News  

Ini Tarian yang Ditampilkan ke Tamu Undangan Resepsi Dhaup Ageng Pakualaman Hari Kedua

Beksan Tyas Muncar yang ditampilkan di acara resepsi kedua Dhaup Ageng Pakualaman. (Foto : Media Pool Dhaup Ageng)

bernasnews – Dhaup Ageng atau pernikahan agung BPH Kusumo Kuntonugroho dengan Laily Annisa Kusumastuti telah sukses digelar sejak Rabu hingga Kamis (10 & 11 Januari 2024).

Adapun resepsi hari kedua berlangsung sangat meriah dimana dalam prosesi itu sebanyak 4.000 orang menjadi tamu undangan di Kagungan Dalem (KD) Bangsal Sewatama Puro Pakualaman. 

Pada acara terakhir pernikahan putra bungsu KGPAA Paku Alam X dan GKBRAyA Paku Alam X itu turut menampilkan sejumlah beksan (tarian) yaitu Běksan Tyas Muncar, Bedhaya Wasita Nrangsmu dan Lawung Alit. 

Panitia Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman Kanjeng Mas Tumenggung Widyo Hadiprojo mengatakan pada prosesi hari kedua ini pengantin mengenakan kain batik motif parang indra widagda dengan harapan agar pengantin bisa memegang teguh keteladanan bathara indra yang memerhatikan pendidikan bagi diri dan orang lain. 

“Pada resepsi ini ditampilkan tiga beksan tari, yaitu Beksan Tyas Muncar, Bedhaya Wasita Nrangsmu, dan Lawung Alit Beksan Tyas Muncar,” ujar dia.

“Beksan ini terinspirasi dari kecintaan permaisuri KGPAA Paku Alam X terhadap iluminasi dalam naskah kuno skriptorium Pakualaman yang kemudian dialihwahanakan menjadi motif-motif batik yang indah,” jelasnya. 

Sementara, Bedhaya Wasita Nrangsmu ditarikan oleh tujuh orang penari putri yang merepresentasikan tentang piwulang yang menjadi bekal bagi kaum perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Selain kesabaran, rasa sumarah, kasih sayang, seorang perempuan juga harus mampu menangkap pasemon ekspresi wajah suami dan anggota keluarga lainnya. 

“Seorang wanita utama harus berpijak mengikuti piwulang agar senantiasa meraih keselamatan, ketentraman serta sentosa jiwa raga,” katanya.

Kemudian pada beksan Lawung Alit diambil dari era Pangeran Notokusumo yang kemudian bertahta sebagai KGPAA. Paku Alam I (1812-1829) adalah putra Sultan Hamengku Buwana I. 

Di dalam Babad Pakualaman disebutkan bahwa tradisi pementasan Běksan Lawung yang ada di Kraton Yogyakarta dilestarikan di Pakualaman.

“Dinamakan Beksan Lawung karena penari memperagakan keterampilan menggunakan lawung tombak. Beksan Lawung Alit ini diperagakan oleh empat peraga sebagai prajurit yang sedang berlatih olah kanuragan dan empat peraga pengampil sebagai abdi dalem ploncon,” pungkasnya. (lan)