang trauma karena ditinggal sama suaminya kan, dia pasti akan memastikan anak perempuannya harus mandiri. Jadi trauma responsenya dia tumpahkan juga ke anaknya dia,” jelasnya.
Marissa menegaskan bahwa cara sang ibu bereaksi bukan sepenuhnya tepat, namun dapat dipahami karena trauma terkadang bekerja tanpa disadari.
Antusiasme di JAFF 2025 dan Jadwal Tayang Nasional
Kekuatan narasi emosional film ini menjadi salah satu alasan Suka Duka Tawa terpilih sebagai Closing Film JAFF 2025, yang diputar pada 6 Desember 2025 di Empire XXI Yogyakarta. Aco sendiri masih terkejut atas pencapaian tersebut.
“Biasanya yang diputar di final film itu yang punya mentor-mentor. Nggak menyangka bisa diputar,” pungkasnya.
Suka Duka Tawa akan tayang secara serentak di jaringan bioskop seluruh Indonesia pada 8 Januari 2026. Film ini ditulis oleh Indriani Agustina, dengan Tersi Eva Ranti dan Ajish Dibyo sebagai produser. Dibintangi oleh Rachel Amanda, Marissa Anita, Teuku Rifnu Wikana, dan Enzy Storia, film ini menjadi salah satu judul lokal yang telah dinanti publik.












