bernasnews — Beksan Trunajaya adalah Tarian klasik yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan strategi perang, merupakan yasan Dalem atau karya cipta Sri Sultan HB I yang terinspirasi dari latihan ketangkasan dan adu tombak para prajurit pada masa lampau yang dikenal dengan sebutan Watangan.
Tarian ini terdiri atas tiga bagian, yakni Beksan Lawung Alit, Beksan Lawung Ageng, dan Beksan Sekar Madura, yang masing-masing menggambarkan keberanian, keperwiraan, dan pengendalian diri.
Keunikan Beksan Trunajaya juga tampak dari penggunaan berbagai bahasa dalam dialog tari, seperti Jawa, Madura, Melayu, Bagelen, dan Bagongan. Ragam bahasa ini menggambarkan asal-usul para prajurit Keraton Yogyakarta yang datang dari berbagai daerah di Nusantara, sekaligus menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman budaya.
Demikian dikemukakan oleh Pimpinan Produksi RB Kumudhomatoyo dalam gelaran trilogi tarian klasik Beksan Trunajaya, bertempat di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta, Rabu malam (22/10/2025).
Menurutnya, watangan sendiri merupakan tradisi adu ketangkasan prajurit Mataram bersenjatakan lawung (tombak panjang), yang diiringi Gending Monggang dari Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Laut.
“Gamelan ini memiliki karakter suara menyerupai guntur yang melambangkan semangat, keberanian, dan kekuatan. Unsur inilah yang mengilhami lahirnya gerak dan irama dalam Beksan Trunajaya,” kata RB Kumudhomatoyo, dikutip dari jogjaprov.go.id.
Para penari mengenakan busana tradisional bernuansa merah dan emas, melambangkan keberanian dan kejayaan, serta menciptakan suasana megah di tengah kemilau cahaya Bangsal Pagelaran Keraton.
Pagelaran mahakarya seni tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I ini menjadi penanda peringatan Tingalan Dalem Taun, atau ulang tahun Sri Sultan HB X dalam penanggalan Jawa. Berdasarkan perhitungan tahun Jawa, Sri Sultan telah menapaki usia ke-82 tahun. (ted)











