bernasnews — Berdasar penilaian dari tim juri program Aku Hatinya PKK tingkat Kota Yogyakarta, Kelurahan Semaki dinobatkan sebagai wakil dari Kota Yogyakarta untuk maju ke tingkat DIY. Oleh karena itu, Tim Monitoring dan Evaluasi dari tingkat DIY mengunjungi Kelurahan Semaki, yang dipusatkan di Kampung Sanggrahan, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta, Kamis (18/9/2025).
Kelurahan Semaki merupakan kelurahan terakhir yang dinilai oleh Tim Monitoring dan Evaluasi dari tingkat DIY, yang berjumlah 6 orang yang dipimpin oleh Theo Suprapto. Rombongan Tim disambut oleh Ketua PKK Kota Yogyakarta beserta Wali Kota Yogyakarta, Mantri Pamong Praja Kemantren Umbulharjo beserta Jajarannya, Lurah Semaki beserta jajarannya, serta beberapa OPD terkait.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah menyiapkan segala sesuatunya dalam rangka menyambut kedatangan dari Tim Monitoring dan Evaluasi Hatinya PKK dari DIY.
“Segala potensi yang ada di Kelurahan Semaki yang terdiri dari tiga kampung, Kampung Sanggrahan, Semaki Gede dan Semaki Kulon ditampilkan untuk dibuktikan kepada Tim Monitoring dan Evaluasi, bahwa Kelurahan Semaki memang sudah benar – benar melaksanakan Hatinya PKK,” kata Hasto Wardoyo.
Pihaknya juga menyampaikan, masyarakat Kota Yogyakarta diharapkan bisa menerapkan Gerakan Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah. Berikut 5 langkah Mas JOS, yaitu:
- Pilah Sampah sesuai jenisnya
- Sampah Organik dibawa ke Bank Sampah
- Olah Sampah Organik
- Habiskan Makanan
- Gunakan wadah berulang
Selain gerakan Mas JOS, diharapkan Kelurahan Semaki juga menerapkan Aku Hatinya PKK yakni, Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman, yang merupakan unggulan. “Ayo mangan sing ditandur, nandur apa sing dipangan, iso nandur ngopo tuku. Mari kita budayakan itu di wilayah kita,” tegas orang nomor satu di Pemkot Yogya.
Menurut Hasto, untuk mendukung progam Mas JOS juga dikerahkan Satpol PP yang ada 650 orang yang akan ditempatkan di setiap RW guna mengawal agar sampah telah terpilah dengan baik. Juga setiap RW diberi dua buah ember besar kapasitas 25 kg untuk menampung sampah yang berasal dari dapur.
“Pasalnya 53persen sampah berasal dari dapur. Kita sudah bagikan 5.000 ember besar termasuk kepada penggrobak. Satu penggobrak dua ember besar dan kita juga kasih 600 gerobak baru,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Aku Hatinya PKK Tingkat DIY Theo Suprapto dalam paparannya mengemukakan, penilaian bukan semata mata mencari kejuaran tapi secara profil sudah disampaikan bahwa kegiatan ini hanya membuktikan dan mengecek ke lapangan apakah dari laporan yang dikirimkan kepada Tim sudah direalisasikan di lapangan.
“Kami hanya mencocokkan laporan profil yang dikirim di lapangan dan penilaian ini berjenjang sesuai progam PKK Pusat dan diadakan setiap tahunnya,” kata Theo.
Ia menambahkan, bahwa Kota Yogyakarta ke depan ada progam LUPA MASKOT, Lumbung Pangan Masyarakat Kota dengan harapan masyarakat nantinya benar-benar berubah dari ketahanan pangan menjadi kemandirian pangan.
“Ketahanan pangan masyarakat masih pasif dan konsumtif, hanya mengharapkan bantuan. Sedangkan kemandirian pangan masyarakat itu aktif dan produktif seperti nandur apa sing dipangan dan mangan apa sing ditandur,” bebernya.
Lanjut Theo, masyarakat nantinya benar – benar bisa mengurangi uang yang keluar untuk belanja tetapi kondisi kebutuhan dapur terpenuhi dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan yang ada untuk menanam sayuran atau memelihara unggas atau ikan walaupun dalam jumlah yang kecil.
“Kami juga berharap kepada Bapak Wali Kota Yogyakarta dan pak Mantri agar ada kelompok usaha Jampangmas atau Jaminan Pangan Masyarakat,” pungkas Theo Suprapto. (nun)












