bernasnews — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY bekerja sama dengan Ikatana Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY menyelenggarakan diskusi terbatas dengan topik “Mendorong Pengembangan Wisata Ramah Muslim DIY”, bertempat di Hotel Novotel Suite, Yogyakarta, Selasa, 11 November 2025.
Narasumber utama sebagai pematik diskusi adalah Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY; Edy Suandi Hamid, Ketua MES DIY, dan Gumilang Aryo Sahadewo , Wakil Ketua Bidang Akademik ISEI Cabang Yogyakarta. Bertindak selaku moderator Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY, yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.
Acara diskusi terbatas ini dihadiri sekitar 15 peserta, yang merupakan perwakilan dari KPwBI DIY serta pengurus ISEI Cabang Yogyakarta dan MES DIY. Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta yang hadir antara lain, Rudy Badrudin, Dian Ariani, dan Dorothea Wahyu Ariani.
“Sementara dari KPwBI DIY juga hadir Hermanto, Deputi Kepala Perwakilan BI DIY). Dari Pengurus MES DIY hadir Budiharta Setyawan, Coach Wulan, Alghifari dan Taufik Ridwan,” kata Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (12/11/2025).
Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo sebagai pematik diskusi mengemukakan, bahwa engan inovasi potensi pariwisata DIY dapat terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut Sudibyo, aktivitas pariwisata menjadi motor penggerak ekonomi lokal di DIY, terutama di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Gunungkidul. Sektor pariwisata menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang luas, salah satunya meningkatkan permintaan terhadap produk lokal seperti kuliner, kerajinan, fashion, dan UMKM.
“Pariwisata menjadi motor penggerak ekonomi lokal di DIY, terutama di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Gunungkidul. Pariwisata menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luas, salah satunya meningkatkan permintaan terhadap produk lokal seperti kuliner, kerajinan, fesyen dan UMKM,” jelas Sudibyo, yang rutin jalan kaki menuju kantornya.
Dikatakan, pariwisata menyerap tenaga kerja formal dan informal di berbagai subsektor. Jumlah pekerja sektor Pariwisata DIY sebanyak 292.601 orang atau 12,94% angkatan kerja DIY. Dari aktivitas pariwisata juga merupakan sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pariwisata memberikan kontribusi langsung terhadap PAD melalui beberapa jenis pajak daerah dan retribusi jasa usaha yang bersumber dari aktivitas wisatawan, dengan pangsa sebesar 28% (Rp1,6 trilyun) dari total PAD di DIY (Rp5,7 trilyun) tahun 2024.
“Jelang akhir tahun 2025, pergerakan wisatawan ke DIY diprakirakan meningkat,” ungkap Sudibyo. Menurutnya, kondisi tersebut seiring dengan pelonggaran kebijakan efisiensi pemerintah yang mendorong peningkatan aktivitas MICE di DIY serta rencana stimulus diskon tarif angkutan pada momentum Nataru (Natal dan Tahun Baru)
Pada bagian lain, Edy Suandi Hamid menyatakan bahwa di berbagai negara, pariwisata halal bagi wisatawan Muslim telah berkembang pesat dan menjadi salah satu segmen industri pariwisata yang strategis.
Menurut Edy Suandi, di kota-kota besar seperti New York, akses terhadap fasilitas ibadah, termasuk masjid yang mudah dijangkau, telah memudahkan kebutuhan spiritual para wisatawan. Selain itu, ketersediaan makanan halal yang beragam dan tersertifikasi secara luas semakin mendukung kenyamanan dan pengalaman wisata halal yang terpadu, sehingga menarik minat wisatawan Muslim dari berbagai belahan dunia.
“Mengingat DIY sebagai kota berbasis pariwisata, dirasa penting apabila saat ini pariwisata DIY mulai merambah ke pariwisata halal atau pariwisata ramah muslim,” ujar Edy Suandi Hamid, yang juga Rektor UWM Yogyakarta.
“Peningkatan pariwisata halal di Indonesia, utamanya di DIY juga dapat didorong oleh perluasan layanan penerbangan internasional, termasuk tersedianya penerbangan langsung (direct flight) dari negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi,” harap Gumilang, yang juga dosen FEB UGM Yogyakarta.
Menurut Gumilang, langkah ini bertujuan untuk mendorong peningkatan lama tinggal (length of stay) wisatawan Muslim, menarik lebih banyak wisatawan asing, serta meningkatkan pengeluaran mereka selama kunjungan.
Dengan demikian, konektivitas penerbangan yang lebih baik menjadi salah satu faktor strategis dalam mengoptimalkan potensi ekonomi pariwisata halal dan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi yang ramah bagi wisatawan Muslim.
“Dalam diskusi terbatas tersebut, sebelum acara berlangsung seluruh peserta makan malam bersama terlebih dahulu. Kemudian di akhir acara seluruh peserta juga mendapat cindera mata dari KPwBI DIY,” ujar Y. Sri Susilo, yang juga Ketua Pokdarwis Panembahan Grumegah, di Kemantren Kraton, Yogyakarta. (*/ ted)












