bernasnews — Suasana malam di lereng Merapi kembali mencekam. Tepat pukul 19.33 WIB, Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya ke hulu Kali Krasak.
Kejadian ini tercatat oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dengan amplitudo maksimal 21 mm dan durasi 101,3 detik. Angin pada saat kejadian bertiup ke arah timur.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa mengonfirmasi bahwa aktivitas tersebut masih berada dalam dinamika vulkanik Merapi yang menunjukkan suplai magma aktif. Awan panas guguran kali ini merupakan bagian dari proses alami Gunung Merapi.
“Masyarakat kami imbau untuk tetap tenang, tetapi selalu waspada dan mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Aktivitas Masih Tinggi, Gunung Merapi Berstatus Siaga Level III
Berdasarkan laporan MAGMA-VAR (Volcanic Activity Report) periode pengamatan 12 November 2025 pukul 12.00–18.00 WIB, Gunung Merapi yang menjulang setinggi 2.968 mdpl menunjukkan aktivitas kegempaan yang cukup intens.
Dalam enam jam pengamatan, tercatat 20 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 mm dan durasi 39,57–153,97 detik. Sebanyak 23 kali gempa hybrid/fase banyak terjadi dengan amplitudo 2–31 mm dan durasi hingga 40,18 detik.
Kondisi cuaca saat itu terpantau mendung dengan suhu udara 18,6–21,5 °C dan kelembaban 89,8–91,7 persen. Meskipun puncak gunung sempat tertutup kabut, aktivitas guguran tetap terdeteksi jelas oleh alat pemantau.
“Suplai magma dari dalam tubuh gunung masih terus berlangsung. Hal ini bisa memicu awan panas guguran sewaktu-waktu, terutama di dalam daerah potensi bahaya,” terang Agus Budi.
Potensi Bahaya Meluas, Warga Diminta Waspada
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini meliputi sektor selatan–barat daya, yaitu Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Di sektor tenggara, bahaya mengancam sekitar Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Selain itu, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Masyarakat di daerah potensi bahaya diminta tidak melakukan aktivitas apa pun, termasuk penambangan, penggembalaan ternak, atau wisata di radius berbahaya.
BPPTKG juga mengingatkan warga di lereng Merapi agar mewaspadai potensi hujan abu dan bahaya lahar dingin. Saat musim hujan, material vulkanik di puncak Merapi mudah terseret ke sungai-sungai sekitar kawasan, terutama di Kali Gendol, Krasak, Boyong, dan Bebeng.
“Warga harus selalu siaga, terutama saat hujan deras mengguyur puncak Merapi. Bahaya lahar bisa datang tiba-tiba tanpa tanda,” tegas Agus Budi.
BPPTKG meminta masyarakat hanya mengikuti informasi resmi dari kanal Badan Geologi melalui Instagram @badan.geologi dan WhatsApp Channel Badan Geologi.
“Jangan terpancing isu atau informasi tidak jelas sumbernya. Kami terus memantau aktivitas Merapi 24 jam penuh. Jika ada perubahan signifikan, tingkat aktivitas akan segera ditinjau kembali,” ujar dia. (Eln)












