Literasi Multimedia Bahasa Jawa

Animasi Tik Tok “Agustus” karya Praba Pangripta tahun 2022. (Foto : Dokumentasi)

bernasnews – Penggunan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu sungguh memprihatinkan, terutama bagi generasi muda dan anak. Pembiasaan dan kebiasaan berbicara atau bertutur, menulis Bahasa Jawa agar terus diupayakan. Jangan sampai hanya berdalih khawatir keliru mengucapkan atau menuliskan, karena dalam Bahasa Jawa terdapat strata menerapkan bahasa ngoko, krama, dan krama inggil terhadap subjek lawan bicara.

Keprihatinan penggunaan Bahasa Jawa perlu dicari upaya solusinya. Sasaran kepada kaum milenial dan generasi selanjutnya yang lebih dekat dengan dunia gadget, digital, dan entertainmen. Platform Youtube dan TikTok yang menyediakan video short dapat menjadi media literasi. Tak dipungkiri, masih banyak banjir konten sampah bersliweran yang tidak dapat dibendung. Maka, harus diimbangi dengan konten yang bermutu, mendidik, sekaligus menghibur.

Kosa kata Bahasa Jawa membanggakan

Kekayaan, keragaman kosa kata Bahasa Jawa sungguh membanggakan. Diksi yang sulit ditemukan dalam Bahasa Indonesia, dapat dicari sinonim atau padanan kata yang tepat dan lebih ringkas, diwakili satu kata dalam Bahasa Jawa. Contoh sederhana, penyebutan buah kelapa yang masih kecil dengan nama bluluk, yang agak besar bakal kelapa muda disebut cengkir, kelapa muda yang sering dimanfaatkan airnya disebut degan, yang sudah tua untuk diambil daghing buahnya disebut kambil atau krambil. Lalu, istilah daun kelapa cukup disebut blarak, bunga kelapa cukup disebut manggar.

Sasaran audience perlu pembelajaran penggunaan Bahasa Jawa dengan terjemahan (translate) langsung di atas atau bawahnya, sehingga cukup membantu memahami makna kalimat seutuhnya. Dialog teks yang biasa digunakan dalam balon komik, cukup jelas terbaca, apalagi diiringi isian suara membantu pelafalan. Hal tersebut dapat langsung dinikmati melaui layar hape format portrait (vertikal).

Penggunaan diakritik, yakni tanda baca di atas huruf, khususnya huruf ê, é, dan è masing-masing efektif dalam pengucapan ê untuk sêbêl (sebal), é untuk pengucapan kata lélé (ikan lele), è untuk pengucapan kata èlèk (jelek). Penggunaan huruf d dan dh, t dan th, a dan o, masih sering kurang tepat yang di-share dalam medsos. Pelafalan oral berbeda dengan penulisan secara tekstular, malah sering terbalik. Misalnya penggunaan kata sapa (siapa) masih sering ditulis sopo, kata aja ditulis ojo. Kata lara (sakit) ditulis loro (dua). Namun penulisan nama Joko Widodo, dalam pelafalannya Jaka Widada (a nglegena), Kulonpogo diucapkan Kulanpraga (a nglegena).

Tik Tok semula dianggap hiburan

Platform TikTok semula dianggap medsos hiburan semata bagi kalangan muda, kini banyak yang menggunakan sebagai media pendidikan dan komersial. Konten inovatif, kreatif, tutorial praktis, dan lain-lain dapat kita temukan dengan mengetuk keyword tertentu. Meski bersamaan akan bersliweran konten sampah, cukup di-skip saja.

Selain bahasa Jawa, produk budaya lain yaitu wayang perlu terus dikenalkan kepada generasi mendatang. Tokoh wayang punakawan atau panakawan yaitu: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menjadi sesuatu yang menghibur dalam gara-gara pementasan wayang tengah malam. Sang dalang sering menyisipkan pesan-pesan sosial dan moral melalui percakapan tokoh-tokoh lucu tersebut.

Implementasinya peristiwa sehari-hari dalam masyarakat dapat diangkat dan dikemas dalam bentuk animasi wayang. Dalam animasi terkandung unsur seni rupa, seni suara, seni dramaturgi, seni musik, sehingga dapat menjadi tontonan yang menarik dan bermutu jika digarap dan dipadukan dengan baik. Studi kasus, observasi, dan ketekunan mengikuti tren setiap hari sebagaimana dilakukan seorang jurnalis dapat menjadi sumber ide atau cantelan masalah.

Memasukkan unsur humor menjadi daya tarik tersendiri dalam membuat jalan cerita animasi. Namun, masyarakat juga perlu diberikan literasi humor yang bermutu dan tidak koden (laten atau mengulang-ulang). Humor dapat diciptakan, karena peran entertainer bagaimana meng-acak-acak dan mengecoh jalan pikiran audience. Setidaknya ada tiga teori humor yakni: keunggulan, ketidaksesuaian, dan pembebasan. Masih ada kecenderungan kepekaan humor (sense of humor) masyarakat masuk kategori teori pembebasan. Alasannya, mudah dicerna spontan dan nilai humornya kisaran hal berbau saru, plesetan kata, dan sesuatu yang rahasia atau tabu.

Animasi pada prinsipnya menggambarkan gerak. Artinya subjek dan barang diam diasosiasikan bergerak. Sebaliknya, pementasan wayang adalah menggerakkan gambar (tokoh wayang) sehingga seolah hidup. Apalagi setelah disertai lipsing ucapan dalang atau dubber (pengisi suara).

Perangkat lunak (software) pembuatan animasi 2 dimensi kini beragam: Toon Boom Harmony, Adobe After Effects, Adobe Premiere Pro, Anime; sedangkan untuk pembuatan karakter (modelling) dapat menggunakan Adobe Photoshop, Adobe Illustrator. Animasi 3 dimensi dapat menggunakan Blender dan 3ds Max. Software tersebut berbasis desktop komputer atau laptop, sedangkan penggunaan alat hape dapat memakai software Kinemaster, CapCut. 

Ilustrasi musik dapat menggunakan keyboard atau mencari musik yang gratis (download) dan tidak terkena hak kekayaan intelektual/hak cipta. Biasanya saat meng-upload akan ada verifikasi atau pemberitahuan dari pihak TikTok. Dubbing dapat menggunakan fasilitas alat perekam dalam hape, namun perlu memperhatikan faktor ruangan bebas gangguan, kalau perlu ruang kedap suara. Penggabungan animasi, memasukkan dubbing, suara musik, balon kata, dapat disusun mudah di software Adobe Premiere Pro.

Pembutan film animasi membutuhkan ketelitian, waktu yang cukup, dan peralatan yang memadai baik RAM komputer maupun media penyimpan, karena file-nya membutuhkan ruang penyimpanan harddisk yang besar, untuk mempercepat proses rendering. File besar tersebut dapat di-convert  agar lebih ringan saat di-upload tanpa mengurangi kualitas video. Untuk video kurang dari 200 MB dapat menggunakan software gratis melalui onlineconverter.com, sehingga besaran file dapat menjadi 1/3 nya. 

Harapannya melalui literasi multimedia, Bahasa Jawa terus lestari dan berkembang, serta dapat dikenal sepanjang zaman. Monumen karya kreatif dapat lebih tersebar luas ke segala penjuru dunia tanpa mengenal batasan geografis dan dapat diapresiasi semua bangsa. (Praba Pangripta, Kartunis dan Redaktur Senior Majalah “Literasi Guru”)