bernasnews – Momentum Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November dimanfaatkan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih untuk menegaskan pentingnya kualitas pengasuhan dan tanggung jawab moral terhadap pertumbuhan generasi muda.
Di hadapan peserta sosialisasi yang terdiri dari Pengurus IGTKI, Penyuluh Sosial, dan berbagai mitra pentahelix, ia memaparkan urgensi pola asuh yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Bupati Endah menekankan tiga pilar pola asuh positif. Ia menyampaikan bahwa anak usia dini merupakan fondasi utama pembangunan manusia, di mana perkembangan pesat terjadi dan menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
“Tiga pilar pola asuh memegang peran penting. Pengasuhan berkualitas menjadi kunci terbentuknya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Kita harus memberikan stimulasi tepat, menghadirkan lingkungan positif, serta menciptakan hubungan emosional yang aman dan hangat,” ujar Bupati Endah.
Ia menegaskan peran strategis guru sebagai mitra keluarga dalam memperkuat pola asuh positif. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan disebut sebagai fondasi penting untuk memastikan tumbuh kembang anak berlangsung menyeluruh.
Pada peringatan bertema “My Day, My Rights”, Bupati Endah menyampaikan bahwa pemenuhan hak anak tidak hanya berbasis hukum, tetapi merupakan amanah yang harus dijalankan bersama.
“Suara anak memiliki nilai besar. Pengalaman mereka berbeda dari orang dewasa dan membutuhkan pemenuhan kebutuhan khusus agar mereka dapat tumbuh optimal,” kata Bupati.
Ia berharap elemen masyarakat dapat bekerja sama menghadirkan lingkungan ramah anak serta memastikan proses pengasuhan berlangsung positif, berkualitas, dan hangat.
“Semoga momentum ini meneguhkan komitmen kita bahwa hari mereka adalah pengingat, dan hak mereka adalah tanggung jawab kita bersama,” pesannya.
Plt Kepala Dinas Sosial P3A Gunungkidul, Markus Tri Munarja, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini melibatkan mitra yang menangani isu anak seperti PKH, TKSK, SATGAS PPA, PEKSOS, LKSA, PUSPAGA, HIMPAUDI, IGTKI-PGRI, serta Forum Anak Kabupaten Gunungkidul.
“Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengasuh anak, sehingga pelayanan terhadap anak semakin ramah dan profesional,” ujar Markus.
Kunjungan ke LPKA dan Peninjauan Fasilitas
Setelah rangkaian edukasi, kegiatan berlanjut dengan kunjungan ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta.
Kunjungan ini diisi penguatan psikologis oleh Psikolog UPT PPA, Desti Fatmasari, dengan materi “Merajut Kembali Ikatan: Pengasuhan dan Penerimaan Anak Pasca Rehabilitasi.”
Tujuannya menjaga kehangatan hubungan antara anak binaan dan orang tua selama proses pembinaan.
Suasana haru terlihat saat Bupati Endah memasuki area lembaga. Anak-anak binaan menunjukkan semangat belajar dan berkarya, termasuk kegiatan ketahanan pangan melalui penanaman dan perawatan bibit.
“Ini luar biasa. Anak-anak di sini melaksanakan ketahanan pangan, menanam bibit, dan merawatnya dengan penuh dedikasi. Saya sangat bangga,” ucap Bupati.
Sebagai Kepala Daerah, Bupati Endah memastikan fasilitas dan program pembinaan berjalan baik. Ia meninjau dapur sehat, klinik, ruang tidur, serta ruang pendidikan.
“Tadi saya berkeliling ditemani Kepala Lapas. Fasilitasnya lengkap, bahkan tempat tidurnya sangat nyaman. Ini memberi harapan bahwa pembinaan dilakukan dengan sangat baik,” jelasnya.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada LPKA karena memastikan anak binaan tetap dapat mengikuti pendidikan formal.
“Tadi saya konfirmasi ke Kepala Dinas Pendidikan. Anak-anak yang selesai menjalani masa pembinaan tetap bisa kembali bersekolah,” tegasnya.
Kunjungan turut dihadiri Kapolres Gunungkidul AKBP Miharni Hanapi serta jajaran Dinas Sosial P3A Gunungkidul.
Seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga hak anak dan memastikan lingkungan tumbuh kembang yang aman dan ramah.
Dengan sinergi lintas sektor, Pemerintah Gunungkidul menegaskan bahwa pengasuhan berkualitas adalah investasi jangka panjang untuk masa depan.
Semua pihak diharapkan dapat memperkuat peran dalam pemenuhan hak setiap anak agar mereka memiliki hari yang layak dirayakan sebagai “Hariku, Hakku.”












