bernasnews – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk periode 1–7 Agustus 2025 mencatat pertumbuhan signifikan pada Kubah Lava Barat Daya.
Volume kubah tersebut bertambah sekitar 90.500 meter kubik, sehingga totalnya kini mencapai 4.101.500 meter kubik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, mengonfirmasi bahwa suplai magma masih aktif. Kondisi ini berpotensi memicu awan panas guguran, terutama di sektor rawan bahaya.
“Siang hingga sore, kabut menutup puncak, menyembunyikan aktivitas yang kian intens,” ujarnya seperti diktuip dari kabarjawa.com.
Meski cuaca cerah sempat terlihat di pagi dan malam hari, puncak Merapi tetap mengeluarkan asap putih bertekanan lemah dengan ketinggian 25–375 meter.
Aktivitas Guguran Lava dan Awan Panas
Selama sepekan, BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran mengarah ke hulu Kali Krasak sejauh 800 meter.
Guguran lava juga teramati mengalir ke beberapa arah: satu kali ke Kali Boyong sejauh 1.800 meter, 31 kali ke Kali Krasak sejauh maksimum 1.800 meter, 14 kali ke Kali Bebeng sejauh 1.800 meter, dan 64 kali ke Kali Sat/Putih sejauh 2.000 meter.
Pemantauan udara dengan drone pada 7 Agustus 2025 mengungkap bahwa Kubah Barat Daya mengalami pertumbuhan nyata.
Sementara itu, Kubah Tengah tetap stabil dengan volume 2.369.900 meter kubik. Analisis termal menunjukkan suhu Kubah Barat Daya naik menjadi 247,4°C, meningkat 2,5°C dari sebelumnya. Kubah Tengah bertahan di suhu 218,6°C.
Getaran Seismik dan Pemantauan Deformasi
Seismograf merekam 1 gempa awan panas guguran, 9 gempa vulkanik dangkal, 730 gempa fase banyak, 1 gempa low frequency, 626 gempa guguran, dan 8 gempa tektonik. Jumlah ini relatif setara dengan minggu sebelumnya, menandakan suplai magma masih terjaga.
Pengukuran deformasi melalui EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan jarak signifikan antara titik pemantauan dan reflektor. Namun, BPPTKG menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan mengingat perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu.
Curah hujan tertinggi selama periode pengamatan tercatat di Pos Kaliurang pada 5 Agustus 2025 dengan intensitas 20,72 mm/jam selama 71 menit. Hingga kini belum ada laporan aliran lahar, tetapi potensi ini tetap ada jika hujan lebat terjadi di daerah hulu.
Status Siaga dan Peringatan Mitigasi
Gunung Merapi masih berada pada status “Siaga” dengan tipe erupsi efusif. Potensi bahaya utama yang diwaspadai meliputi:
- Guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
- Sektor tenggara meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
- Lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif berpotensi mencapai radius 3 km dari puncak.
BPPTKG merekomendasikan pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk memperkuat mitigasi bencana, menyiapkan jalur evakuasi, serta memastikan ketersediaan fasilitas darurat.
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona bahaya, mewaspadai potensi awan panas saat hujan, dan mengantisipasi kemungkinan abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas. (Eln)












