bernasnews – Setelah lebih dari dua dekade bergelut di bidang periodonsia (cabang dari ilmu kedokteran gigi yang mempelajari tentang struktur pendukung gigi, termasuk penyakit dan kondisi yang mempengaruhinya) Prof. Ahmad Syaify semakin menyadari bahwa ilmu kedokteran gigi bukan hanya soal gigi dan gusi.
“Ia adalah jendela yang memperlihatkan lanskap luas kesehatan manusia: dari pola makan, gaya hidup, imunitas, hingga hubungan psiko-sosial. Maka, menjadi dokter gigi hari ini—apalagi di tengah era penyakit kronis seperti diabetes—tidak bisa lagi dilakukan dengan kacamata spesialis sempit. Kita harus mulai berpikir sebagai dokter untuk manusia secara utuh, bukan sekadar dokter gigi.
Saya percaya bahwa Fakultas Kedokteran Gigi UGM Yogakarta dengan tradisi akademik yang kuat dan semangat ke-Indonesia-an yang kental, mampu menjadi pelopor dalam mengembangkan pendekatan interdisipliner yang integratif dan transformatif. Sebuah pendekatan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga mendidik, mencegah, dan memberdayakan.
Harapan saya, setelah pidato ini, semakin banyak kolega, mahasiswa, dan pemangku kebijakan yang tidak hanya paham soal Periodontitis Diabetika, tetapi juga tergugah untuk memperjuangkan kedokteran yang lebih manusiawi. Kedokteran yang tidak semata-mata berorientasi pada prosedur dan protokol, tetapi juga pada empati, kolaborasi, dan kesadaran akan kompleksitas kehidupan pasien,” kata dia.
Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio., Subsp.RIPD (K), FISID mengemukakan hal itu dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Medisin Periodontal pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di Balaisenat UGM Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (24/6/2025). Judul pidatonya adalah “Periodontitis Diabetika : Kompleksitas Penyakit dan Tantangan Multidisipliner”.
Sebelumnya, Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes. juga menyampaikan Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Epidemiologi dan Biostatistika Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi UGM Yogyakarta. Judul pidatonya adalah “Menjelajah Angka, Membaca Masa Depan, Peran Epidemiologi dan Biostatistika di Era Kedokteran Gigi Presisi”.
Setelah pidato pengukuhan jabatan guru besar itu, acara dilanjutkan dengan pameran lukisan dan puisi dalam tasyakuran bersama di Atrium Gedung OECF, Gedung FKG UGM.
Pada bagian lain Prof. Ahmad Syaify menyatakan sadar bahwa jalan menuju ke kedoktereran yang lebih manusiawi tidak mudah. Tapi bukankah kampus UGM—kampus kerakyatan—didirikan justru untuk menempuh jalan-jalan yang sulit, selama itu membawa manfaat bagi umat?
“Izinkan saya memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, yang mungkin terdengar sepele: ‘Seberapa sering kita menganggap kesehatan gigi dan mulut sebagai urusan pinggiran?’. Biasanya kita baru ke dokter gigi ketika sudah tidak tahan sakit. Itu pun sambil menyesal, ‘Kenapa ya dulu nggak rajin periksa gigi?’ atau ‘Kenapa ya sempat percaya iklan pasta gigi yang katanya bisa bikin jodoh mendekat?’ (ternyata malah bikin sariawan mendekat – mungkin karena tidak cocok).
Namun bagi kami yang berkecimpung dalam ilmu kedokteran gigi, terlebih lagi bidang periodontik, bidang yang mempelajari jaringan penyangga gigi, kami tahu bahwa masalah gigi jauh lebih serius dari yang tampak di cermin kamar mandi.
Banyak dari kita mungkin sudah sering mendengar ceramah yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Dalam ajaran Islam, disebutkan beberapa hadist tentang siwak/menggosok gigi. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi bersabda; “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu.” Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut dalam ajaran Islam.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Siwak membuat bersih mulut dan mendatangkan ridha Allah.” Anjuran ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mulut tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga memiliki nilai spiritual dalam Islam.
Meskipun sudah memperhatikan kesehatan gigi, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami hubungan antara berbagai penyakit. Bapak/Ibu/Saudara bisa membayangkan kondisi berikut ini: Seorang pasien diabetes mengeluhkan kadar gula darahnya yang sulit dikendalikan, meskipun sudah rutin minum obat dan menjaga pola makan. Di sisi lain, ada seseorang yang mengalami gangguan gusi berkepanjangan, tetapi tak menyadari bahwa itu bisa memperburuk kondisi diabetesnya. Pernahkah mereka berpikir bahwa dua kondisi ini bisa saling terkait?
Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk menyelami satu isu yang sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menyimpan kompleksitas luar biasa, baik secara biologis, klinis, maupun sosial, yaitu: Periodontitis Diabetika. Disini saya tak hanya ingin menyampaikan hasil penelitian dan kajian pustaka, tapi juga mengajak untuk berpikir lintas disiplin, lintas profesi, dan mungkin —lintas prasangka,” kata dia.
Ahmad Syaify mengajak membayangkan sebuah penyakit yang diam-diam merusak jaringan tubuh, tidak menimbulkan rasa sakit berarti, sering diabaikan, tapi pelan-pelan menggerogoti fondasi senyum kita —itulah periodontitis, radang pada jaringan periodontal atau jaringan peyangga gigi. Bila ia bersanding mesra dengan diabetes mellitus, lengkaplah sudah: pasangan duet maut yang sering tidak kita sadari, tetapi sangat berpengaruh pada kualitas hidup jutaan orang.
Kenyataannya, periodontitis seringkali dianggap masalah sepele. Umumnya pasien baru bergegas ke dokter gigi ketika gigi sudah “ngilu semua”, gusinya berdarah, atau giginya mulai goyang seperti ingin pensiun dini dari rongga mulut. Padahal, menurut berbagai studi, peradangan kronis di jaringan periodontal ini bukan hanya berdampak lokal. Ia memiliki konsekuensi sistemik —terutama ketika bertemu dengan kondisi metabolik kronis seperti diabetes (Preshaw dkk., 2012). Periodontitis merupakan komplikasi ke-6 dari diabetes, dikarenakan penderita diabetes sangat memungkinkan akan memiliki keluhan pada periodontalnya (Löe, 1993., Newman dkk, 2019).
Sebaliknya, diabetes juga dapat memperburuk periodontitis. Ini bukan hubungan satu arah, melainkan dua arah dengan kemacetan kronis di tengah-tengahnya. Kadar glukosa darah yang tinggi mempengaruhi fungsi sel imun, memperburuk inflamasi, dan memperlambat penyembuhan jaringan. Maka tak heran, pasien diabetes sering mengalami progresi periodontitis yang lebih cepat dan lebih parah (Newman dkk, 2019)
Yang menarik —atau sebetulnya memprihatinkan— adalah masih jarangnya pendekatan terpadu terhadap kondisi ini. Banyak pasien yang bolak-balik ke dokter penyakit dalam, tapi tak kunjung disarankan memeriksakan gigi dan mulutnya. Begitu pula sebaliknya, dokter gigi yang mungkin menangani periodontitis berat, tetapi tak menyadari bahwa pasiennya ternyata sudah lama hidup berdampingan dengan hiperglikemia (baca: diabetes).
“Inilah mengapa saya menyebutnya sebagai kompleksitas penyakit dan tantangan multidisipliner. Kita tidak bisa lagi memandang kesehatan gigi sebagai “wilayah otonom” yang berdiri sendiri. Gusi dan glukosa, plak gigi dan pankreas — semuanya saling berkaitan dalam tubuh manusia yang luar biasa rumit. Maka, pidato ini saya niatkan sebagai ajakan —atau mungkin sindiran halus— bahwa sudah waktunya kita keluar dari “kamar masing-masing” dan mulai bekerja sama lebih erat, demi pasien, demi ilmu pengetahuan, dan tentu saja demi generasi masa depan yang lebih sehat.
Di sinilah kita dihadapkan pada sebuah kompleksitas yang sering luput dari perhatian —sebuah hubungan dua arah yang berjalin berkelindan antara periodontitis dan diabetes. Dua penyakit yang jika dibiarkan berlarut-larut, akan saling memperburuk, menciptakan lingkaran setan yang menyulitkan pengobatan dan menambah beban kesehatan masyarakat. Dalam kaitan ini, anggapan bahwa dokter gigi hanya berurusan dengan cabut, tambal, dan kawat gigi perlu dikoreksi. Sebab kenyataannya, peran dokter gigi bisa jauh lebih luas dari sekadar hal tersebut.
Jika kita hanya melihat gigi sebagai benda putih di rongga mulut tanpa memahami hubungannya dengan tubuh secara keseluruhan, itu seperti melihat menara jam, tanpa menyadari ada mesin di dalamnya yang membuat jarumnya bergerak,” kata Prof Ahmad Syaify. (mar)












