bernasnews – Krack Printmaking Collective akan menggelar pameran bersama bertajuk Cyborg! Prima Facie yang akan diselenggarakan pada 26 Juni 2024 hingga 25 Juli 2024 di Krack Studio, Minggiran, Yogyakarta.
Prima Facie dihelat sebagai upaya merespon gejolak revolusi digital membayangi kehidupan umat manusia di muka bumi. Terma cyborg merupakan singkatan dari cybernetics organism, yaitu sebuah entitas hibrida dari kategori kingdom animalia (manusia dan binatang) yang setengah bagian tubuhnya berupa mesin.
Kombinasi keduanya membentuk lanskap baru kehidupan, manusia tidak lagi mendaku diri sebagai pusat seperti tergurat dalam doktrin antroposentrisme, melainkan sebuah duni yang mungkin tidak pernah terjadi sebelumnya.
Bukan hanya berdampingan, manusia dan mesin akan saling berelasi, membuat keputusan-keputusan hidup, dan membentuk makna hidupnya di masa mendatang.
Melalui ruang pamernya, pameran Cyborg! Prima Facie ini menampilkan karya seni yang memberikan wawasan mengenai perkembangan teknologi hari ini yang dapat dinikmati oleh para audiens.
Pameran diselenggarakan melalui skema panggilan terbuka dari April-Mei 2024. Setiap seniman mengirim satu karya dan gagasannya yang dipresentasikan dengan ragam teknik cetak grafis, baik cetak konvensional atau digital.
Sebagai kolektif seni cetak grafis, menampilkan karya-karya ini menjadi cukup bermakna untuk terlibat secara aktif di medan seni rupa kontemporer dan membuka kemungkinan baru terkait seni cetak grafis yang salah satu wataknya reproduktif.
Melalui proses kurasi, 18 seniman terpilih dan terlibat pada pameran Cyborg! Prima Facie diantaranya adalah Zakaria Pangaribuan, Rere Siroj Hudansyah, Thy Atelier, Anthusa Agung, Hansen Martin (Fake Artist), I Gusti Ngurah Agung Pramana Wibawa, Rinaldo Hartanto, Rizziq Ramadhan, Andika Namaste,
Hafizh Aulia Hanani, Danang Wibisana, Muhammad Iqbal, Vito Ariyanto, MUTUMANIKAM, Rizca Wijayanti, Okta Samid, Isrol Medialegal, Kayto. Selain itu, Krack! Juga membuka penjualan karya dari karya para seniman yang dipamerkan yang dapat dibeli oleh audiens.
Para seniman terpilih memiliki latar belakang disiplin seni dan ideologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan itu memberi warna tersendiri (keunikan) dalam merespon tema percampuran manusia dan mesin.
Nadanya tak selalu sepakat dan tidak sepakat, tetapi terkadang justru reflektif, menggelitik-ironikal.
Pameran itu bertujuan untuk menerka masa depan umat manusia yang belum terjadi dan sedang menanti, menantang batas-batas yang sebelumnya dianggap tabu–manusia dihabisi mesin–menjadi sebuah keniscayaan masa depan yang masih terbuka. Pameran akan dihantarkan tulisan Putu Sridiniari, kurator dan pekerja arsip dari Indonesian Visual Art Archive (IVAA). (lan)












