Panghargyan Mangayubagya Tumbuk Yuswa Ke-80 Sultan HB X, KHP Nitya Budaya Kraton Yogyakarta Menggelar 3 Tarian Klasik Ciptaan Sultan HB X

Poster promo event pagelaran 3 bedhaya (tarian klasik) oleh KHP Nitya Budaya, Kraton Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Pada penghujung tahun 2023/Jimawal 1957, Sri Sultan HB X merayakan tumbuk yuswa (ulang tahun) ke-80 tahun. Di dalam terminologi Budaya Jawa, tumbuk yuswa dimaknai secara mendalam pada siklus daur hidup.

Bukan hanya sekadar usia yang disyukuri, namun hidup yang menghidupi ‘urip kang nguripi’ yang patut untuk dimaknai kembali. Pasalnya kehidupan adalah rentetan dari dharma bajik yang melahirkan rasa mulya dan mukti dalam satu kesatuan.

Merayakan 80 tahun usia dari Sri Sultan HB X tersebut, Keraton Yogyakarta menggelar rangkaian kegiatan dalam rangka mangayubagya bertajuk ‘Lenggahing Harjuno. Kegiatan diawali dengan pameran yang mengusung tajuk serupa Lenggahing Harjuno, Sultan, Tahta, dan Kedaulatan. Berlangsung dari bulan Oktober 2023 hingga 28 Januari 2024

“Dengan menampilkan kronik dari sosok pangeran muda BRM Herjuno Darpito hingga pelbagai capaian dan paradigma kebudayaan yang dicanangkan saat menjadi Sultan dan Gubernur,” kata Penghageng KHP Nitya Budaya GKR Bendara, dalam keterangan yang dikirim.

Sebagai puncak acara dan penutupan pameran Lenggahing Harjuno, Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Nitya Budaya kembali mengadakan seremonial sebagai wujud ucapan syukur telah diberikan kelancaran selama pameran diselenggarakan, berupa  menyajikan tiga karya seni ciptaan Sri Sultan HB X.

Tiga karya seni tersebut berupa pagelaran tari, yaitu Bedhaya Sang Amurwabhumi, Bedhaya Tirta Hayuningrat, dan Bedhaya Harjuna Wijaya, bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran, Komplek Keraton Yogyakarta, pada 26-28 Januari 2024.   

Bedhaya Sang Amurwabhumi merupakan tarian ciptaan (yasan Dalem) Sri Sultan HB X, yang pertama setelah dinobatkan sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 1989/ 29 Rajab Wawu 1921. Tarian klasik ini ditarikan oleh 9 penari secara lengkap dengan durasi waktu 2,5 jam.

Sementara, Bedhaya Tirta Hayuningrat yang ditampilkan pada 27 Januari 2024, merupakan tari yasan Dalem Sri Sultan HB X. Tari ini diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sultan HB X sebagai bentuk piwulang.

Pagelaran ini menjadi saat yang spesial dan bersejarah. Pasalnya untuk pertama kali Bedhaya Tirta Hayuningrat dapat disaksikan masyarakat di Pagelaran Keraton Yogyakarta. “Akan terdapat penyesuaian busana yakni menggunakan busana rompen berwarna biru, namun tetap menggunakan rias paes,” tutur GKR Bendara.

Sedangkan untuk Bedhaya Harjuna Wijaya yang akan ditampilkan pada hari terakhir yaitu pada tanggal 28 Januari 2024. Dari ketiga bedhaya pada Trilogi Bedhaya Sang Harjuna yang tampil pada penutupan Pameran Lenggahing Harjuno kali ini, Bedhaya Harjuna Wijaya ini termasuk asing di telinga masyarakat. “Lantaran lama tak ditampilkan. Berbeda dengan 2 bedhaya lainnya yang memiliki gending berlaras pelog, Bedhaya Harjuna Wijaya menggunakan gamelan slendro untuk iringan tarinya,” pungkas Putri Bungsu Sultan HB X. (*/ ted)