bernasnews — Pengolahan biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) menjadi sumber bahan bakar sebenarnya sudah tidak asing bagi masyarakat di Jawa. Pohon jarak diperkenalkan oleh bangsa Portugis dan Belanda, pada abad ke-17.
Kemudian dibudidayakan untuk berbagai keperluan seperti produksi minyak, herbal dan sebagai tanaman pagar. Tanaman yang dapat tumbuh di lahan kering ini, menurut cerita para sesepuh secara massif pernah dilakukan pada zaman penjajahan Jepang.
Oleh karena itu, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terus menegaskan perannya sebagai kampus penggerak perubahan melalui program “UNY Berdampak”, yang juga selaras dengan inisiatif nasional “Diktisaintek Berdampak” dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
Salah satu bentuk nyatanya berupa kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan biji jarak pagar menjadi sumber bahan bakar terbarukan, yang diselenggarakan di Pasar Blumbang Mataram, Wirokerten, Kabupaten Bantul, DIY.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Penugasan Guru Besar UNY dan melibatkan dosen Departemen Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY: Prof. Isana Supiah Yosephine Louise, Dr. Bernadetta Octavia, dan Heru Pratomo Aloysius, M.Si.
Juga bersama lima mahasiswa pendamping yaitu Ega Mas Rengganis, Millatul Maziidah, Ayunda Sukma Dewi Safitri, Dini Aprilia Saputri dan Khuswatun Hasanah, dengan peserta dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.), teknik pengolahan biji jarak menjadi minyak jarak melalui metode hidrolik dan soxhlet, hingga pembekalan kewirausahaan seperti pengemasan, penyimpanan, dan strategi pemasaran.
“Kami ingin program ini menjadi pemantik inovasi energi terbarukan yang berasal dari desa dan untuk masyarakat desa. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi langkah nyata untuk mendukung transisi energi bersih dan peningkatan ekonomi local,” kata Prof. Isana Supiah, dalam keterangan tertulis yang dikirim, Selasa (8/7/2025).
Ketua Desa Wisata Wirokerten Reva Bimo Nugroho, S.Tr.P mengemukakan, bahwa kegiatan pendampingan ini sangat bermanfaat dan sangat membantu membuka wawasan serta memberi keterampilan peserta terutama mengolah biji jarak menjadi produk minyak jarak.
“Kami sangat berharap adanya kegiatan sejenis di kemudian hari, terutama terkait produksi biodiesel skala industri, pengolahan ikan tawar pasca panen menjadi produk olahan seperti abon, nuget, bakso dan lainnya,” ujar Reva.
“Produk-produk yang memungkinkan dikemas dalam bentuk frozen food sehingga dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama dan dapat dipasarkan secara luas sehingga mampu meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat desa,” imbuhnya.
Melalui program ini, UNY tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memperkuat jejaring antara perguruan tinggi dan komunitas lokal, yang merupakan esensi dari “Diktisaintek Berdampak”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi nyata UNY dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam bidang energi bersih dan terjangkau, pemberdayaan masyarakat, dan pengurangan kemiskinan.
Dengan pendekatan kolaboratif antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat, program ini membuktikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menciptakan inovasi yang berdaya guna.
“UNY akan terus menghadirkan program-program pengabdian yang relevan, solutif, dan berdampak nyata bagi Masyarakat,” tegas Heru Pratomo Aloysius, dosen Departemen Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Rektor UNY atas dukungan penuh, serta Dekan FMIPA yang telah memberikan izin dan fasilitas,” ujarnya. (*/ ted)












