bernasnews – Situasi darurat terjadi di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, pada Rabu, 29 Oktober 2025. Dua sekolah negeri, yaitu SMPN 1 Saptosari dan SMKN 1 Saptosari, mendadak berhadapan dengan ratusan siswa yang jatuh sakit secara bersamaan.
Peristiwa ini diduga terkait konsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya, Selasa, 28 Oktober 2025.
Gejala mulai terasa beberapa jam selepas jam makan siang. Pada Selasa malam, laporan keluhan datang dari puluhan siswa yang mulai merasakan mual, pusing, sakit perut, hingga diare berkali-kali. Namun, situasi semakin memburuk pada Rabu pagi ketika jumlah korban bertambah drastis.
Data sementara dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mencatat sedikitnya 695 siswa mengalami gejala serupa. Tidak hanya pelajar, sekitar 10 guru dan karyawan sekolah ikut merasakan sakit setelah mencicipi makanan yang sama.
Lonjakan jumlah pasien membuat pihak sekolah segera menghubungi Puskesmas Saptosari untuk penanganan darurat.
Gejala Muncul Serentak, Ruang Perawatan Penuh
Salah satu siswa SMPN 1 Saptosari, Adista Yuan Ramadani, ikut merasakan dampaknya. Ia tampak lemah saat ditemui di puskesmas.
“Semalam sakit perut, pusing sama mencret berkali-kali. Banyak teman juga yang sakit,” ujar Adista seperti diberitakan tugujogja.id.
Menurut penuturan para guru, tanda-tanda keracunan mulai terdeteksi sejak Selasa malam ketika beberapa siswa mengeluh kondisi tubuh menurun. Namun skala kejadian baru terlihat jelas keesokan harinya.
Tenaga kesehatan di puskesmas bekerja ekstra melayani ratusan siswa yang mengantre untuk diperiksa. Beberapa pelajar dengan gejala berat akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih intensif.
Fokus penyelidikan mengarah pada makanan dari program Makan Bergizi Gratis. Menu yang dibagikan saat itu terdiri dari nasi dengan opor ayam, oseng kangkung, tahu bacem, serta potongan melon. Kini makanan tersebut menjadi bahan uji laboratorium untuk memastikan sumber kontaminasinya.
Dinas Kesehatan Gunungkidul melalui Kepala Dinkes, Ismono, menegaskan proses identifikasi tengah dilakukan.
“Kami sudah kirim sampel makanan ke laboratorium. Hasilnya akan menjadi dasar penentuan penyebab pasti,” ujarnya.
Sampel diambil dari penyedia makanan di SPPG Planjan, Kapanewon Saptosari. Hasil penelitian laboratorium menjadi kunci untuk menentukan apakah ada bakteri atau zat berbahaya dalam sajian tersebut.
Orang Tua Datangi Puskesmas, Pemerintah Beri Respons
Sejak pagi Rabu, orang tua siswa memenuhi halaman puskesmas dan rumah sakit. Raut cemas tak bisa disembunyikan saat mereka menunggu kabar anak masing-masing.
“Kemarin anak saya masih sehat, tapi malamnya bilang mual. Pagi tadi saya dikabari kalau dia sudah dibawa ke puskesmas,” tutur seorang wali murid dari SMKN 1 Saptosari.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Gunungkidul memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG. Kepala Dinas Pendidikan, Nunuk Setyowati, menegaskan pentingnya pengawasan lebih ketat.
“Tujuan program MBG adalah memberi gizi, bukan membuat anak sakit. Ini akan kami selidiki sampai tuntas,” ujarnya.
Kondisi Berangsur Membaik, Pembagian MBG Ditunda
Menjelang Rabu sore, sebagian siswa mulai menunjukkan kondisi lebih stabil meski masih dalam pengawasan tenaga medis selama 24 jam.
Pihak Dinas Kesehatan juga mengimbau sekolah lain untuk sementara menghentikan distribusi makanan MBG sambil menunggu hasil laboratorium keluar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan makanan massal membutuhkan kontrol ketat, mulai dari penyimpanan hingga distribusi. Meski berniat meningkatkan gizi pelajar, kelalaian kecil bisa berujung pada risiko kesehatan serius.
Pemerintah daerah kini menunggu hasil uji makanan untuk menjawab pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat ratusan siswa di Saptosari tumbang setelah makan opor ayam dan tahu bacem itu.












