bernasnews – Dua belas tahun bagi usia manusia masih masuk kategori remaja. Pun pula dengan usia sebuah komunitas sastra. Namun bila melihat dinamika dan karyanya, 12 tahun bagi Sastra Bulan Purnama (SBP) yang telah membukukan seri ke-145, tentu patut memperoleh apresiasi tinggi. Secara konsisten, setiap bulan sekali selama 12 tahun ini, SBP berkarya. Rutin menerbitkan buku puisi, baca karya puisi dan diskusi dalam suasana kekeluargaan. Menurut koordinator SBP Ons Untoro, komunitas ini terbuka bagi berbagai kelompok sosial masyarakat.
Dalam mensyukuri 12 tahun usianya SBP menerbitkan dua buku bertajuk Antologi Puisi 12 Tahun Sastra Bulan Purnama Silaturahmi Sehati dan Oase di (Tepian) Kota – Kumpulan Esai 12 Tahun Sastra Bulan Purnama. Melengkapi penerbitan buku itu, diadakan diskusi buku di Balai Bahasa DIY hari Sabtu (14/10/2023) siang dan pembacaan puisi di Museum Sandi, Sabtu (14/10) sore harinya. Diskusi menghadirkan pembahas Simon HT, Matroni Muserang, dan moderator Indro Suprobo.
Editor buku Indro Suprobo selaku moderator diskusi menyampaikan beberapa hal yang menguat dalam dialog. Apakah komunitas sastra dapat menghadirkan dan menguatkan sisi kemanusiaan penyair, bagaimana komunitas sastra dapat berimplikasi kepada persoalan ekonomi, bagaimana mewujudkan sastra untuk semua, bagaimana keberlanjutan komunitas sastra ketika ketua komunitas pergi atau menghentikan pendampingan.
Selanjutnya juga disinggung tentang komunitas sastra yang memiliki daya bagi anggota. Daya itu berkat adanya perjumpaan yang dapat menjadi terapi dan nutrisi kebahagiaan bagi peserta lansia. Kemudian bagaimana upaya untuk menularkan semangat SBP ke komunitas-komunitas lain. Demikian pula tentang pengelolaan komunitas sastra yang bermula dari ide, perencanaan dan pelaksanaan yang harus konsisten dari waktu ke waktu.
Bukan hanya milik penyair
Ons Untoro mengatakan, penyair dan pecinta sastra tidak terpisahkan, dan puisi tidak sepenuhnya di ruang sunyi. Mengutip penyair Bali Waris Wisatsana dikatakan, SBP bukan hanya sebagai silaturahmi puisi, namun lebih substansial dari itu ialah silaturahmi sehati.
Oleh sebab itu, beragam orang dari latar sosial berbeda-beda saling bertemu dan puisi yang mempertemukannya. Dalam konteks ini, SBP boleh dikatakan bukan hanya milik penyair. Karena itu ada dokter, guru besar, dosen, disainer, guru, wartawan, pemain teater, perupa, jaksa, polisi, nirokrat, anggota DPR pun membaca puisi di SBP. Tentu saja, penyair yang utama tampil membaca puisi.
Bukan soal berapa orang yang hadir setiap pertemuan bulanan, dari 50 – 100 orang, yang dipentingkan. Melainkan pergaulan sastra yang membuat masing-masing terus berkarya, saling menumbuhkan kreativitas serta tidak lelah menulis puisi dan karya sastra lainnya. Selama Covid 19 melanda dunia, formula SBP diubah menjadi live di youtube sehingga orang dapat melihat dari mana saja, dan dapat saling berinteraksi langsung melalui chatting.
Sebanyak 42 orang penulis esai meramaikan buku Oase di (Tepian) Kota, mulai dari Adri Darmaji Woko (SBP, Teruslah Purnama) sampai Yuliani Kumudaswari (SBP di Persimpangan). Sedangkan buku Silaturahmi Hati disemarakkan oleh 98 orang penulis yang masing-masing menulis dua puisi. (mar)











