bernasnews – Dari sebuah daerah sunyi di selatan Yogyakarta, tepatnya di Padukuhan Wareng 3, muncullah nama Veda Ega Pratama yang kini menggema hingga ke Eropa.
Putra dari pasangan Sudarmono dan Meilina Hananingsih ini menjadi sorotan setelah mencatat dua kemenangan gemilang secara beruntun di ajang bergengsi Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025, yang digelar di Sirkuit Mugello, Italia tanah kelahiran para legenda balap dunia.
Namun di balik kilau kemenangan itu, tersimpan perjalanan yang jauh dari kata mudah. Bukan dari akademi balap bergengsi, bukan pula dari sirkuit modern. Semuanya berawal dari tempat yang tak pernah diduga: lapangan parkir.
Awal Perjalanan: Lapangan Parkir Siyono, Sepatu Roda, dan Motor Kecil
Semangat Veda terhadap dunia balap ditanamkan sejak kecil oleh sang ayah, Sudarmono, yang juga pernah merasakan dunia balap. Alih-alih langsung ke sirkuit, mereka justru memulai dari lapangan parkir Pasar Sapi Siyono.
“Waktu kecil, dia suka lihat-lihat balapan. Saya lihat dia minat naik motor, lalu saya arahkan ke balap,” kenang Sudarmono.
Di tempat itu, Veda kecil berbagi lintasan dengan anak-anak yang sedang bermain sepatu roda. Tidak ada tribun, tidak ada pencahayaan, hanya semangat dan kemauan keras yang menjadi bahan bakar mereka. Veda sempat menjajal motocross 50 cc, namun akhirnya beralih ke road race di usia sembilan tahun.
Menapaki Jalur Profesional: Dari Bebek Nasional ke Program Honda
Langkah Veda semakin mantap saat berhasil memenangkan kejuaraan nasional kelas bebek. Prestasi ini membawanya masuk dalam program pembinaan Honda, sebuah jalur strategis yang telah mencetak banyak pembalap menuju ajang Asia hingga Eropa.
“Saya sendiri dulu juga pernah balap, jadi saya tahu kalau mau ke MotoGP harus lewat road race. Program Honda itu jadi jalan yang realistis,” ujar sang ayah.
Dari sini, Veda berpindah ke Asia Talent Cup, hingga akhirnya berkompetisi di Red Bull Rookies Cup, salah satu ajang paling bergengsi sebagai batu loncatan menuju MotoGP.
Ujian Berat: Cedera Patah Kaki dan Kemenangan Luar Biasa
Menjelang musim 2025, cobaan besar datang. Veda mengalami patah kaki saat berlaga di Portugal. Kejadian ini membuatnya harus pulang ke Indonesia untuk menjalani proses pemulihan.
“Baru satu bulan lebih sejak patah, dia sudah harus kembali balapan. Tapi dia tetap juara,” ucap Sudarmono bangga.
Yang mengejutkan, dengan kondisi kaki yang belum sepenuhnya pulih, Veda justru tampil sangat dominan di Mugello. Ia berhasil menyalip satu per satu pembalap dan menyelesaikan dua balapan dengan finis di posisi pertama.
“Di sana (Eropa), cuacanya ekstrem. Kadang dingin sekali. Adaptasi makanan dan rutinitas juga nggak mudah. Tapi Veda bisa lewati semua itu,” tambah Meilina, sang ibu.
Tinggal di Spanyol: Menyusun Langkah Menuju MotoGP
Kini, Veda menetap di Spanyol dengan visa pelajar. Negara itu dikenal sebagai pusat dunia balap motor karena infrastruktur yang sangat lengkap dan mendukung.
“Makanya, kita harus siap kalau mau bersaing,” tegas Sudarmono.
Meski terpisah jarak, komunikasi antara Veda dan keluarganya tetap terjalin erat. Diskusi seputar strategi balap, pola makan, dan persiapan mental selalu dilakukan secara intens, khususnya saat malam hari.
“Biasanya ngobrol malam hari, pas dia sudah tenang. Saya tidak ingin dia panik menjelang lomba,” tutur Sudarmono.
Peluang Tembus Moto3 Sebelum 18 Tahun
Menurut regulasi, pembalap harus berusia minimal 18 tahun untuk berlaga di kelas Moto3. Namun, ada dispensasi khusus bagi tiga pembalap teratas di Red Bull Rookies Cup untuk naik kelas lebih awal. Saat ini, Veda sudah berada di posisi tiga besar.
“Sekarang dia sudah di tiga besar. Tapi pesaingnya berat-berat, dari seluruh dunia. Kalau dapat dispensasi, ya itu keajaiban. Tapi kami tetap berdoa,” ungkap Sudarmono.
Gunungkidul Bersorak Bangga: Anak Desa Taklukan Dunia
Kemenangan Veda bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, melainkan juga kebanggaan kolektif masyarakat Gunungkidul.
Warga menggelar doa bersama, nonton bareng balapan, hingga memasang spanduk dukungan. Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, turut memberikan apresiasi.
“Veda membuktikan bahwa dari pelosok seperti Wareng, bisa lahir juara dunia,” kata Endang.
Kini, rumah keluarga Veda di Wareng 3 menjadi simbol harapan baru. Tempat yang sederhana itu melahirkan pebalap muda dengan ambisi dunia.
Ia menjadi cerminan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang ketika didampingi oleh keluarga, keyakinan, dan kerja keras.
Inspirasi Nasional: Anak Desa, Cita-cita Tanpa Batas
Kisah Veda bukan hanya soal motor dan sirkuit. Ia adalah gambaran perjuangan anak muda yang berani bermimpi besar.
Dari lapangan parkir di Siyono yang sunyi, ia kini berdiri gagah di tribun penuh sorak-sorai Sirkuit Mugello.
Dengan bakat, dedikasi, dan tekad tak tergoyahkan, Veda telah membuktikan bahwa impian besar bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana.***












