News  

BGN Perketat Standar Higienis MBG, 18 SPPG Sudah Beroperasi di Kota Yogyakarta, 24 Lagi dalam Persiapan

Ilustrasi | BGN perketat standar SLHS di Kota Yogyakarta, 42 SPPG disiapkan untuk MBG. (bernasnews)

bernasnews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Yogyakarta terus berjalan dengan penyesuaian ketat di lapangan.

Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan seluruh titik layanan, baik yang sudah beroperasi maupun yang masih disiapkan, wajib memenuhi standar higienis sebelum menyajikan makanan untuk anak-anak penerima manfaat.

Setelah sebuah sekolah mengalami kasus keracunan makanan, BGN melakukan peninjauan menyeluruh. Kejadian tersebut menjadi dasar penegasan ulang agar setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjalankan protokol sanitasi sesuai aturan.

Dalam catatan pemerintah, terdapat 42 SPPG di Kota Yogyakarta. Sebanyak 18 titik sudah beroperasi setiap hari, sedangkan 24 lainnya dalam pembangunan dan persiapan operasional.

BGN Tegaskan Disiplin dan Pengawasan

Diberitakan tugujogja.id, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjend (Purn) Dadang Hendrayudha, menyampaikan bahwa standar kebersihan tidak bisa dinegosiasikan. Menurutnya, langkah penutupan sementara diberlakukan pada fasilitas yang belum memenuhi ketentuan.

“Yang ada kejadian (keracunan) langsung kita tutup. Setelah itu, kita lakukan evaluasi menyeluruh mulai dari tata kelola, rantai pasok, hingga kualitas bahan baku. Tujuan kita jelas, memberikan makan bergizi, aman, dan layak untuk anak-anak,” ujar Dadang seusai pertemuan dengan jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta di Balai Kota, Kamis, 6 November 2025.

Ia meminta agar SLHS tidak diterbitkan tanpa pemeriksaan lengkap. Menurut Dadang, keterlibatan banyak pihak dibutuhkan untuk menjamin keamanan pangan.

“Saya meminta kepada Dinas Kesehatan, jangan mudah mengeluarkan SLHS. Ada prosedur yang harus dilalui, mulai dari kondisi dapur, sistem pembuangan limbah (IPAL), hingga kebersihan penjamah makanan. Semua itu penting untuk menjamin keamanan anak-anak kita,” tegasnya.

Selain dokumen kelayakan sanitasi, BGN juga mengharuskan adanya pelatihan bagi penjamah makanan di setiap SPPG.

124 Ribu Anak Menjadi Penerima Manfaat

Program MBG melibatkan penerima manfaat dalam jumlah besar. BGN mencatat 124.003 anak di Kota Yogyakarta terdaftar sebagai penerima makanan bergizi harian. Menurut Dadang, sistem pengawasan tidak boleh hanya mengandalkan pemerintah pusat.

“Kita ingin program ini diawasi banyak pihak — pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, BPOM, bahkan masyarakat. Dengan begitu, manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak dan tidak ada lagi kejadian yang merugikan,” jelas Dadang.

Hingga awal November 2025, 18 SPPG sudah menyediakan layanan harian dan 24 lainnya menunggu pemenuhan standar.

Pemkot Yogyakarta Perketat Kualitas Air Bersih

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa hasil evaluasi BGN memperjelas standar pelaksanaan MBG bagi seluruh instansi daerah, termasuk unsur Polresta dan Kodim.

“Kami merasa lebih jelas tentang BGN dan program MBG. Arahan yang diberikan mempertegas bahwa SPPG harus disiplin, tertib, dan higienis. Pemkot Yogyakarta siap melaksanakan seluruh instruksi BGN agar program ini benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Hasto.

Terkait kasus keracunan sebelumnya, hasil laboratorium menunjukkan bakteri E. coli pada buah dan sayur. Kesimpulan sementara menunjukkan proses pencucian menggunakan air yang tidak steril.

“Pak Deputi menyarankan agar pencucian bahan makanan menggunakan air galon atau air perpipaan dari PDAM yang terjamin kebersihannya. Kalau menggunakan air keran, wajib dipasang filter untuk menyingkirkan E. coli.
Saya sudah perintahkan Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan air di setiap lokasi SPPG sebelum beroperasi,” ujarnya.

Dampak Program bagi Anak dan Ekonomi Lokal

Selain memberikan makanan gratis, program MBG diarahkan untuk meningkatkan kesadaran hidup bersih.

Pemerintah berharap anak-anak memiliki kecukupan gizi sekaligus memahami pentingnya kebersihan pangan. Menurut Hasto, manfaat ekonomi juga terasa ke sektor lokal seperti petani sayur dan penyedia katering.

“Program ini tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga menyejahterakan masyarakat. Karena itu, kami akan terus disiplin, memastikan setiap makanan yang disajikan benar-benar aman dan bergizi,” pungkasnya. (Eln)