Pameran Biennale Jogja 17 : Menggali Inspirasi di Desa

Endang Lestari dan karya instalasi keramik dikolaborasikan dengan film dermaga Aceh. (Foto: Kiriman Praba Pangripta)

bernasnews – Biennale Jogja merupakan perhelatan pameran seni rupa di Yogyakarta yang mengakomodir potensi kreativitas dari pelaku seni dan aset budaya di DIY. Penyelenggaraan Biennale Jogja tahun 2023 sudah ke-17 sejak diselenggarakan pertama kali tahun 1988. Pameran dua tahunan tersebut melibatkan 60 seniman dan mengundang seniman-seniman dari berbagai negara antara lain: Turki, Rumania, Serbia, Slovenia, Bosnia, Herzegovina, Moldova, Slovakia, Hongaria, Ukraina, Nepal, Pakistan, India, Sri Lanka.

Uniknya, tempat penyelenggaraan  Biennale Jogja 17 tahun 2023 tersebar di berbagai tempat dalam dua wilayah Kalurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY dan Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY. Selain di Taman Budaya, Kota Yogyakarta, setidaknya ada 15 venu tersebar di dua desa atau kalurahan tersebut sebagai tempat pameran dari tanggal 6 Oktober hingga 25 November 2023.

Perhelatan yang diprakarsi oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) bertajuk “TITEN: Pengetahuan Menubuh, Pijakan Berubah” ini berupaya memunculkan alternatif melalui keragaman praktik seni rupa kontemporer. Para seniman telah melakukan riset sebelumnya di desa-desa, sehingga memperolah pengalaman yang berbeda-beda. Dalam kesempatan ini disediakan paket tur kuratorial, yakni anjangsana ke tempat pameran dengan rute perjalanan berbeda setiap pekan. 

“Desa berpotensi menjadi aset budaya, bahkan sudah banyak menjadikannya sebagai desa wisata yang indah dan menarik untuk selfi,” kata Melani dari Universitas Indonesia saat konferensi pers di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (4/10).

Desa terdapat banyak tradisi yang terpinggirkan, masyarakatnya sebetulnya juga sebagai seniman, bukan hanya penonton. Contohnya Monika Hapsari belajar kesenian gejog lesung di Panggungharjo selama dua bulan, dan kemudian menciptakan tembang-tembang baru yang merangkum sejarah desa. Seniman asal Turki Gunes Terkol bekerja dengan kain dan sulam bersama kelompok ibu di Desa Panggungharjo dan menciptakan karya bersama.

Masyarakat Panggungharjo, Bantul memegang teguh tradisi rumah ideal orang Jawa. Mereka mencoba mengembalikan fungsi lahan melalui terobosan kawasan budaya seluas enam hektar. Sejak tahun 2011 memadukan empat pilar Desa Mandiri, yakni: Desa Prima, Desa Preneur, Desa Wisata, dan Desa Budaya, disatukan dalam satu tata kelola di kawasan budaya bernama Karang Kitri. Areanya meliputi pendapa, plataran, pawuwuhan lan pangonan, kebonan, sengkeran, pamujan, dan lumbon. Bahkan upaya pengelolaan sampah secara mandiri, masyarakat sudah lama memfungsikan pawuwuhan. (mar/Praba Pangripta, pegiat literasi multimedia Yogyakarta)